“Ste, aku keluar bentar, ya? Sepertinya kamar kamu sudah siap, biar kita pindah kamar yang lebih lega,” ujar Sean seraya membenahi posisi selimut Stella dengan gerakan yang begitu tangkas dan tenang.“Tidak perlu repot, Sean.” Tolak Stella datar, matanya enggan menatap pria di hadapannya. “Aku sudah nyaman di sini.”“Stella, kalau kau merasa kecewa padaku, dan sakit hati karenaku, aku mohon, kesampingkan dulu semuanya sampai kamu benar-benar sembuh. Setelah kamu sembuh, kamu boleh melampiaskan semua perasaanmu padaku.” Tegas Sean mendominasi, nada suaranya berat tanpa memberi ruang untuk perdebatan.Stella menghela napas pasrah, memalingkan wajah ke arah jendela. “Terserah padamu, aku cuma gak mau terlalu banyak menyulitkanmu dan membuatmu keluar banyak uang karenaku.”Seketika Sean menggenggam jemari tangan sang istri. Genggamannya hangat, kuat, dan mantap. “Jangan begitu, Sayang. Kamu istriku, soal uang aku tidak pernah keberatan sama sekali. Aku akan memberikan yang terbaik untukm
Last Updated : 2026-08-27 Read more