Wandi dan Arini berdiri di depan gedung. Udara malam Jakarta dingin, sedikit berdebu, tapi Wandi tidak merasakannya. Yang dia rasakan hanyalah getaran di sakunya, ponsel dengan saldo 25 miliar."Mas Wandi, Mas mau ke mana sekarang?" tanya Arini."Pulang, Rin. Aku harus tidur. Ini terlalu banyak untuk diproses dalam satu malam."Arini tersenyum. "Aku antar, Mas.""Gak usah. Naik taksi saja. Kamu juga pasti capek.""Mas, Mas sekarang punya 25 miliar. Mas naik taksi? Masa sih?"Wandi tertawa. "Belum terbiasa, Rin. Nanti juga terbiasa."Arini menggeleng-geleng. "Mas Wandi, Mas ini... unik. Orang kalau dapat uang banyak, langsung beli mobil, beli rumah, pamer di sosmed. Mas malah tenang.""Bukan tenang. Kaget. Tapi kagetku terbungkus rapi."Mereka berdua tertawa. Sebuah taksi lewat, Wandi menghentikannya."Mas, saya titip pesan," ucap Arini sebelum Wandi naik taksi."Apa?""Jangan lupa... Mas masih punya aku. Kalau Mas butuh teman, untuk berbagi suka dan duka, aku ada."Wandi menatap Arini
Last Updated : 2026-07-18 Read more