Kamila berjalan mendekatinya dengan ekspresi muram. Sebelum Milani sempat bereaksi, dia telah mengangkat tangannya dan melayangkan tamparan di wajahnya.Ekspresi Milani segera berubah. Dia menutup telepon, menyentuh separuh wajahnya yang serasa terbakar, lalu bertanya dengan dingin, "Mengapa kamu memukulku?""Kamu kira aku nggak tahu taktik apa yang kamu mainkan? Beberapa hari yang lalu, kamu menyuruh putrimu menggunakan mainan untuk memfitnahku agar kamu bisa menjebakku tadi malam, 'kan? Kamu ingin membuatku terlihat seolah-olah nggak tahan kesepian, jadi aku keluar untuk bersenang-senang dengan pria lain. Setelah ada mainan itu, lalu ada bukti perselingkuhanku. Dengan begitu, aku nggak akan mampu membela diri lagi, begitu?!"Menghadapi kecaman kerasnya, Milani hanya menyeringai. "Kamila, apa kamu pikir hanya aku saja yang bisa menjebakmu? Bagaimana kalau aku bilang orang yang sebenarnya ingin menjebakmu adalah Jehan? Apa kamu akan terkejut?"Pupil mata Kamila membesar dengan hebat. D
อ่านเพิ่มเติม