Share

BAB 11

Penulis: IRSADE
last update Tanggal publikasi: 2026-07-16 22:49:28

Ruangan sidang itu dinginnya bukan main. Dingin yang menusuk sampai ke sumsum. Bukan karena AC 16 derajat, tapi karena ratusan mata di dalamnya menelanjangiku hidup-hidup. Baunya mual. Kecampur bau kayu jati meja hakim yang udah minum keringat puluhan tahun, bau parfum mahal para pengacara, bau rokok yang nyelip di jas wartawan, dan bau logam dari borgol di tanganku.

_Tok. Tok. Tok._ 

Palu hakim menghantam tiga kali. Suaranya menembus gendang telinga. "Sidang perkara nomor 127/2026/PN.JKT atas nama terdakwa Macho Pratama, dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum."

Jantungku naik ke tenggorokan. Rasanya mau muntah. Borgol baja di pergelanganku berat, dingin, dan meninggalkan luka lecet. Baju tahanan oranye yang aku pakai basah di punggung. Bukan karena AC, tapi karena keringat dingin. Aku duduk di kursi pesakitan paling tinggi, di atas podium. Disorot lampu. Dipajang. Kayak maling ayam di pasar.

Di bawah sana neraka. Kamera TV nasional, kamera wartawan online, pulpen yang nulis tiap kedipan, dan lampu blitz yang meledak tiap tiga detik. Aku buta sebentar tiap ada cahaya. 

Dan di barisan paling depan, kursi kayu paling tengah. Citra.

Dia pakai kemeja putih polos yang sudah dicuci berkali-kali sampai tipis. Wajahnya pucat kayak kertas. Mata nya bengkak, merah. Tapi dagunya diangkat tinggi. Dia nahan. Buat aku. Sekali tatap itu dada ku dirobek. 20 tahun hidup miskin gak pernah sesakit ini.

Di seberangku, meja terdakwa. Pak Arman duduk santai. Jas hitam Tom Ford, dasi merah darah. Rambutnya klimis. Dia bersedekap, menyilangkan kaki, dan senyum. Senyum tipis yang bilang "ini cuma formalitas". Di sebelahnya Andrian. Keringatnya sudah basahin kerah kemeja. Matanya liar. Nyari HP. Nyari amplop. Nyari jalan keluar. Nggak ada.

Jaksa berdiri. Jasnya lurus, suaranya dilatih. "Yang Mulia, sesuai BAP, kami akan memutar barang bukti utama. Video durasi 8 detik dari TKP penangkapan."

Layar lebar 3x4 meter di depan turun pelan. Lampu ruangan redup. 200 orang di dalam sana menahan napas. Aku bisa dengar detak jantungku sendiri. Duk. Duk. Duk.

Klik. 

Gelap. 

Muncul. 

Itu aku. Kelihatan jelas. Baju lusuh, mata sembab kurang tidur, bibir pecah-pecah. Tangan gemetar memegang tas plastik hitam. Terus dari luar frame, tangan dengan jam Rolex nyodorin amplop coklat tebal. Suara serak, licin, masuk ke speaker. "Ini. Buat tutup mulut. Bilang kau yang mulai."

8 detik. 

Layar mati. 

Ruangan meledak. 

"ITU MACHO!" "PENIPU!" "MISKIN TAPI SERAKAH!" 

Kamera blitz jadi kayak petir. Wartawan berdiri, berebut. "Macho lihat sini!" "Bagaimana perasaan Anda!" 

Kepalaku pening. Telingaku berdengung. Aku pegang meja biar nggak jatuh. Di tengah kekacauan itu aku cari Citra. Dia nggak teriak. Dia nggak nutup muka. Dia cuma merem. Dua butir air mata jatuh. Pelan. Itu lebih tajam dari seribu pisau. 

Aku melirik ke Arman. Anjing itu malah senyum makin lebar. Dia tepuk tangan pelan. Dua kali. Mengejek. Andrian menunduk, berbisik cepat ke telinga Arman. Wajah Arman berubah. Senyumnya hilang. Diganti kerutan di dahi. Marah.

Hakim membanting palu. "TENANG! SIDANG INI BUKAN PASAR!"

Jaksa melanjutkan, nadanya menang. "Yang Mulia, video ini bukti kuat terdakwa menerima suap 10 miliar untuk mengalihkan kesalahan. Dan kami juga menghadirkan terdakwa sebagai saksi Justice Collaborator."

Semua mata ke aku. 

Darahku mendidih. 20 tahun jadi sampah. 20 tahun diinjak. Cukup.

Aku berdiri. Kursi di belakangku berdecit keras. _Ngeeeek._ Sunyi lagi. Aku menarik mikrofon. Dingin. Berat. Rasanya kayak pegang granat.

"Yang Mulia," suaraku keluar. Serak. Tapi menggmna ke tiap sudut. "Video itu benar. 8 detik. Saya menerima amplop."

Gaduh lagi. Aku lihat Citra. Matanya membesar. Kecewa. Hatinya hancur. 

Tahan. Napas. Tahan.

"TAPI!" suaraku naik. "Yang ngasih bukan saya yang minta! Yang nyuruh saya bohong di pengadilan, yang nyuruh saya fitnah orang tidak bersalah, itu dia!" 

Tanganku terangkat. Telunjukku lurus. Menusuk. Tepat ke dada Pak Arman. 

Dunia berhenti. 

Yang kedengeran cuma dengung AC dan napas 200 orang yang tertahan.

Wajah Arman mengeras. Senyumnya lenyap. Rahangnya mengunci sampai urat di lehernya keluar. Andrian di sebelahnya udah basah kuyup. Keringat netes dari pelipis ke jasnya.

"Dan saya punya bukti," lanjutku. Suaraku lebih tenang sekarang. Lebih bahaya. "Bukti yang tidak bisa dipotong jadi 8 detik."

Jaksa maju, meletakkan plastik bening di meja hakim. Di dalamnya HP iPhone. "Ini HP milik saudara Andrian. Pengacara terdakwa. Disita setelah kami menerima laporan."

Dia buka. Proyektor menampilkan ke layar besar. 

Foto pertama: Amplop coklat di atas tumpukan uang 100 ribuan. Masih ada pita bank. 

Foto kedua: Uang berserakan di lantai. Kursi terbalik. 

Foto ketiga: Wajah Andrian. Panik. Keringat bercucuran. Mata melotot. 

Ruangan kembali sunyi. Kali ini sunyi yang berbeda. Sunyi karena takut.

"CCTV di ruang pemeriksaan juga merekam," kataku. "Merekam saya dipaksa. Diancam. 'Kalau kau tidak mau, kau akan mati di penjara, anak jalanan'."

Aku berhenti. Dadaku sakit. Tapi aku teruskan. "Saya miskin, Yang Mulia. Saya lahir di kolong jembatan. Saya makan dari sampah. 20 tahun saya diinjak, diludahi, dibilang sampah masyarakat. Tapi saya manusia. Dan saya capek. Saya capek jadi anjing peliharaan orang kaya. Saya nggak mau tetap miskin. Tapi saya juga nggak mau kaya dengan cara jadi iblis."

Di akhir kalimat suaraku pecah. Bukan karena lemah. Karena amarah 20 tahun tumpah semua.

Aku lihat Citra lagi. Air matanya berhenti. Dia menggigit bibir bawahnya sampai putih. Lalu dia mengangguk. Pelan. Sekali. Itu cukup. 

Jaksa duduk. Hakim berbisik lama dengan hakim anggota. Aku bisa lihat Arman dari sudut mata. Dia memukul meja. Pelan. Duk. Tapi urat di tangannya naik. Andrian udah nggak bisa duduk tenang. Kakinya getar.

Akhirnya hakim mengetok palu. "Mempertimbangkan bukti baru dan keterangan saksi, majelis menunda sidang selama 7 hari. Status terdakwa Macho Pratama diubah menjadi Saksi Justice Collaborator dan akan mendapatkan perlindungan."

DUK.

Ruangan meledak. Wartawan histeris. "PAK ARMAN TANGGAPANNYA!" "MACHO ANDA HERO ATAU PENJAHAT!"

Dua petugas menarik lenganku. Menyeretku keluar lewat pintu samping. Lorong gelap. Dingin. Bau disinfektan. Kakiku lemas. Baru sekarang aku sadar aku menahan napas dari tadi.

Pak Hendra nyamperin. Wajahnya serius. "Kau gila," bisiknya. "Kau baru saja menusuk jantung singa di kandangnya sendiri."

Aku tertawa. Kering. Pahit. "Saya nggak punya pilihan, Pak. Mati diem dituduh, atau mati berisik sekalian bawa mereka semua."

Di ujung lorong, pintu terbuka. Pak Arman keluar. Dikawal 4 petugas. Dia berhenti. Menoleh. 

Dua detik. 

Matanya bukan marah. Bukan benci. Kosong. Dingin. Seperti kuburan. Bibirnya bergerak. Tanpa suara. Tapi aku baca jelas di bentuk mulutnya. 

"Lo. Udah. Mati."

Dia senyum. Sekali. Terus jalan. Punggungnya tegak. Tapi langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya. 

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Pak Arman takut.

Aku bersandar ke tembok. Menghela nafas panjang. 8 detik itu sudah lewat. Aku masih hidup. 

Tapi di kepalaku, aku tahu. Ini belum selesai. Ini baru babak satu. 

Dan orang seperti Arman, kalau sudah merasa terpojok... dia akan gigit balik. Lebih keras. Lewat penjara. Lewat Citra. Lewat orang-orang yang aku sayang.

Perang baru saja dimulai.

---

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 11

    Ruangan sidang itu dinginnya bukan main. Dingin yang menusuk sampai ke sumsum. Bukan karena AC 16 derajat, tapi karena ratusan mata di dalamnya menelanjangiku hidup-hidup. Baunya mual. Kecampur bau kayu jati meja hakim yang udah minum keringat puluhan tahun, bau parfum mahal para pengacara, bau rokok yang nyelip di jas wartawan, dan bau logam dari borgol di tanganku._Tok. Tok. Tok._ Palu hakim menghantam tiga kali. Suaranya menembus gendang telinga. "Sidang perkara nomor 127/2026/PN.JKT atas nama terdakwa Macho Pratama, dibuka dan dinyatakan terbuka untuk umum."Jantungku naik ke tenggorokan. Rasanya mau muntah. Borgol baja di pergelanganku berat, dingin, dan meninggalkan luka lecet. Baju tahanan oranye yang aku pakai basah di punggung. Bukan karena AC, tapi karena keringat dingin. Aku duduk di kursi pesakitan paling tinggi, di atas podium. Disorot lampu. Dipajang. Kayak maling ayam di pasar.Di bawah sana neraka. Kamera TV nasional, kamera wartawan online, pulpen yang nulis tiap ke

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 10

    Sepi di ruangan ini rasanya kayak di gantung. _Tik_ _tik_ _tik_ Dari lampu neon di atas menusuk ke ubun-ubun sampai kepala ku pening. Cahaya putihnya nyorot ke mata, bikin penglihatan ku kabur di pinggir. Keringat dingin turun dari pelipis, masuk ke leher, lengket. Bau badan ku sendiri kecampur bau karat dari borgol. Mual. Aku tahan. Gak boleh goyah. Begitu goyah, aku mati.Pintu kebuka pelan. _Ngek_Masuk laki-laki. Jas abu-abu, klimis, tanpa satu lipatan pun. Dasi biru dongker. Sepatu ngelap sampai bisa buat ngaca. Rambutnya disisir ke belakang, licin pake minyak. Wangi parfumnya nyekrek, mahal, menusuk ke hidung bikin mual. Tipe orang yang kalau jalan, lantai ikut ngalah.Dia duduk tanpa permisi. Kursi berdecit. Naruh tas kulit coklat di meja. Kulit asli. Ada logo emas kecil di pojok. Dorong pelan sampai berhenti pas di depan borgol ku. Jaraknya cuma sejengkal. Dia memandangku dengan tersenyum. Senyum yang gak nyampe ke mata. Mata nya dingin. Menilai. Seolah-olah aku ini be

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 9

    Sirine masih meraung-raung. Kerumunan begitu mengganggu. Tapi di kepala ku lebih berisik. Dengung. Kayak ada lebah di dalam batok kepala. Muter kayak tawaf dengan berbagai macam celotehan yang entah apa isinya. Berisik. Kotak hitam itu sudah bukan di tangan ku lagi. Tapi telapak tangan ku masih ngerasain beratnya. Dingin. Lengket. Kayak habis memegang mayat. Ada ketakutan dan waspada. Jari ku gemetar. Gak berhenti. Bahkan menjalar sampai ke jiwaku. Aku gigit bibir bawah sampai terasa asin. Darah. Menetes pelan. Tapi aku tak peduli. " BORGOL! " Tangan ku di sentak ke belakang. Sendi bahu bunyi. Krek. Dingin besi nempel di kulit. Klang. Jiwaku meronta. Jepretan blitz saling susul menyusul. Silau. Tanganku ingin berontak. Tetapi… Ketat. Terlalu ketat. Menggigit ke tulang. " Nama! " Teriak petugas. Ludahnya kena pipi ku. Aku gak mengelap. Gak berani gerak. " Macho. " Suara ku serak. Pecah. " Umur! " " 20. " 20. Angka itu mental di kepala. 20 tahun. Harusnya m

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 8

    Suasana sepi mencekam. Bukan sepi biasa. Sepi yang bikin telinga berdenging. Sepi yang bikin kamu mendengar detak jantung sendiri.Kotak hitam itu masih di tengah meja. Persegi. Polos. Gak ada merek. Gak ada gembok. Tapi rasanya kayak bom waktu. Satu sentuhan bisa meledak dan mengubur kami semua.AC nyembur dingin sampai ke tulang. Tapi keringat di pelipis kami berempat ngalir terus. Menetes ke kerah kemeja. Basah. Arman duduk paling ujung. Nyender. Jasnya dibuka satu kancing. Di tangannya gelas whiskey. Es batunya sudah cair semua. Dia puter gelas itu pelan. Bunyi _kletek kletek_Bunyi kecil yang di ruangan ini seperti kedengaran kayak palu godam. Bianca di sebelahnya. Dress merah marunnya udah kusut. Lipstiknya luntur di sudut bibir. Jarinya mainin ujung kain sampai buku jarinya putih. Dia gak nangis. Belum. Teddy nunduk. Dahi hampir menyentuh meja. Napasnya pendek. Deni duduk di sebelahku. Ngunyah kukunya. Ujung jari telunjuknya udah berdarah. Ivan paling jauh. Ma

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 7

    Tok. Tok. Tok. Suara ketukan itu masih nempel di pintu. Berat. Sabar. Kayak orang yang tau kita gak akan kemana-mana.Aku gak gerak. Bianca juga gak gerak. Kami cuma saling pandang lewat cahaya biru dari laptop. Di layar masih kebuka folder itu. BUKTI ARMAN. Di luar, bayangan dua orang lewat di celah bawah pintu. HP di saku getar lagi. Pesan dari Citra. "Sayang kamu dimana? Aku kangen."Aku buang napas. Pelan. "Siapa mereka?" bisikku. Bianca geleng. Rambutnya nutupin setengah wajah. "Anak buah Arman. Atau orang Riko. Sama aja.""Terus folder ini?" "Asuransi," kata Bianca. "Kalau suatu hari dia buang aku."Aku mau jawab. Tapi pintu bergetar. Dorongan dari luar. "Kami tau kalian di dalam," suara dari luar. Datar. "Buka. Baik-baik."Bianca berdiri. Jalan ke nakas. Ngambil sesuatu. Flashdisk kecil. Dimasukin ke genggaman. Terus dia liat aku. "Kamu percaya aku?" Aku diem. "Jawab!." "Aku gak tau harus percaya siapa."Bianca senyum. Senyum yang capek. "Bagus. Berarti kamu masih

  • PESONA LELAKI PLUS-PLUS   BAB 6

    Hujan baru reda. Taman Simpruk baunya tanah basah. Di kejauhan masih ada suara motor lewat. Lampu taman yang di tengah nyalanya kuning kotor. Nyorotin bangku kayu yang catnya mengelupas. Di sebelahnya ada genangan air.Aku udah duduk duluan. Bukan karena berani. Karena kalau aku telat, aku takut dia pergi. Dan kalau dia pergi, berarti aku habis.Di pangkuan ada map kosong. Di saku ada HP yang sudah aku matikan. Di kepala cuma satu nama yang muter. Arman.Langkah kaki dari belakang. Pelan. Mantap. Arman muncul dari balik pohon. Jas hitam. Bahannya jatuh bagus. Dasi sudah dilepas, dikantongi. Dua kancing kemeja paling atas dibuka. Di tangannya gak ada apa-apa. Di belakangnya, agak jauh, ada satu orang. Jas juga. Kacamata hitam. Tangan masuk saku. Dia gak liat aku. Tapi aku tau dia mengawasi.Arman duduk. Gak basa-basi. "Jadi?"Suara dia rendah. Kayak ngomong dari dada. Aku nelen ludah. Tenggorokan rasanya kayak ada pasir. "Pilihan kedua. Saya ikut Bapak."Arman nengok. Matanya cokl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status