Lalu, dia teringat untuk bertanya, "Tinggal di mana?""Kirana Garden."Setelah itu, keduanya berhenti berbicara.Martin duduk tegang dalam posisi yang bukan miliknya. Dia bahkan tidak berani bernapas.Dia baru perlahan merasa rileks saat mereka mendekati tujuan.Dia tak kuasa menahan rasa syukur. Kini, dia juga bisa menjalani hidup dengan baik.CEO mereka lagi bucin, jadi dia kebagian menikmati kehidupan yang nyaman.Mobil itu berhenti di Kirana Garden. Sebelum keluar, Kamila mengangguk dengan sungguh-sungguh ke kursi belakang. "Terima kasih, Pak Sean."Martin tersadar, lalu melambaikan tangannya sambil memaksakan senyum. "Nggak perlu sungkan, nggak perlu sungkan."Kamila melepas jas pria itu, dan berkata pelan kepada Sean, "Terima kasih."Sosoknya yang ramping berjalan menuju vila itu.Tatapan Sean mengikuti dengan saksama.Martin menatap Sean, lalu menatap Kamila. "Ehem, ehem ...."Sean kemudian mengalihkan pandangannya yang samar dan sulit dipahami, dengan sedikit kebencian yang ter
อ่านเพิ่มเติม