بيت / Romansa / Istri Galak Sang Presdir / Bab 2. Sesuatu yang Tak Terduga.

مشاركة

Bab 2. Sesuatu yang Tak Terduga.

مؤلف: Laut
last update تاريخ النشر: 2026-08-14 12:00:45

‘Waduh, apa aku masuk nominasi ya?’

Felicia meremas tangannya. Dadanya berdebar.

Ruangan hening, mereka menanti pengumuman dari Ms Carlota dengan perasaan was-was.

Tanpa sengaja, mata Felicia dan Barney kembali bertemu. Felicia melotot dan melengos lalu bergumam pelan seperti komat-kamit. “Ngapain sih liat-liat?! Nyebelin banget!”

Wajah tampan Barney berpaling sambil mengulum senyum tipis.

‘Mau diliat dari mana juga, pasti aku yang terpilih.’ Barney membetulkan letak duduknya dengan percaya diri tinggi.

“Keputusannya, saya akan mengirim dua tim.” Pandangan Ms Carlota menyapu seluruh ruangan, kemudian melanjutkan, “Satu tim, dua orang.”

Felicia memegang dada. Dia merasa denyut nadinya berdetak lebih cepat. ‘Oh Tuhan, semoga aja aku juga terpilih.’

Debar jantung para peserta meeting juga terdengar lebih keras dari suara mesin pendingin ruangan. Setiap peserta merasa memiliki peluang besar untuk bisa terpilih.

Ms Carlota menatap wajah anak buahnya, lalu dengan tegas beliau mengatakan,” Kelompok satu terdiri dari Felicia dan Celine.”

Felicia membelalak kemudian tersenyum lebar. ‘Duh! Terima kasih banget Tuhan!’

Perasaan lega menyeruak memenuhi hati Felicia. Dia meremas tangan kuat-kuat. Kemudian ia menengok ke tempat duduk Celine.

Partner satu tim-nya itu tengah menutup mulut seolah tak percaya dengan apa yang didengar. Matanya membulat dengan senyum lebar di wajahnya.

“Lalu, kelompok dua. Kamu, Barney, dan Robert.” Ms Carlota tersenyum penuh antusias.

Mendengar itu, Barney melemparkan satu tangan yang terkepal ke udara, penuh kemenangan. “Yes!”

Entah ada apa dengan Felicia dan Barney, karena mata mereka kembali bertabrakan, seolah secara insting mencari satu dengan yang lain.

Felicia segera membuang muka dengan kesal. Pikirnya, ‘Duh! Kenapa mesti bareng tikus curut itu sih!’

Barney yang merasa senang, tak peduli dengan sikap Felicia.

‘Aku buktiin bahwa teori dan strategiku pasti lebih matang!’ Mata indah pemuda itu menatap Felicia dengan semangat sembilan puluh sembilan persen, seolah menantangnya.

Felicia hanya bisa menggertakkan gigi, kesal karena tidak mungkin membalas pandangan angkuh Barney dan membuat keributan di tengah rapat.

Kemudian, Ms Carlota menutup keputusannya. “Buat kalian berempat, saya tunggu kabar baiknya.”

Pertemuan hari itu berjalan dengan lancar. Semua peserta rapat segera meninggalkan tempat.

“Fel!” panggil Celine dari belakang. Wajahnya tampak berseri.

Felicia yang berjalan di depannya langsung menengok ke belakang. Senyum menghias di wajahnya.

Celine berlari kecil dan menggelut manja lengan Felicia. “Aku nggak nyangka loh bisa berangkat bareng kamu!”

“Iya, kita harus susun strategi untuk ngalahin program tikus curut itu,” ujar Felicia sambil menepuk pelan tangan Celine.

Celine melonggarkan lengannya dan menatap Felicia dengan mimik lucu. “Tikus curut? Sekarang jadi tikus curut ya si Jack?”

Felicia menutup mulut, dia kelepasan bicara. “Eh?! Uhm … kita bahas yang lain aja, Cel!”

Celine terkikik mendengar jawaban Felicia.

Mereka berjalan bersama menuju ruang kerja sambil merancangkan apa saja yang akan mereka kerjakan untuk proyek mendatang.

Jarum jam di dinding seakan berlari. Tiba-tiba saja waktu sudah menunjukkan pukul dua belas tepat. Suara bel tanda istirahat terdengar di tiap ruangan.

Wajah Celine berseri, dia langsung bersemangat. “Akhirnya! Ke ruang makan yuk, Fel! Laper nih.”

Namun, Felicia masih fokus pada layar laptopnya. “Duluan gih! Aku masih harus kelarin ini. Tanggung, kurang dikit.”

“Oke. Aku tinggal ya,” pamit Celine.

Felicia hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh dia yakin Celine melihat gerakan kepalanya itu.

Pintu ruangan telah tertutup, langkah kaki Celine terdengar semakin jauh.

Tak lama setelahnya, Felicia menepukkan kedua tangan. Senyum merekah di bibirnya. “Yes! Akhirnya rampung juga.”

Wanita cantik itu merapikan peralatannya dan segera berjalan keluar sebelum jam makan habis. Langkah Felicia cepat menyusuri lorong hingga tiba di depan lift.

“Hei! Tunggu aku!” teriaknya begitu tahu pintu lift akan segera ditutup.

Namun, tiba-tiba seorang karyawan lain berlari dan menabrak hingga Felicia hampir jatuh, lalu mendahuluinya masuk. Dia adalah Sofia.

Felicia menoleh, wajahnya menjadi geram. “Eh, Sof! Sopan dikit kenapa?!”

Wanita itu berdiri di dalam lift sambil mengedikkan bahu dan tersenyum miring membuat Felicia semakin kesal.

Namun, ternyata lift kelebihan muatan. Pintu tidak bisa ditutup.

Seketika rasa kesal Felicia hilang. Dia tertawa keras. “Hahaha! Rasain! Sama aja, endingnya kamu harus keluar juga!”

Wajah Sophia penuh emosi. Dia melihat seorang kakek yang berdiri di dekatnya. Lalu dengan kasar mendorongnya. “Sana keluar dulu, Kek! Ini kantor bukan tempat lansia!”

Kakek tak mengira akan mendapat perlakuan kasar hingga tubuhnya terhuyung keluar lift. Posisi kaki yang tidak seimbang membuatnya jatuh.

Felicia membelalakkan mata dan segera berlari menolong si kakek. Wajahnya penuh kekhawatiran. “Astaga! Sini aku bantu, Kek. Apa ada bagian yang sakit?”

“Tak ada yang sakit, Nona, terima kasih,” jawab kakek itu sambil berusaha bangun.

Felicia mencoba menjadi tumpuan sang kakek untuk berdiri. Setelah kakek itu bisa stabil berdiri, dia berjongkok dan mengebaskan celana kakek yang terlihat kotor di bagian bawah.

Dengan tatapan tajam yang tertuju pada Sophia, Felicia membentak, “Heh! Bisa-bisanya dorong orang tua! Harusnya kamu yang keluar! Ayo minta maaf!”

Sophia yang memang selalu iri atas pencapaian Felicia itu mencibir, “Suka-suka aku! Ini kantor bukan tempat penampungan! Ngapain juga udah tua masih keluyuran di sini!”

Wajah Felicia mengeras mendengar kata-kata kasar rekannya. “Jaga sikap. Cantik aja nggak guna kalau nggak ada akhlak! Cepat minta maaf!”

Sophia tidak berniat minta maaf. Dia tetap berdiri di sana dan tangannya menekan tombol. Pintu lift menutup perlahan.

“Urus urusanmu sendiri! Nggak usah ikut campur urusanku!” kata Sophia sebelum lift benar-benar tertutup.

Felicia geram melihat kelakuan perempuan itu. ‘Bisa-bisanya ada orang kayak dia!’

Karena tak bisa lagi menyuruh Sofia minta maaf, Felicia memutuskan berbalik pada sang kakek yang masih menggandeng lengannya.

“Maaf ya, Kek. Temen saya emang agak-agak,” kekeh Felicia canggung. “Ayo, Kek! Saya anterin ke ruang kesehatan.”

Namun, sang kakek tersenyum dan menolak, “Saya tidak apa-apa kok, Nak. Kamu kayaknya tadi sibuk. Lanjutkan pekerjaan kamu aja!”

“Beneran, Kek?” tanya Felicia memastikan.

Kakek menganggukkan kepalanya lagi. Matanya tak lepas menatap Felicia.

Felicia melirik jam tangannya, alisnya mengkerut. Ada cemas yang terlihat jelas. “Saya boleh lanjut kesibukan saya, Kek?”

“Iya, Nona. Tenang saja,” jawab kakek. “Terima kasih ya!”

Felicia kembali mengangguk dan berlalu.

Namun, si kakek tiba-tiba teringat sesuatu. ‘Astaga! Kenapa aku tidak tanya namanya?!’

Pria tua itu tak mungkin lagi berteriak memanggil Felicia. Karena gadis itu sudah melangkah jauh.

Kakek tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Hahaha! Anak yang baik. Cocok untuk anak bengal itu.”

Setelah kembali menaiki lift, si kakek tadi naik ke lantai teratas. Dia duduk berhadapan dengan cucunya.

“Kakek tadi ditolong perempuan cantik. Kamu cari dia! Dia di divisi iklan. Aku punya rencana untuknya!”

“Hmm. Cantik, divisi iklan. Siapa ya?”

Setelah beberapa saat berpikir, mata Barney melotot. “Jangan bilang kalau itu—”

Dia tak berani melanjutkan tetapi ia perlu tahu apakah mereka membicarakan orang yang sama. Pada akhirnya Barney bertanya, “Apa dia tinggi? Kulit putih? Rambut pendek?”

Mata kakek berbinar. “Tepat sekali. Kamu kenal anak baik itu ternyata!”

Kemudian sang kakek memberi perintah, “Bawa dia kemari, Barn! Kakek mau bicara dengan anak itu!”

Namun, Dahi Barney semakin berkerut bingung. “Emangnya kakek mau ngomong apa? Jangan macam-macam deh!”

Kakek tertawa keras. Di sela-sela ia berkata, “Kakek mau dia jadi cucu menantu Kakek!”

Barney melompat dari duduknya. “Wah! Nggak, Kek! Nggak akan!”

Kakek tertawa lebih keras, sampai air mata keluar dari netra keriputnya. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi ia memberikan Barney sebuah pilihan sulit.

“Sekarang kamu boleh pilih. Angelina atau gadis itu!”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 8. Sebuah Permintaan.

    Alis mata Barney terangkat mendengar perkataan kakeknya.“Uhuk!” Barney mengusap mulutnya yang masih mengunyah. “Secepat itu, Kek?” Ferdinand Noir menatap cucunya. “Apa salah kalau Kakek pengen ngobrol santai dengannya?” Glek!Barney susah payah menelan makanannya. Dia meletakkan piring di meja dekat tempatnya berdiri. Pemuda tampan itu memasukkan tangan dalam saku celananya dan menatap Ferdinand Noir dengan pandangan memelas. “Please, Kek. Aku dan dia itu … kami bukan pasangan kerja yang baik. Kami—,” Barney tak bisa menjelaskan bagaimana hubungan kerja dengan Felicia selama ini. Tangannya menggaruk kepala bagian belakang yang sebenarnya tidak terasa gatal.Ferdinand Noir memandang cucunya sekilas. “Hehehe! Entah gimana caramu, aku mau dia datang ke rumah malam ini.” Beliau melangkah menjauh, bergabung dengan pembesar lainnya. Barney menatap punggung kakeknya sambil berpikir, ‘gimana caranya ngajak dia pulang bareng? Yang nggak mencolok di depan semua orang.’Pukul delapan ma

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 7. Acara di Aula.

    Brak!Felicia tersungkur, tangannya tak berhasil meraih sesuatu untuk menopang tubuhnya.“Hahaha!”Sebagian tertawa keras. Barney yang duduk dekat situ langsung berdiri dan menghampiri Felicia. “Gimana sih, Fel? Kok bisa-bisanya jatuh di acara seperti ini?” tanya Barney panik.Felicia terkejut, dia melotot menatap Barney dan sedikit menggeleng. Barney sadar, dia menatap sekeliling, beberapa pasang mata menatap heran. Ini bukan kebiasaannya Dia langsung pasang muka jutek.“Dasar! Jalan yang bener!” bentak Barney sedikit salah tingkah.“Urus saja urusanmu sendiri!” jawab Felicia. Grace dan beberapa rekan mendekat, membantu Felicia berdiri. “Udah tau Feli jatuh, bukannya ditolong malah ngomel. Dasar!” gerutu Grace. Barney yang merasa serba salah menghentakkan kaki dan kembali ke tempat duduknya.Felicia berdiri, dia mengibaskan bagian yang kotor. Lalu berbalik menatap Sophia, seseorang yang selalu merasa paling unggul dan iri pada dirinya.“Apa lihat-lihat?” nyinyir Sophia sambil m

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 6. Bisik-bisik di Ruang Arsip.

    Uhuk! Uhuk!Felicia menutup mulutnya. Dia tersedak mendengar penuturan Ms Carlota. “Anda yakin? Saya rasa itu bukan ide yang bagus, Bu.” Barney melirik Felicia. Dia juga menutup mulutnya dengan tangan. Namun, bukan terkejut, melainkan tertawa geli melihat reaksi si Kitty yang tak lagi jadi rivalnya. Ms Carlota menatap dan tersenyum. “Iya, benar. Saya yakin kalian pasti akan bisa bekerja sama.” “Oke! Saya setuju, Bu. Kami akan mengerjakan proyek ini bersama-sama,” jawab Barney. Felicia melotot pada Barney dan menggeleng pelan. Namun, Barney hanya mengangkat bahu dan kembali tersenyum.“Baiklah. Terima kasih kalian bisa bekerja sama. Jangan lupa nanti sore ada pertemuan.” Ms Carlota mempersilakan mereka kembali bekerja. Felicia dan Barney keluar dari ruangan Ms Carlota. Namun, sebelum sampai di ruangan masing-masing, Felicia menarik ujung lengan pakaian Barney dan mengajak ke ruang arsip yang selalu sepi. “Eeh! Kenapa, Fel?” Mata Barney membelalak karena terkejut. Felicia tak bi

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 5. Bertemu Kembali.

    “Si Barney abis dari Vestofia, langsung nggak masuk nih!”Seseorang tiba-tiba berceletuk di tengah pekerjaan mereka. 3 hari berlalu setelah Felicia pulang dari Vestofia. 3 hari pula, Barney tak kunjung hadir di kantor. Menurut informasi dari Ms Carlota, Barney ada urusan keluarga. “Apa dia kesel karena Feli yang menang tender?” Yang lain mulai meramaikan topik hangat itu. “Atau malu kali, selama ini dia kan debat melulu sama Feli!” kekeh Grace gemas.Beberapa dari mereka mengangguk setuju. “Bisa jadi tuh, Grace. Bisa jadi!”Felicia tahu Barney bukan lelaki seperti yang ditebak teman-temannya barusan. Namun, ia sendiri juga jadi bertanya-tanya. ‘Apa mungkin ada hubungannya terkait status Barney sebagai orang kaya? Atau karena tunangannya yang marah itu?’“Heh! Udah kalian ini!” tukas Robert yang memang dekat dengan Barney. “Lanjut kerja, woi! Lanjut!”Mereka cekikikan satu sama lain, tapi tidak lagi melanjutkan pembahasan itu. Namun, karena memikirkan kejadian di bandara, Felicia j

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 4. Kesalahan Yang Tidak Terduga.

    “Mm!”Felicia terbangun secara alami karena kebiasaan. Namun, yang tidak biasa adalah rasa sakit di seluruh tubuhnya, terutama bagian kepala dan bagian di antara pangkuan.Ia bisa menebak rasa sakit di kepalanya pastilah karena 2 botol minuman beralkohol yang tanpa sadar ia habiskan semalam. Namun, rasa sakit di antara pangkal paha adalah hal yang tidak mungkin terjadi kalau bukan—Netra Felicia terbuka mendadak dengan pemikiran itu. Ia terbangun dan langsung mengaduh, “Aduduh! Sialan! Kenapa sakit semua?!”Tak butuh waktu lama sampai Felicia menyadari bahwa tidak ada sehelai kain pun menutupi tubuhnya, kecuali selimut hotel. Dan suara dengkuran halus mengejutkannya. Begitu menoleh ke samping, wajahnya berubah pucat pasi. ‘Mati! Kenapa aku nggak pakai baju dan ada Barney di sini?!’ jeritnya dalam hati, panik. ‘Gimana nendang anak ini keluar dari kamarku?!’Felicia mengamati sekitar dan menyadari bahwa ini adalah kamar hotelnya. Satu-satunya tempat ia bisa bersembunyi adalah kamar man

  • Istri Galak Sang Presdir   Bab 3. Proyek di Pulau Vestofia.

    “Apa-apaan ini?!”Felicia menatap tiket di tangan dengan pandangan sedikit kecewa. “Bisa-bisanya sistem narik nama dari atas saja. Sistem sialan!” Celine yang tak jadi berangkat juga ikut cemberut. “Mau gimana lagi, Fel. Kita nggak bisa minta ganti.”Entah karena sistem, atau memang pengaturan panitia proyek berubah, tiba-tiba saja Felicia berangkat hanya dengan Barney saja.Felicia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke jendela. Memandang ke bawah sesaat lalu berbalik seraya menghembuskan napas panjang. “Tapi, ya nggak sama tikus curut itu juga kali!” “Memang mereka menambah peserta dan ruangannya terbatas. Jadi yah … entahlah!” Celine mengedikkan bahu.Tok tok tok! “Fel! Kamu di tunggu di bawah tuh! Buruan! Pesawat berangkat sembilan puluh menit lagi!” Rara melambai pada Felicia. “Cel, aku pergi ya!” pamit Felicia yang dibalas dengan lambaian tangan lemas dari Celine. Dengan menghentakkan kaki, Felicia menarik kopernya dan berjalan menuju mobil yang akan mengantar mereka

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status