Share

Bab 3

Author: Hea
Pada hari jamuan menikmati bunga plum, kereta kuda yang mereka tumpangi sebenarnya cukup luas, tetapi suasananya membuat Karen merasa sesak.

Sepanjang perjalanan, Evan dengan telaten merawat Julia. Dia merapikan jubah luar yang dikenakan wanita itu dan menyodorkan penghangat tangan untuknya, seolah-olah Karen hanyalah orang transparan yang tidak terlihat.

Sesampainya di kediaman putri pertama, Evan bahkan langsung membawa Julia berbaur dengan para tamu, meninggalkan Karen sendirian di sudut.

Karen diam-diam mencari tempat duduk di sudut yang paling tidak mencolok. Sambil memandangi pasangan serasi itu dari kejauhan, dia seolah merasa hiruk-pikuk di sekelilingnya begitu jauh dari dirinya.

Setelah duduk beberapa saat, rasa sesak dan nyeri di dadanya makin terasa. Dia pun bangkit, berniat berjalan-jalan ke bagian terdalam taman bunga plum untuk menghirup udara segar.

Namun, baru saja tiba di sebuah koridor yang sepi, beberapa wanita bangsawan berpakaian mewah langsung mengerumuninya dan menghalangi jalannya.

Karen mengenali wanita di barisan terdepan itu. Dia adalah putri wakil menteri personalia. Dalam berbagai jamuan sebelumnya, tunangan wanita itu berkali-kali kedapatan mencuri pandang ke arah Karen.

"Oh, siapa gerangan ini? Ternyata si wanita tercantik di ibu kota!" ejek wanita itu sambil memandangi Karen dari ujung kepala hingga kaki. "Kenapa bersembunyi sendirian di sini? Nggak pergi merayu kakak sepupumu lagi?"

Wanita lain menyahut, "Sudah punya wajah menggoda seperti rubah, tapi nggak tahu diri dan nggak sadar akan statusnya sendiri. Berani-beraninya mengincar Putra Pewaris Evan."

"Benar sekali! Sekarang Putra Pewaris Evan sudah punya pujaan hati. Nona Julia begitu anggun dan berbudi luhur, dialah pasangan yang paling cocok untuknya! Kamu sebaiknya tahu diri dan berhenti mempermalukan diri sendiri di depan umum!"

Caci maki bertubi-tubi menghujaninya. Wajah Karen memucat. Dia berusaha menghindari mereka, tetapi putri wakil menteri itu sengaja menjulurkan kakinya untuk menjegal Karen.

Tubuh Karen yang masih lemah membuatnya tidak mampu menjaga keseimbangan. Dia pun terjatuh dengan keras ke tanah.

Bahkan sebelum sempat bangkit, para wanita itu sudah mengerumuninya dan mulai menendang tubuhnya bergantian. Tendangan mereka memang tidak sampai merenggut nyawanya, tetapi cukup untuk mempermalukannya habis-habisan.

"Rasakan! Berani-beraninya merayu pria orang lain! Nggak tahu malu!"

"Mentang-mentang punya wajah cantik, kamu pikir bisa bertindak sesuka hati!"

...

Karen meringkuk, melindungi kepalanya dengan kedua tangan sambil menggertakkan gigi agar tidak menangis.

Dia tahu bahwa kebencian mereka bukan semata-mata karena Evan. Sebagian besar justru berasal dari tatapan para pria di sekitar mereka yang pernah tertuju kepadanya.

Namun, apakah itu benar-benar kesalahannya?

Bukannya menyalahkan pria mereka sendiri, mereka justru melampiaskan amarah kepada perempuan lain? Di mana letak keadilannya?

Karen berusaha melawan, tetapi seluruh tubuhnya terasa lemas. Keputusasaan bagaikan air danau yang dingin, perlahan-lahan menenggelamkannya.

Tepat saat itu, dari balik pandangannya yang kabur, Karen melihat Evan di kejauhan. Rupanya, pria itu menyadari keributan di tempat ini. Dengan alis berkerut, dia mulai melangkah ke arah mereka.

Hampir bersamaan, raut wajah Julia yang berada di samping Evan sedikit berubah. Dia mengulurkan tangan dan menarik pelan lengan baju pria itu. "Evan, di sana semuanya wanita. Nggak pantas kalau kamu menghampiri mereka. Biar aku saja yang pergi."

Langkah Evan terhenti. Dia melirik Julia, lalu mengangguk.

Julia segera mengangkat sedikit ujung roknya dan bergegas menghampiri mereka. Dengan suara lantang, dia menghentikan para wanita bangsawan itu. "Kakak-kakak semua, apa yang kalian lakukan? Cepat hentikan!"

Dia berjongkok dan bersusah payah membantu Karen berdiri. Nada suaranya penuh perhatian. "Dik Karen, kamu nggak apa-apa? Apa ada yang sakit?"

Kemudian, Julia berbalik menghadap para wanita itu dan berbicara dengan lembut, tetapi tegas, "Saudari-saudari, mengapa harus bertindak sejauh ini? Dik Karen juga datang sebagai tamu undangan. Kita semua sama-sama tamu di sini. Mohon jaga ucapan dan jangan sampai merusak kerukunan."

Melihat Julia turun tangan, terlebih lagi karena Evan sedang memperhatikan mereka dari kejauhan, para wanita itu akhirnya berhenti dengan enggan. Salah seorang dari mereka bahkan bergumam, "Nona Julia memang terlalu baik hati. Bahkan ke wanita seperti dia pun, Nona masih bersikap begitu sopan."

Tubuh Karen terasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia membiarkan Julia membantunya menuju sebuah kamar tamu yang jauh dari keramaian.

Julia sendiri yang mengambil air hangat, lalu membantu membersihkan noda di wajah Karen dan luka lecet di tangannya. Gerakannya lembut. Dia bahkan mencarikan satu set pakaian bersih untuk dikenakan Karen.

"Terima kasih, Nona Julia," ucap Karen pelan.

Namun, tepat ketika Karen hendak meninggalkan kamar tamu itu, suara Julia terdengar dari belakang. Suaranya tetap selembut sebelumnya, tetapi kali ini terselip hawa dingin yang menusuk.

"Dik Karen, bagaimana pendapatmu tentang perkataan mereka tadi?"

Hati Karen tersentak. Dia segera berbalik.

Julia masih memasang senyum sempurna di wajahnya. Dengan santai, dia melontarkan kata-kata keji, "Sejujurnya, menurutku perkataan mereka cukup masuk akal. Lagian, adik memiliki wajah seperti ini dan setiap hari cuma memikirkan cara buat ... merayu kakak sepupunya sendiri. Kalau bukan wanita penggoda, lalu apa namanya?"

Tubuh Karen terasa dingin hingga ke tulang. Dia gemetar ketika menjawab, "Nona Julia, aku mengakui kalau dulu aku memang menyukai kakak sepupuku dan pernah ... bertindak nggak pantas. Tapi, saat itu kakak sepupuku belum menjalin hubungan dengan wanita mana pun. Perasaanku kepadanya memang nggak sesuai aturan, tapi itu bukanlah dosa besar. Sekarang, aku sudah menetapkan batas yang jelas antara kami dan sama sekali nggak berniat mencampuri hubunganmu dengan kakak sepupuku. Jadi, kumohon, Nona Julia, jagalah ucapanmu!"

Setiap katanya diucapkan dengan jelas dan tegas. Dia tidak merendahkan diri, tetapi juga tidak bersikap kasar. Karen membalas tuduhan Julia tanpa gentar.

Julia jelas tidak menyangka Karen akan membantahnya dengan begitu tenang. Untuk sesaat, dia sampai kehilangan kata-kata. Senyum sempurna yang menghiasi wajahnya pun sedikit kaku.

Karen tidak ingin berlama-lama berurusan dengannya. Setelah selesai berbicara, dia langsung berbalik dengan tegas, membuka pintu kamar, lalu melangkah keluar.

Namun, baru sekitar sepuluh langkah dia berjalan, tiba-tiba terdengar suara seseorang tercebur ke dalam air.

Karen menoleh dengan terkejut. Betapa kagetnya dia saat melihat Julia ternyata telah tercebur ke danau buatan yang berada di samping kamar tamu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 25

    Waktu terus berlalu, tahun demi tahun berganti dalam ketenangan dan kedamaian.Setelah melewati berbagai cobaan, hubungan Karen dan Malvin menjadi makin erat.Malvin bukanlah orang yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, tetapi cintanya tercermin dalam setiap hal kecil yang dilakukannya.Dia selalu mengingat makanan kesukaan Karen, menyelimutinya dengan mantel saat istrinya membaca buku hingga larut malam, mendengarkan dengan saksama pendapatnya mengenai urusan kediaman, serta tanpa ragu membelanya di hadapan orang lain. Dia memberikan penghormatan, kepercayaan, dan perlindungan yang belum pernah Karen rasakan sebelumnya. Di kediaman jenderal, Karen bukan lagi gadis yatim piatu yang menumpang hidup di rumah orang lain, bukan pula Nona Karen yang harus bersusah payah mengambil hati orang-orang di sekitarnya. Kini, dia adalah nyonya rumah yang sah dan dihormati semua orang.Setahun kemudian, Karen melahirkan sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan dengan selamat.Sang p

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 24

    Setelah mengucapkan kata-kata itu, kepalanya terkulai ke samping dan Evan benar-benar kehilangan kesadaran.Karen menatap wajahnya yang pucat pasi, merasakan seolah-olah nyawanya perlahan-lahan meninggalkan tubuhnya. Perasaannya begitu rumit hingga sulit diungkapkan.Ada keterkejutan, rasa takut yang baru mereda setelah bahaya berlalu, dan sedikit rasa haru yang sulit dijelaskan. Namun, yang paling mendominasi adalah beban berat yang terasa begitu besar hingga nyaris tak sanggup dia tanggung.Karen memejamkan mata sejenak. Dia segera menekan segala emosinya, lalu kembali menenangkan diri.Dia memberi perintah kepada para pelayan yang panik, "Cepat! Angkat Putra Pewaris Evan ke kereta! Segera kembali ke kota! Panggil tabib istana terbaik! Cepat!"Suaranya tenang dan tegas, memancarkan wibawa yang tidak terbantahkan.Seolah-olah telah menemukan sosok yang bisa diandalkan, semua orang segera melaksanakan perintahnya.Setibanya di kota, Kediaman Adipati Pelindung Negara gempar begitu mende

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 23

    Situasi perang di perbatasan utara makin genting, dengan kobaran api peperangan yang membentang di mana-mana. Di kediaman jenderal, Karen menjalani hari-hari yang tenang dan bermakna.Dia mengurus segala urusan kediaman dengan tertib, menggantikan Malvin untuk berbakti kepada orang tuanya, sekaligus menenangkan hati mereka. Saat senggang, dia menemani adiknya, Aurel, yang berangsur-angsur pulih, atau mempelajari buku-buku pengobatan dengan harapan dapat membantu merawat luka lama Malvin.Wajahnya perlahan-lahan kembali merona. Ketenangan dan ketegaran yang terpancar di antara alisnya membuatnya memancarkan pesona yang berbeda dari kecantikan seorang gadis muda yang lembut dan menawan. Kini, dia memiliki keanggunan seorang wanita dewasa yang matang.…Setelah melewati penyesalan yang begitu menyakitkan dan masa-masa ketika dirinya nyaris kehilangan akal, Evan akhirnya terjerumus ke dalam keputusasaan yang sunyi dan mati rasa.Dia tidak lagi berharap Karen akan memaafkannya. Bahkan, dia

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 22

    Setelah beristirahat selama lebih dari sebulan di vila kerajaan, kondisi Malvin telah pulih sebagian besar. Meskipun belum kembali ke kondisi puncaknya, kesehatannya sudah tidak lagi mengkhawatirkan.Situasi di istana terus berubah dengan cepat. Tiba-tiba, keadaan darurat muncul di perbatasan utara. Pasukan berkuda bangsa asing menyerbu wilayah perbatasan dan berhasil merebut beberapa kota berturut-turut. Situasinya sangat genting.Kaisar memanggil Malvin untuk menghadap pada malam itu juga. Di Balairung Emas, meskipun wajah Malvin masih menyisakan sedikit pucat akibat sakit, punggungnya tetap tegak dan tatapannya mantap membara."Jenderal Malvin, kondisi kesehatanmu ...." Kaisar tampak cemas.Malvin berlutut dengan satu kaki. Suaranya tenang dan penuh ketegasan. "Yang Mulia, hamba sudah pulih. Melindungi keluarga dan negara adalah kewajiban yang nggak mungkin hamba hindari! Mohon perkenankan hamba memimpin pasukan buat berangkat berperang, mengusir bangsa barbar dan merebut kembali wi

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 21

    Namun, semuanya belum berakhir. Evan melaporkan hasil penyelidikannya kepada kedua orang tuanya dan pihak istana.Bukti-bukti kejahatan Julia, mulai dari menjebak Nyonya Karen yang menyandang gelar kehormatan kekaisaran hingga menipu keluarga kerajaan, begitu kuat dan tidak terbantahkan. Kasus ini pun menggemparkan banyak pihak.Kaisar murka dan memerintahkan penyelidikan menyeluruh.Keluarga Pradana pun terseret dalam kasus tersebut dan dengan cepat mengalami kejatuhan. Semua gelar kehormatan Julia dicabut. Dia diturunkan statusnya menjadi rakyat biasa dan dijatuhi hukuman pengasingan ke tempat yang berjarak ratusan kilometer.Putri perdana menteri yang dulu berkedudukan tinggi itu akhirnya meninggal karena sakit di tengah perjalanan pengasingannya yang penuh penderitaan. Akhir hidupnya sungguh tragis.Sementara itu, Evan juga menjadi bahan tertawaan seluruh ibu kota karena ketidakmampuannya menilai orang. Untuk pertama kalinya, dia merasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi bahan ej

  • Sinar Rembulan yang Lembut   Bab 20

    Baru setelah kehilangan Karen sepenuhnya, Evan tersadar bahwa cinta mendalam yang selama ini dia buang begitu saja ternyata telah mengakar hingga ke tulang sumsum.Selain itu, dia sendiri ternyata begitu bodoh.Penyesalan dan kesadaran yang datang terlambat membakar akal sehat Evan bagai api beracun. Dia mulai mengingat kembali dengan kalut segala sesuatu yang terjadi selama setahun terakhir, terutama setiap kejadian ketika Karen dipermalukan. Makin dia memikirkannya, makin banyak hal yang terasa janggal.Di balik kelembutan dan kebaikan hati Julia yang tampak sempurna tanpa cela, seolah selalu tersembunyi sedikit kelicikan dan kepura-puraan yang samar.Dia mengerahkan kekuatan Kediaman Adipati Pelindung Negara untuk mulai menyelidiki Julia secara diam-diam.Petunjuk pertama ditemukan dari pelayan yang menuduh Karen mendorong Julia hingga tercebur ke air saat jamuan menikmati bunga plum. Setelah bersusah payah, orang-orang Evan akhirnya menemukan pelayan itu di sebuah perkebunan terpen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status