Inhibitions of Mafia

Inhibitions of Mafia

By:  Amelyaaz  Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
0.0
Not enough ratings
18Chapters
1.5Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Feligan D'xario tidak segan-segan mengusik wanita yang mengganggu pikiran dan jiwanya. semua keinginannya yang tertahan selama ini langsung saja tidak terkendali karena wanita itu yang tak lain adalah Shakira. Sudah lama Feligan tidak merasakan pemberontakan lagi apalagi wanita yang ia temui ini mempunyai jiwa liar dan membuatnya sedikit senang sekaligus kesal. Ia tidak menyangka wanita itu berani menantangnya tanpa tau akibat yang akan diterimanya, tapi tidak apa, karena akhirnya ia dapat bermain kembali! "Kau tidak akan lepas dariku, Shakira, sekalipun kau menghilang dari pandanganku. Apapun yang ada di dirimu tidak akan pernah dimiliki siapapun selain diriku," desis Feligan tepat di telinga Shakira yang kini memerah karena hembusan napas pria itu. Shakira mencoba menatap Feligan menantang. "Kau tidak akan mendapatkannya, diriku adalah milikku!" Feligan menyeringai. "Ya, dan akan menjadi milikku juga nanti," balasnya.

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
18 chapters
Prolog
Feligan D'xario, adalah pria yang namanya booming seketika saat dirinya berhasil mengambil alih wilayah Mafia D'ralio . Wilayah D'ralio yang telah diambilnya kini berubah nama menjadi D'xario, membuat pria itu semakin terkenal diantara kelompok mafia lainnya. Pria itu--Feligan--menatap bangunan gedung lainnya dari gedungnya sendiri. Ia berkutat dengan pikirannya yang mana penuh akan strategi-strategi baru yang akan ia mainkan untuk memperluas wilayahnya. Ia tersenyum sinis saat ia melihat seorang wanita dengan baju setelan kantornya sedang beru
Read more
Chapter 1
Feligan melirik pria tambun yang berumur setengah abad itu dengan tidak minat. Pria itu berusaha menjilatnya, agar ia tidak jadi mengambil alih perusahannya itu. Tapi Feligan rasa ini adalah langkah yang tepat, perusahaan itu sangat kacau dan tidak mengalami peningkatan yang baik. Mungkin ditangannya yang tepat, perusahaan itu dapat menjadi perusahaan ternama. "Tuan, aku tahu perusahaan ini sedikit kacau, tapi aku yakin, seiring berjalannya waktu perusahaan ini akan bangkit dan kembali jaya seperti dahulu," terang pria tambun tersebut. Feligan kini semakin tidak tertarik bahkan untuk berbicara dengan pria di depannya itu. Ia mengambil file berkas yang ada di depannya dan langsung membaca isi berkas tersebut."Ck!" Decak Feligan. "Dari berkas ini saja aku sudah tahu masa depan apa yang akan dimiliki perusahaan ini."Pria tambun it
Read more
Chapter 2
Suasana ruangan yang sedikit remang itu dipenuhi dengan alkohol dan asap rokok. Sedikit terdengar suara musik dari lantai bawah tapi tidak mengganggu pelanggan di lantai atas. Feligan berada disalah satu ruangan remang tersebut, ia meneguk habis minumannya dengan sekali tegukan.Bisa dibilang ia cukup stress saat ini dikarenakan adanya pemberontak yang membuat propaganda dalam kelompoknya. Sudah ia pastikan ini ulah penyusup dari kelompok mafia lainnya. Dengan pelan ia mengusap batang hidungnya yang terasa sakit. Seorang pria masuk keruangannya tanpa izin sembari bertepuk tangan. "Tuan Mafioso! Sudah lama tidak melihatmu," sahut seseorang yang membuat Feligan menatap pemilik suara. Feligan membuang mukanya saat tahu pria itu adalah Xander, salah satu ketua mafia D'xario yang dimusuhinya. "Well, sepertinya kau tidak senang akan kedatangan diriku, benar?" tanya Xander yang telah memperhatikan sifat tidak suka Feligan pa
Read more
Chapter 3
"Masih ingin menendang bokongku?" tanya Feligan saat melihat Shakira yang sepertinya sudah mengingat dirinya. Shakira yang mati kutu, tidak bergerak sedikitpun. Feligan tersenyum sinis melihat itu, bagaimana tidak jika wanita yang didepannya ini kemarin berlagak sombong malah mati kutu sekarang. Feligan melihat name tag yang terkalung dileher Shakira, ia menarik name tag itu mendekat padanya dan membuat Shakira berdiri lalu tertarik ke depan, hampir saja wajahnya beradu dengan wajah Feligan. "Shakira Costelia," ucap Feligan, membaca nama yang tertera. Shakira menarik name tagnya kembali dan menatap Feligan kesal. "Kau bertindak dengan tidak sopan, Tuan gedung sebelah." Shakira memberbaiki name tagnya. "Juga bagaimana kau bisa masuk ke sini?""Tentu saja aku bisa masuk kesini sesukaku, dan asal kau tahu..." Feligan menggantungkan kalimatnya yang membuat Shakira mengernyit. Feligan mendekatkan wajahnya ke ar
Read more
Chapter 4
Shakira menemukan dirinya terbangun oleh suara ponsel yang tidak berhenti berdering sejak 10 menit yang lalu. Matanya mengerjap, masih mengantuk saat ia bangun dari tidurnya. Matanya menjelajah sekeliling mencari tas yang entah ia letakkan dimana. Dia bangkit dari Sofa dan berjalan mengitari ruang tamunya untuk mencari tas bututnya. Untungnya, ia dapat menemukan tasnya dengan cepat karena ponselnya masih tidak berhenti berdering hingga sekarang. Dengan malas, Shakira meraba isi tasnya dan mencoba mencari ponsel tanpa melihat ke dalam tas. Saat ia merasakan tangannya mendapatkan getaran, langsunglah ia mengambil benda itu. Layar ponselnya menunjukkan nomor teman kantornya. Lebih dari 40 panggilan telah ia dapatkan dan itu dari nomor yang berbeda. Shakira merasa terkejut karena ini pertama kalinya ia mendapatkan boom call seperti ini. Sebuah nama 'Sella' menghiasi layarnya, tanpa menunggu lama Shakira langsung saja menjawab panggilan itu
Read more
Chapter 5
Shakira berjalan melewati gang kecil yang mana sering ia lalui untuk menuju apartemenya. Hari ini mendung, awan bewarna kelabu menghiasi langit sama seperti suasana hati Shakira. Shakira berhenti melangkah saat kakinya tidak sengaja menendang kardus yang berisikan sesuatu. Tangannya menggapai kardus tersebut dan membukanya. Termangu sebentar, Shakira lantas tersenyum saat ia menemukan anak kucing dengan bulu yang lebat berada di dalam kardus tersebut. "Kau dibuang?" tanya Shakira pada anak kucing yang telah berada di pangkuannya. Anak kucing itu hanya membalas dengan suara meongan yang kecil."Baiklah, aku akan menggantikan ibumu. Oleh karena itu, jangan mencakarku, oke!" kemudian Shakira mengeratkan blazernya hingga anak kucing itu tidak kedinginan. "Ayo pulang dan makan malam. Menu apa yang harus kumasak hari ini?" tanya Shakira kembali pada anak kucing tersebut tapi pastinya tidak ada balasan seperti 'ayam', 'ikan' dan lain-lain.Sh
Read more
Chapter 6
Shakira mengerjapkan matanya. Pandangannya masih belum fokus namun ia tahu jika ia tidak berada dirumahnya. Dirinya berada disebuah tempat yang ia tidak ketahui."Ehem!" Mata Shakira menangkap sosok yang berada satu meter didepannya. Pria itu terlihat familiar tetapi Shakira tidak dapat melihat dengan jelas wajah pria itu dikarenakan gelapnya ruangan ini."Siapa?" tanya Shakira serak."Tebak."Shakira berusaha bangkit dari tidurnya namun ia baru menyadari tangannya sedang dalam keadaan terikat. Hal itu membuatnya was-was, ia yakin saat ini ia sedang diculik."Sudah tahu?" tanya pria itu dengan suara bass yang Shakira merasa pernah dengar.Shakira merasa ragu untuk mengatakan nama yang kini berada didalam pikirannya. Akan tetapi, ia sangat yakin suara dari pria itu sama persis dengan pemilik nama yang ada dipikirannya. "Fe-feligan?" ragu Shakira dan kini matanya sedikit bisa membaur dengan gelapnya ruangan.Pria itu be
Read more
Chapter 7
"Aku tidak ingin makan sekarang. Aku punya jadwal makanku." Shakira terus bersikeras akan kebiasaan makannya yang mana membuat Feligan kesal dengan wanita itu.Setelah dikunci di dalam kamar kemarin malam, Pagi ini Feligan membuka kamar tersebut dan menemukan Shakira sudah duduk diranjangnya. Feligan mengajak Shakira untuk breakfast bersama dengannya."Terus saja kau keras kepala. Kau tahu, kau seharusnya merasa beruntung jika aku mengajakmu sarapan bersama."Shakira bersidekap. "Cih! Beruntung? Ini namanya kesialan, lagian apa untungnya makan dengan orang gila."Feligan mengepalkan tangannya. Giginya bergemeletuk, ingin sekali ia menutup mulut Shakira dengan sesuatu agar omongan pedas tidak keluar dari bibir bulat penuh itu.Read more
Chapter 8
Pagi ini, saat suasana sedang sejuknya dan mentari timbul dengan cerahnya, Shakira menemukan baju kantor yang telah tergeletak di atas kasurnya. Shakira menendang sepatu yang berada didekat kakinya. Betapa konyolnya ia menyetujui untuk menjadi asisten pribadi pria itu tadi malam, saat pria itu pulang entah dari mana. Tapi bagaimana lagi, baginya itulah satu-satunya cara agar ia lepas dari pria gila itu.Shakira menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh. Langsung saja ia mengambil baju dan membawanya ke walk in closet. Begitu selesai memakai baju, ia memakai sepatu yang tadi ia tendang. Betapa pasnya baju itu saat ia sedang melihat penampilannya dicermin. Hal itu sedikit membuatnya ngeri karena pria itu bahkan tau ukuran baju dan pakaian dalamnya.Dengan tersenyum selebar mungkin yang mana membuatnya mengerikan, Shakira berjalan kekuar dari kamarnya dan menuju ruang makan. Ia sudah tahu seluk beluk runah atau istana ini
Read more
Chapter 9
"Aku tidak menyangka aku harus membatalkan janjianku bersama klien hanya karenamu," gerutu Feligan setelah mereka memasuki mansion.Shakira menatap kesal punggung Feligan dan berdecih. "Aku tidak mungkin berlama-lama di tempat menyeramkan itu."Feligan membuka kancing atas kemeja dan menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. Dasi yang tadi mengikat lehernya kuat kini ia tarik hingga mengendur. Tatapan Feligan terlihat nyalang, ia begitu kesal dengan kejadian tadi saat Shakira memintanya pulang begitu saja hanya karena wanita itu ketakutan."Kuharap kau tahu posisimu," desis Feligan dan berjalan meninggalkan Shakira yang masih berdiri di lounge mansion ini.Dengan sedikit menghentakkan kakinya, Shakira berjalan menuju kamarnya. Dalam hatinya, Shakira menggerutu karena ia diibaratkan dalam posisi yang rendah saat ini tapi ia hanya diculik bukan berarti dia mau menjadi bawahannya pria arogan itu."Me
Read more
DMCA.com Protection Status