LOGINSore itu, Alena berdiri di depan gedung Pradipta Tower. Bangunan kaca itu menjulang tinggi, memantulkan langit sore yang mulai jingga. Ia menarik napas dalam sebelum melangkah masuk.
Resepsionis sudah menunggu. "Selamat sore, Non Alena. Silakan, Pak Raka sudah menunggu di ruang pertemuan lantai 20."
Alena mengangguk pelan. Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Ia tidak tahu harus berekspresi apa saat bertemu pria yang, dalam semalam, berubah jadi calon suaminya.
Pintu lift terbuka. Alena melangkah keluar, menyusuri lorong dengan lantai marmer mengilap. Di ujung lorong, pintu ruang pertemuan sudah terbuka.
Di dalam, ayahnya sudah duduk. Di seberangnya, seorang pria berdiri membelakangi jendela. Tinggi. Rapi. Jas hitamnya terlihat mahal, tapi bukan itu yang membuat Alena berhenti sejenak—melainkan caranya berdiri. Tegap, dingin, seolah pertemuan ini hanya agenda biasa dalam harinya.
Pria itu berbalik.
Wajahnya tampan, tapi tatapannya tajam—hampir tanpa emosi. Inilah pertama kalinya Alena melihat wajah Raka Pradipta secara langsung.
"Alena Wijaya," kata Raka, bukan pertanyaan, hanya konfirmasi. Suaranya datar.
"Ya," jawab Alena, berusaha terdengar setegas mungkin. "Dan kau pasti Raka Pradipta."
Raka tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk singkat, lalu mempersilakan Alena duduk dengan gerakan tangan yang formal—terlalu formal untuk sebuah pertemuan yang seharusnya menyatukan dua calon suami istri.
Mereka duduk berhadapan. Ayah Alena di satu sisi meja, seorang pria paruh baya lain—yang belakangan diketahui Alena adalah ayah Raka—duduk di sisi satunya.
"Baiklah," Raka membuka suara lebih dulu, nadanya seperti sedang memimpin rapat bisnis. "Aku akan langsung saja. Pernikahan ini murni untuk kepentingan bisnis kedua keluarga. Tidak lebih."
Alena mengangkat alis. Ketegasan pria ini justru membuatnya sedikit lega—setidaknya mereka sepikiran.
"Setuju," jawab Alena cepat. "Aku juga tidak berharap lebih dari itu."
"Bagus." Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang mirip kelegaan di wajah Raka, meski hanya sekilas. "Selama kita saling paham posisi masing-masing, semua akan berjalan lancar."
Ayah Alena tersenyum, mencoba mencairkan suasana. "Kalian berdua akan menikah bulan depan. Semua persiapan sudah mulai diatur."
Alena menoleh cepat. "Secepat itu?"
"Semakin cepat, semakin baik untuk kedua perusahaan," jawab ayah Raka, suaranya berat dan berwibawa. "Pasar sudah mulai bereaksi terhadap rumor kesulitan keuangan Wijaya Group. Kita perlu pengumuman resmi secepatnya."
Raka memperhatikan Alena dari seberang meja. Ada sesuatu dalam cara pria itu menatap—bukan simpati, tapi semacam penilaian, seolah sedang mengukur apakah Alena akan jadi masalah atau tidak dalam kesepakatan ini.
"Ada pertanyaan?" tanya Raka akhirnya, langsung ke arah Alena.
Alena menatap balik, tidak gentar. "Satu. Kenapa keluargamu mau melakukan ini? Menyelamatkan bisnis musuh sendiri bukan sesuatu yang biasa dilakukan tanpa alasan tersembunyi."
Hening sesaat. Ayah Raka dan ayah Alena bertukar pandang singkat—terlalu singkat untuk tidak dicurigai.
Raka yang menjawab, suaranya tetap datar. "Karena mengambil alih sebagian saham Wijaya Group lebih menguntungkan daripada membiarkan kalian bangkrut dan hilang dari peta persaingan. Simpel."
Jawaban itu terdengar masuk akal. Tapi entah kenapa, Alena merasa ada bagian dari kebenaran yang sengaja tidak diucapkan.
Pertemuan berakhir dengan jabat tangan formal antara Alena dan Raka—dingin, singkat, tanpa kehangatan sedikit pun. Namun saat tangan mereka bersentuhan, Alena merasakan sesuatu yang aneh: genggaman Raka sedikit lebih erat dari yang seharusnya, seolah pria itu juga menyembunyikan sesuatu di balik ketenangannya.
Malam harinya, dalam perjalanan pulang, ponsel Alena berbunyi. Pesan dari nomor tak dikenal.
"Jangan terlalu percaya pada kebaikan hati keluarga Pradipta, Non Alena. Ada alasan lain kenapa mereka ingin pernikahan ini terjadi secepat mungkin. Cari tahu soal kebakaran gudang Wijaya Group sepuluh tahun lalu."
Alena membeku. Jantungnya berdegup kencang.
Siapa pun pengirim pesan itu, mereka tahu sesuatu yang tidak diketahuinya.
---
Tiga hari setelah kedatangan Broto, nggak ada kejadian aneh apa pun. Nggak ada pesan misterius, nggak ada tamu tak diundang. Justru itu yang bikin Alena makin nggak tenang."Kayak nunggu badai," katanya suatu malam, waktu dia dan Raka lagi makan malam berdua di kamar—kebiasaan yang udah jadi rutinitas mereka belakangan ini."Mungkin emang lagi nyusun strategi," jawab Raka, nyuil ayam di piringnya tanpa nafsu makan yang jelas. "Orang kayak dia nggak gerak sembarangan."Alena ngangguk pelan. Dia udah coba fokus ke kerjaan, ke urusan rumah tangga sehari-hari, tapi pikirannya terus aja balik ke percakapan sama Broto. Pion di papan yang lebih besar."Eh," katanya tiba-tiba, "kamu masih inget nggak, dulu waktu kita tanda tangan kontrak, kamu bilang nggak mau ada perasaan pribadi ikut campur?"Raka ngangkat alis, agak bingung arah pembicaraan tiba-tiba pindah. "Inget. Kenapa?""Cuma mikir aja," Alena senyum kecil, "gimana kita sekarang."Raka taruh sendoknya, natap Alena lama. "Kalau boleh j
Dua hari setelah malam pengakuan Pak Pradipta, semuanya kelihatan tenang. Terlalu tenang, menurut Alena.Dia lagi di dapur, bikin teh sendiri—kebiasaan baru sejak beberapa minggu terakhir, karena entah kenapa itu bikin dia lebih tenang mikir—waktu Nadia masuk dengan wajah aneh. Bukan panik kayak biasanya. Lebih ke... bingung."Kak, ada tamu. Katanya mau ketemu Ayah, tapi Ayah lagi di kantor.""Tamu siapa?""Nggak mau kasih tau nama depannya. Cuma bilang... 'teman lama'."Sesuatu di cara Nadia ngomong bikin Alena langsung waspada. Dia taruh cangkirnya, jalan ke ruang tamu.Pria itu berdiri deket jendela, mbelakangin pintu masuk. Jas abu-abu, rapi, umur mungkin sekitar enam puluhan tapi masih keliatan bugar. Waktu dia noleh, Alena langsung tau siapa ini—meski belum pernah ketemu langsung.Wajahnya sama kayak di foto lama yang pernah ditunjukkan Om Hartono."Kau pasti Alena," katanya, senyumnya sopan, tapi ada sesu
Ruang kerja Pak Pradipta gelap kecuali lampu meja yang menyala redup. Raka dan Alena duduk di kursi tamu, sementara pria tua itu berdiri membelakangi mereka, menatap keluar jendela yang menghadap kota.Sudah lima menit dia diam saja."Ayah?" Raka akhirnya memanggil.Pak Pradipta menghela napas panjang, tapi tidak langsung berbalik."Kalian tahu kenapa dulu aku dan ayah Alena bisa jadi rekan bisnis?" Dia bertanya, suaranya aneh—bukan nada berwibawa yang biasa dipakai di rapat direksi. "Bukan cuma soal keuntungan. Kami berteman. Teman baik, sebenarnya. Sebelum semua kekacauan itu."Alena menegakkan duduknya. Ini bukan sesuatu yang pernah diceritakan padanya."Dua puluh tahun lalu, wijaya—ayahmu—dia yang menyelamatkan bisnisku waktu aku baru mulai. Aku hampir bangkrut sebelum sempat besar. Dia pinjamkan modal tanpa jaminan apa pun. Cuma percaya."Pak Pradipta akhirnya berbalik. Matanya berkaca-kaca, hal yang tidak pernah dilihat Raka sebelumnya dari ayahnya sendiri."Terus apa yang terja
Pagi itu, Raka mengumpulkan semua pihak yang bisa dipercaya di ruang kerja pribadinya—Pak Handoko dan dua anak buahnya, serta seorang kenalan lama Raka yang kebetulan bekerja sebagai perwira polisi, Komisaris Wibowo, yang bersedia membantu secara tidak resmi sebelum kasus ini dilaporkan penuh."Kita tidak bisa menyerbu langsung," kata Komisaris Wibowo, menatap peta lokasi gudang yang sudah ditandai Pak Handoko semalam. "Kalau memang ada penyanderaan, tindakan gegabah bisa membahayakan korban. Saya bisa bantu urus izin operasi kecil, tapi harus cepat dan senyap.""Berapa lama itu bisa diurus?" tanya Raka."Dengan koneksi saya, mungkin sore ini bisa jalan. Tapi saya butuh alasan resmi untuk masuk tanpa membuat kecurigaan bocor ke pihak dalam yang mungkin terlibat."Alena, yang duduk di sudut ruangan sejak pagi, akhirnya angkat suara. "Bagaimana kalau alasannya laporan dugaan penyekapan dari warga sekitar? Tidak perlu menyebut nama Pradipta sama sekali di laporan awal."Komisaris Wibowo
Raka tidak tidur lagi malam itu. Ia duduk di meja kerja, memperbesar foto blur itu berkali-kali, mencoba mengenali bangunan di latar belakang."Ini gudang," katanya akhirnya, menunjuk bagian sudut foto yang nyaris tidak terlihat. "Lihat atapnya. Model seng bergelombang seperti ini biasanya dipakai gudang tua di kawasan industri pinggiran."Alena mendekat, memperhatikan detail yang ditunjuk Raka. "Kawasan industri mana?""Aku tidak yakin. Tapi Pak Handoko mungkin bisa membantu melacaknya. Dia lebih berpengalaman soal hal semacam ini."Raka langsung menghubungi Pak Handoko meski waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Pria itu menjawab tanpa terdengar terganggu, seolah sudah terbiasa dihubungi di jam-jam aneh."Kirim fotonya, Pak Raka. Saya coba analisis."***Kabar berikutnya datang keesokan siang, lebih cepat dari yang diperkirakan. Pak Handoko berhasil mempersempit lokasi ke sebuah kawasan pergudangan tua di daerah Cakung, berdasarkan analisis bayangan dan sudut bangunan di foto
Pagi itu, Raka bangun lebih awal dari biasanya, sudah duduk di meja kerja kamar mereka dengan laptop menyala saat Alena membuka mata."Kau tidak tidur?" tanya Alena, masih setengah mengantuk."Sempat, sebentar," jawab Raka, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku menyuruh orang kepercayaanku melacak alamat terakhir staf yang menghilang itu. Namanya Pak Yudo. Menurut catatan HR, dia sudah delapan tahun bekerja di divisi keuangan sebelum tiba-tiba mengundurkan diri minggu lalu."Alena bangun, duduk di sisi ranjang. "Ada hasil?""Alamat rumahnya di catatan HR sudah tidak berpenghuni. Tetangga bilang keluarganya pindah mendadak, sekitar waktu yang sama dengan pengunduran dirinya.""Pindah mendadak, tanpa jejak?" Alena merasa perutnya mual mendengar itu. "Itu bukan kepindahan biasa.""Aku setuju." Raka menutup laptopnya, menatap Alena serius. "Tapi kita harus hati-hati. Kalau benar dia 'dibungkam' seperti kata pesan semalam, menc







