Pintu lift menutup perlahan di belakang Arini. Suara mekanik khas lift gedung perkantoran, suara kabel yang berputar, roda gigi yang saling mengait, dan angin yang tersedot dari celah-celah pintu, mengiringinya naik ke lantai 24. Biasanya, di waktu seperti ini, Arini akan membuka ponselnya, membaca ulang agenda meeting, memeriksa pesan-pesan dari timnya, atau sekadar menatap layar lift dengan ekspresi datar, mempersiapkan diri untuk menghadapi hari yang panjang.Tapi pagi ini berbeda.Arini berdiri di tengah lift, kedua tangannya memegang tas laptop di depan perutnya, seperti anak sekolah yang baru pertama kali masuk SD. Matanya menatap pintu lift yang mengilap, tapi tidak benar-benar melihat. Yang dia lihat adalah bayangan Wandi—wajah Wandi yang teduh, matanya yang dalam, bibirnya yang bergerak pelan mengucapkan tiga kata yang mengubah segalanya."Rin, aku cinta kamu."Arini menggigit bibir bawahnya. Senyumnya melebar. Tidak bisa dia tahan. Senyum yang muncul dari dalam hati yang pal
Last Updated : 2026-07-28 Read more