Lasmi bergeming, ia tidak merespon tatapan hancur dari putrinya itu. Ia tetap berdiri tak acuh dengan ekspresi dingin dan masa bodoh dengan apa yang Marfa dan Vian rasakan. Sejak dulu, Marfa selalu dianaktirikan di rumah ini. Bapaknya begitu membanggakan dan menyayangi Arman sebagai putra sulung, sementara Ibunya sangat memanjakan adik-adiknya. Marfa berada di tengah—sendirian, hanya dianggap beban yang merepotkan. Apalagi saat statusnya masih janda beberapa waktu lalu, Marfa benar-benar diperlakukan tak ubahnya sebuah aib keluarga yang harus disembunyikan."Bapak, sudahlah. Kalau Mbak Marfa tidak mau bantu cuci piring, suruh saja dia di depan catat buku tamu," sela Lely, adik perempuan Marfa yang baru saja lulus SMA.Gadis itu berdiri bersedekap dada dengan wajah meremehkan. "Sekarang kan sudah jadi orang kaya, mana mau dia pegang-pegang barang kotor--""Lely! Mbak tidak begitu, ya!" potong Marfa, suaranya meninggi. Ia jauh lebih berani menghadapi adiknya dibanding saat berhada
Last Updated : 2026-08-22 Read more