“Kalau mau ngajak dia, ngomong langsung. Dia punya mulut sendiri, kan?” Aeloria menyilangkan tangan di depan dada, menatap Keisya yang masih berdiri di hadapannya. Gadis itu mengangguk kecil, lalu tersenyum canggung sebelum pamit pergi. Begitu Keisya menjauh, Freyana langsung menyenggol bahu Aeloria, sedangkan Vania sibuk menahan tawanya. “Kenapa?” Aeloria melirik mereka bergantian. “Ada yang lucu?” “Enggak,” jawab Freyana cepat. “Gue cuma heran. Tadi elo kelihatan sewot banget waktu dia nanya soal Alaric.” “Terus gue harus joget kegirangan?” Vania akhirnya tertawa. “Ael, jangan-jangan elo cemburu.” Aeloria langsung menoleh tajam. “Cemburu apaan?! Otak elo ketinggalan di kelas, ya?” “Gue belum selesai ngomong.” “Gue juga belum selesai marah!” Freyana dan Vania tertawa bersamaan. Aeloria mendengus, meraih botol minumnya, lalu berdiri dengan gerakan kesal. Ia tidak cemburu. Setidaknya, itulah yang terus ia katakan kepada dirinya sendiri sejak Keisya datang. Namun, saat bel mas
最終更新日 : 2026-10-18 続きを読む