Satu minggu berlalu sejak malam badai itu merenggut Maya dari pelukannya. Di Jakarta, rasa penyesalan yang membakar ulu hati Wildan perlahan mulai mendingin, membeku, dan bertransformasi menjadi bahan bakar murni untuk bangkit.Kepergian Maya sama sekali tidak membuat Wildan hancur dalam keterpurukan yang pasif. Pria itu tidak lagi memukuli dinding atau meratapi nasib di sudut gudang. Sebaliknya, insting prianya yang berpikir logika, kini bekerja dengan kewarasan yang sangat tajam dan presisi.Malam itu di dalam ruang kerja gudangnya, Wildan berdiri menghadap papan tulis besar. Matanya menatap tajam ke arah peta ibu kota dan sekitarnya yang dipenuhi ratusan coretan spidol merah.Beno melangkah masuk membawa dua gelas kopi hitam. Wajah tangan kanan Wildan itu terlihat kelelahan, namun tak berani mengeluh."Kopi, Bos," ucap Beno, meletakkan gelas di meja. "Anak-anak udah sisir area Jabodetabek. Kita juga udah ngecek ke data beberapa klinik bersalin pinggiran, tapi hasilnya masih nihil.
Last Updated : 2026-08-02 Read more