LOGIN
Dua bulan berlalu sejak hari pertunangan kami. Pikiranku masih diisi bayangan kedatangan calon suamiku, tapi kenyataan berbanding terbalik. Mas Arga tak pernah pulang dari Jakarta barang sebentar untuk menengok keadaanku.
Sibuk, katanya. Pesanku hanya dibalas singkat. Bahkan, pernah satu minggu dia sama sekali tak membalas pesanku yang hanya berisi kata-kata penyemangat kerja.
Hingga hari ini, aku memutuskan menyusulnya ke kota orang. Kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri: Jakarta.
"Lia, Uti mau bawain bekal untuk di jalan. Masih muat apa ndak tasmu?" tanya Mbah Utiku.
Mbah Uti, orang tua sekaligus satu-satunya keluarga yang aku punya. Aku anak yatim piatu yang tinggal di desa, sekolah hanya sampai SMA. Sehari-harinya aku membantu Uti membuka warung makan di dekat kebun perusahaan, dan Mas Arga adalah salah satu pekerja di sana.
Perkenalan kami singkat. Tahu-tahu Mas Arga datang dan memintaku menjadi istrinya tanpa kami berpacaran. Uti tampak senang cucunya akan dipinang orang baik.
"Penuh sama baju Lia, Ti. Sama... ini bawakan oleh-oleh buat Mas Arga," ucapku malu-malu.
Uti hanya tersenyum, lalu masuk ke kamar untuk mengambil sesuatu.
Tas besarku sudah siap di depan pintu. Secarik kertas bertuliskan alamat Mas Arga yang pernah ditinggalkannya sebelum berangkat ke Jakarta terakhir kali, jadi satu-satunya petunjuk yang bisa aku telusuri.
Becak Pakde Yanto tak lama datang. Wajah yang sudah mulai layu termakan usia itu masih tersenyum cerah saat mengayuh becak tuanya.
"Mau ngopi dulu apa ndak, Pakde?" tanyaku.
"Ndak usah. Perutku kembung. Kamu cuma ketemu sama Arga to, Nduk?"
"Nggih, Pakde. Lia cuma sehari di sana, langsung pulang lagi."
Ada perasaan lega yang tersirat di wajah Pakde Yanto, tapi aku tak mau ambil pusing. Mungkin dia tak tega melihat Utiku ditinggal lama-lama cucunya.
"Barangnya Lia sudah dinaikin ke becak, To?" tanya Uti pada Pakde Yanto. Dua manusia yang sudah sama-sama tua itu lantas berbincang sebentar.
"Lia, ini. Buat pegangan di jalan. Hati-hati sama tasmu," pesan Uti seraya memberiku uang sangu.
Setelah berpamitan, entah kenapa aku benar-benar sedih dibuat Uti. Wanita tua yang sudah seperti ibu bagiku itu melambaikan tangan terus sampai becak yang aku tumpangi hilang dari pandangannya.
Satu jam lagi aku akan sampai di Jakarta, dan satu yang aku sesalkan, Mas Arga belum juga membalas pesan yang aku kirim. Akhirnya, aku tiba di Jakarta.
["Mas Arga, aku sudah sampai di Jakarta. Apa bisa jemput aku di stasiun?"]
Tak ada balasan. Seperti pesan-pesanku yang lain.
Tiba-tiba saja perasaanku mulai berubah tak enak. Setelah menginjak tanah Jakarta, entah mengapa aku jadi takut.
Selepas keluar dari stasiun, aku berjalan sambil menenteng tas lusuhku. Beberapa kendaraan umum menawarkan tumpangan, tapi aku menolak. Suara klakson mobil berkali-kali mengejutkanku. Cacian, bahkan umpatan orang-orang bermata sangar, benar-benar membuat aku gemetar.
"Maaf! Maaf!" Kata-kata itu terus keluar dari mulutku, sampai tanganku tiba-tiba diraih seseorang. Ia menarikku minggir ke tepian trotoar dengan kasar.
"Maaf-maaf! Lanjut, Pak!" bentak seorang pemuda yang kelihatan seusia denganku. Dia memakai tas selempang berwarna putih, kemeja, dan celana jeans, serta mengalungkan headset di lehernya. "Lo kalau mau nyebrang liat lampu merah dong. Emang mau mati konyol?!"
"Sepurane, Mas. Saya ndak tau. Maaf," ucapku gelagapan, jantungku berdegup kencang.
Pemuda itu menghela napas, nada bicaranya melunak sedikit meski wajahnya masih datar. "Ya udah, gak apa-apa. Gue duluan ya! Fokus!"
Aku mengangguk sambil memegangi tasku erat. Tiba-tiba aku sadar, kenapa aku tak bertanya soal rumah Mas Arga pada orang ini? Dia kelihatan tahu jalan.
"Mas! Mas! Tunggu!" seruku sambil mengejarnya.
"Kenapa?"
"Saya mau tanya alamat ini. Apa Mas tau?"
Ia meraih kertas yang aku pegang, lalu alisnya mengernyit seketika.
"Tau. Lo mau ke sini?" tanyanya. "Emang alamat siapa?"
"Tunangan saya," sahutku.
"Calon suami? Kenapa gak suruh jemput aja?" nadanya meragukan.
Aku hanya mendengarkan laki-laki itu mengoceh, tapi dia justru yang membantuku menunjuk arah. Entah mengapa hatiku rasanya tenang.
"Ini jalannya. Kalau nomor rumahnya gue gak tau, tapi biasanya kontrakan di ujung jalan," jelasnya.
"Wah, terima kasih banyak, Mas."
"Gak usah. Gue duluan ya, masih mau ke kampus. Oh ya, undang gue kalau nikahan. Bye!"
"Terima kasih banyak, Mas!" seruku senang. Tapi tiba-tiba senyumku jadi datar. "Ngundang piye? Nama, alamat sama nomornya aja ndak dikasih."
Semangatku naik karena akan bertemu Mas Arga sebentar lagi. Karena orang baik tadi, aku jadi mengubah pandangan kalau tidak semua orang kota itu judes dan jahat.
Sama seperti orang kedua yang aku tanyai alamat Mas Arga. Dia ibu-ibu yang habis berbelanja di toko kelontong.
"Ini sih kontrakannya Haji Samin," ucap si ibu. "Neng cari siapa?"
"Arga namanya, Bu. Calon suami saya."
"Biasanya yang tinggal di sini pada berkeluarga. Gak tau ada yang bujang apa enggak. Ayo saya anterin."
Berkeluarga? Mendengar kalimat itu, tiba-tiba perasaanku tak enak.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke alamat itu. Ibu-ibu tadi yang namanya Bu Kemala menunjuk kontrakan yang berjejer. Dia memintaku memilih kontrakan mana yang ditempati calon suamiku itu. Tentu saja aku menggeleng tak tahu.
Bu Kemala mengetuk salah satu pintu dan bertanya pada tetangga sebelah.
"Arga? Yang suaminya si Dewi, bukan? Dia udah pindah setahun lalu. Katanya Arga dipindah kerja ke Jawa Tengah, terus anak istrinya dibawa ke rumah mertua."
Bu Kemala menoleh padaku. "Kata si Neng ini Arga itu calon suaminya."
Tetangga itu tertawa meremehkan. "Ah, gila tuh orang. Orang waktu tinggal di sini aja sering ribut sama bininya karena selingkuh. Mbak ini pasti mau dijadiin istri kedua, apa ketiga, keempat. Miskin aja sok punya istri banyak."
Aku masih tak percaya dengan apa yang aku dengar. Otakku membeku. Dunia serasa berputar. Satu-satunya cara untuk meyakinkan diri adalah menunjukkan foto Mas Arga di ponselku dengan tangan gemetar.
"Nah iya ini orangnya! Arga, suaminya si Dewi! Anaknya udah ada dua!"
Duniaku runtuh.
Tepat setelah kalimat itu muncul, pesan baru masuk ke ponselku. Itu dari Mas Arga. Bukan permintaan maaf, bukan penjelasan.
["Kamu di Jakarta?! Gila kamu! Sama siapa?! Sekarang di mana?!"]
"Tapi Pakde ndak pernah bilang sama Lia. Kenapa?" Kaki gadis itu lemas, tubuhnya ternyata tak siap menerima fakta kalau selama ini sosok ayahnya dirahasiakan. "Pakde bukannya ndak mau kasih tau, Nduk," jawab Pakde Yanto. "Memangnya siapa bapakmu?! Bapakmu sudah mati!" seru Uti, di depan wajah Rudi yang masih berharap Uti menghentikan sandiwaranya itu. "UTI!" pekik Lia. Seumur hidupnya, tak pernah sekalipun Lia melawan sang nenek, apalagi berteriak seperti sekarang ini. Dia masih takut karma kalau melawan orang yang lebih tua. Tapi kali ini lain, Lia kehabisan sabar melihat Uti yang selalu saja menolak memberitahunya soal Rudi. "Wes, Mbak. Sudahlah. Apa Mbak Yu ndak kasihan sama Nduk? Dia bingung," ucap Pakde Yanto, mencoba menembus tembok yang selama ini dipasang Uti. "Ngerti opo koe, To?! Aku ini yang besarkan dia! Aku! Bukan orang-orang kaya yang sudah buat anakmu mati! Apa kamu berharap cucuku juga ikut mati sama ibuknya hanya karena dia?! Begitu maumu, To!" seru
Beberapa jam sebelumnya ... Lia tampak canggung berada di satu mobil yang sama dengan Elang dan Rudi, padahal dia sudah bilang kalau dia bisa pulang sendiri ke desanya. Lia bersikeras kesehatannya sudah pulih. "Kamu lapar?" tanya Elang tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Lia, dia melirik berulang kali ke arah gadis itu dari kaca dalam mobil. "Ndak, Mas," sahut Lia. "Kita berhenti sebentar aja di rest area, Lang. Masih pagi begini sepertinya enak minum kopi," ucap Rudi. Dia duduk di samping Elang sambil menjaga pemuda itu menyetir. "Gak apa-apa kan Lia, kita berhenti supaya Elang bisa minum kopi dulu?" tanyanya pada Lia. "Nggih, Pak." Tanpa sengaja, mata dua sejoli itu saling bertatapan, cepat-cepat Elang menatap ke depan lagi, sementara Lia menundukkan kepalanya. "Aku padahal bisa pulang sendiri naik kereta. Kalau begini kan susah mau tidur," batin Lia. "Om sengaja mau antar kamu langsung, Lia. Mau sekalian minta maaf sama Uti-mu karena sudah buat kamu sakit. Apa Uti-mu m
"Uti katanya kenal sama Pak Rudi, ya?" tanya Liadengan polos."Kamu ngomong apa, Lia! Uti nggak kenal! Kalianpergi!" sentak Uti. Wanita yang sudah berusia lebih dari setengah abad itumemalingkan wajahnya dari hadapan Rudi."Saya Rudi, Bu." Tiba-tiba saja Rudi maju danberusaha meraih tangan Uti, tapi wanita itu malah menghempasnya begitu saja.Senyum tetap mengembang di wajah laki-laki yang sama sekali tak mendapatrespons baik dari Uti itu."Lia, masuk rumah. Istirahat!" ucap Uti."Yanto! Aku ndak jadi jualan, tutup saja warungnya!""Iya, Mbak," sahut Pakde Yanto."Uti, tapi Mas Elang sama Pak Rudi capek loh, Ti.Kasian mereka kan dari Jakarta, perjalanan jauh. Biar minum teh anget dulu, ya,Ti?"Uti memang tak bisa menolak permintaan cucu satu-satunyaitu.Setelah menikmati habis secangkir teh dan suguhan ubi rebusbuatan Lia, Elang dan Rudi merasa tubuh mereka segar kembali. Bayangkan saja,perjalanan begitu jauh untuk sampai ke desanya Lia. Apalagi Rudi memutuskanmereka berang
Rudi termenung dengan beribu pertanyaan di perjalananpulangnya dari rumah sakit. Ia pernah melihat kalung itu, kalung yangdikenakan Lia di lehernya. Persis seperti,"Kalung Ayu," gumam laki-laki itu. "Apa dia ?Ah, mana mungkin. Mereka pindah ke luar pulau, kata orang-orang di sana dulu.Tapi, dia memang mirip Ayu waktu muda."Sudah dua puluh satu tahun berlalu, tapi rasa itu tak pernahhilang meski mata Rudi tak pernah lagi melihat wanita bernama Ayu itu.Berkali-kali Rudi mencoba kembali ke desa, berkali-kali juga kegagalan yangmenemuinya."Siapa Lia ini?" gumam Rudi.Ia tak mau berlarut-larut begini. Rasa penasarannya tak bisadicegah. Rudi lantas menepikan mobilnya, meraih ponsel yang sejak tadi ada disaku celana.Rudi kembali menghubungi Elang untuk membuktikan siapa Liasebetulnya. Tapi, kebetulan itu terlalu aneh karena kalung yang dipakai Liahanya ada satu, khusus dibuatkan Rudi untuk Ayu.["Halo, Elang? Om bisa minta tolong kirimkan alamatgadis yang tadi? Segera, ya."]
"Sudah malambegini, apa Nduk nggak mengabari juga, Mbak?" tanya laki-laki tua yangtadi pagi mengantar Lia ke jalan besar untuk mendapat bus ke stasiun.Suasana desa yang sepi, ditambah hujan yang mengguyur sejaksore, membuat Uti memikirkan cucunya semata wayang itu yang kini ada di tanahorang.Bukan apa-apa, Lia jarang pergi jauh. Sekalinya jauh, yapasti cuma ke pasar dan sekolah. Meskipun bilangnya mau bertemu dengan calonsuaminya, tetap saja hati seorang nenek yang sudah seperti ibu bagi Lia itu taktenang."Aku ndak tenang, To," ucap Uti pada Pakde Yanto.Sambil menghembuskan asap rokok yang keluar dari cerutunya,Pakde Yanto tersenyum. Ia ingat sekali kejadian ini sama persis dengan saatAyu, anaknya Uti, pergi dari rumah.Bilangnya mau merantau ke kota mencari pekerjaan supaya bisamembawa ibunya keluar dari kemiskinan, tapi pulang-pulang justru membawaseorang bayi kecil di gendongannya.Harapan Uti sirna seketika itu juga. Dia membesarkan Liaseorang diri sepeninggal Ayu,
Namaku Adelia, dan hari ini aku baru tau kalau aku ternyatajadi selingkuhan suami orang."Jauh-jauh ke Jakarta dari Jawa Tengah mau apa,Sayang?" tanya ibu penjual soto yang melihatku makan lahap. Mungkin jugadia melihat air mataku yang menetes masuk ke dalam mangkuk soto."Mau cari kerja di sini, Bu," sahutku. Terpaksamulut ini berbohong karena bingung harus menjawab apa.Lama sekali aku menunggu Mas Arga yang katanya mau datangmenjemputku. Yang jelas, aku belum memberitahunya kalau aku sudah tau tentangkemunafikan laki-laki itu.Hatiku masih sakit memikirkan Uti di rumah. Bagaimana kalaudia tau Arga itu suami orang? Pantas laki-laki itu tak mau kalau teman-temankerjanya tau dia melamarku, takut ketahuan belangnya!Dulu alasannya karena tak mau teman-teman kerjanya itumengutang di warung Uti atas namanya, tapi dasar manusia licik! Ternyata diapunya bini dan anak.Sebuah sinar lampu motor mengejutkan mataku, seperti sengajatepat menyorot sebagai hukuman."Lia!" seru seseoran







