Ruby mendorong dada Demian, mencoba memberi jarak. Jantungnya berdegup tak beraturan kala mendengar suara pintu terbuka. Metanya membelalak, tangannya memukul pelan dada Demian, memohon agar pria itu mau melepas ciuman mereka. Dan disaat Luna hampir masuk ke dalam, Demian baru melepaskan ciumanya. Pria itu tak terlihat gugup sama sekali, yang ada Demian justru tersenyum dan mengusap bibir Ruby dengan ibu jarinya.“Dem?”Demian menarik pinggang Ruby kala wanita itu hendak menjauh darinya. Ia membiarkan posisi mereka tak berjarak, tak memperdulikan kernyitan yang tercetak jelas di kening Luna. jika hanya memasangkan dasi, posisi mereka tak perlu sedekat itu.“Kamu juga ada di sini Ruby,” sapa Luna dengan senyum tipisnya.“I–iya, Bapak tadi meminta saya untuk memakaikan dasi,” sahut Ruby berusaha menguasai dirinya.“Oh….” Luna berjalan mendekat. Senyum tipisnya membuat Ruby, perlahan memundurkan langkahnya.“Demian memang begini, sejak dulu dia tidak pernah bisa memakai dasi,” kata Luna
Zuletzt aktualisiert : 2026-08-29 Mehr lesen