Tengah malam di markas Black Wolf, Jakarta, udara terasa sangat berat dan mencekam. Di lantai dua bangunan bengkel raksasa tersebut, terdapat sebuah ruang rapat VIP yang kedap suara, dihiasi sofa kulit asli dan meja marmer panjang. Ruangan itu menjadi saksi bisu dari eskalasi balasan yang kini tidak lagi menggunakan cara-cara bawahan.Wildan berdiri membelakangi meja, menatap keluar jendela kaca gelap yang mengarah ke jalanan ibu kota. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan asap kelabu mengepul di udara. Di belakangnya, Beno duduk dengan wajah tegang, sementara Sonia—sang pengacara elite berpenampilan tajam, duduk menyilangkan kaki dengan anggun sembari menatap dokumen di tabletnya."Indra Wiguna udah bawa Maya kembali ke Jakarta pagi ini," suara bariton Wildan akhirnya memecah keheningan. Nadanya sangat datar, namun aura wibawa dan pemimpin, lugas menguar pekat dari setiap suku katanya.Beno langsung emosi. “Emang jaksa bangsat! Terus kita nunggu apa lagi di sini, Bos?!"
Last Updated : 2026-08-05 Read more