Mandi Keramas Setiap Pagi

Mandi Keramas Setiap Pagi

By:  Bintang Senja  Completed
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
0.0
Not enough ratings
31Chapters
10.9Kviews
Read
Add to library
Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Asty cukup terkejut setelah mengetahui perselingkuhan suaminya. Parahnya lagi, bukan hanya dengan satu wanita saja, melainkan tiga wanita sekaligus. Dan dari bukti yang ditemukan, Evan juga telah menikah dengan Luna sahabat istrinya sendiri. Hal itu terjadi lantaran Asty tak kunjung hamil.

View More

Latest chapter

Interesting books of the same period

Comments
No Comments
31 chapters
Evan Kalang Kabut
Sudah hampir satu minggu Asty memergoki suaminya mandi keramas setiap jam lima pagi sebelum shalat subuh. Biasanya pria berkacamata itu mandi keramas saat jam enam pagi, atau setelah melakukan ibadah halal bersama istrinya. Padahal sudah lima hari istrinya sedang kedatangan tamu bulanan, otomatis mereka puasa selama hampir satu minggu. "Mas tumben jam segini udah mandi keramas, biasanya juga nanti," ujar Asty saat melihat suaminya keluar dari kamar mandi, dengan keadaan rambut yang basah dan hanya melilitkan handuk di pinggang. "Ah, iya. Soalnya gerah, makanya aku langsung mandi." Evan terlihat gugup saat ditanyai oleh istrinya. "Gerah kok, hampir satu minggu. Itu namanya bukan gerah, tapi .... " Asty menghentikan ucapannya di batin, saat mendengar pertanyaannya suaminya. "Tumben kamu udah bangun, biasanya juga nanti, saat kamu sedang datang bulan." Evan melempar pertanyaan kepada istrinya. "Iya, Mas. Soalnya hari ini Vina kan mulai berangkat kuliah, jadi aku harus bangun pagi un
Read more
Penemuan Foto
Setelah sambungan telepon terputus tiba-tiba Evan mendengar derap langkah yang menuju ke ruangannya. Dengan cepat ia mengancingi kemejanya, dan juga menyuruh Rena masuk ke dalam kamar mandi. Untuk merapikan penampilannya sekaligus bersembunyi. Selang beberapa menit, pintu ruangannya terbuka, Evan tersenyum saat melihat istrinya datang, meski hatinya masih deg-degan. "Assalamu'alaikum." Asty mengucapkan salam seraya menutup pintu. "Wa'alaikumsalam." Evan mengencangkan dasinya, yang masih terasa kendur. "Sayang, ada apa? Tumben banget kamu datang ke kantor." Evan berjalan menghampiri istrinya, lalu mengecup keningnya. "Cuih, kenapa sekarang aku merasa jijik dengan kecupan ini. Meski aku belum yakin jika mas Evan bermain api di belakang aku, tapi aku merasa laki-laki ini sedang menyembunyikan rahasia dariku," batin Asty. "Ini dompet kamu ketinggalan." Asty menyerahkan dompet milik suaminya. "Makasih ya, Sayang. Tadi aku buru-buru sampai lupa." Evan menerima dompet itu, lalu memasuk
Read more
Video Call Istri Sah
Persendian Asty terasa lemas, bahkan foto itu sempat jatuh, syok, terkejut, dan juga kecewa telah menjadi satu. Bagaimana tidak kecewa, suami yang ia kira setia, rupanya telah mendua. Bisa-bisanya Evan menikah lagi dengan perempuan lain, dan perempuan itu adalah sahabat Asty, bahkan sahabat dekat. "Jadi ini balasan kamu, Luna. Kebaikanku kau balas dengan kecurangan. Teganya kamu menikah dengan suami sahabat sendiri, di mana hati nurani kamu sebagai seorang wanita," desisnya. Asty mengambil foto itu lalu dengan cepat ia memotretnya. Satu bukti kebusukan Evan kembali ia dapat, setelah ini ia akan mencari kebusukan suaminya itu lagi. "Apa mungkin testpack yang kemarin itu testpack Luna." Asty teringat akan testpack yang ia temukan di saku jas suaminya. "Apa gara-gara aku belum bisa memberi mas Evan keturunan. Tapi kita baru saja menikah satu tahun, bahkan untuk orang lain ada yang sampai lima tahun baru diberi momongan," gumam Asty. Setelah itu ia kembali merapikan buku tersebut, tak
Read more
Hampir Ketahuan
"Asty." Evan memandang Luna sesaat, setelah itu ia bangkit seraya memakai pakaiannya. "Ada apa, Mas?" tanya Luna dengan raut wajah bingung. "Asty video call." Evan menjawab seraya mengancingi kemejanya. "Terus kenapa, Mas buru-buru begitu. Udah biarin aja lah, nanti juga capek sendiri." Luna menarik tangan Evan agar pria itu kembali berbaring di sampingnya. "Asty bisa curiga, aku angkat dulu ya," ujar Evan. Berharap wanitanya itu mau mengerti akan posisinya saat ini. "Kenapa nggak kamu ceraikan aja sih, Mas. Jadi kita kan bebas," saran Luna. "Nggak bisa, soalnya uang yang buat hidupin kamu itu milik Asty. Tolong kamu ngertiin aku ya," terangnya. Sementara Luna hanya mengangguk setelah sejenak berpikir. "Kamu tunggu aku di sini ya, aku angkat telepon dulu." Evan keluar dari kamar dan memilih untuk duduk di ruang tamu. Setelah itu ia menggeser tombol berwarna hijau, untuk menerima panggilan dari Asty. [Assalamu'alaikum, Mas sekarang ada di mana? Kenapa lama banget sih angkatnya]
Read more
Evan Mati Kutu
Evan melotot ke arah Rena, iya suara itu adalah suara Rena, sekretaris pribadinya. Sementara itu, Asty semakin tajam menatap suaminya, tanpa ia mencari dan meminta, kebusukan suaminya perlahan terbongkar. Asty yakin, jika Evan memiliki hubungan khusus dengan Rena, sekretaris pribadinya. "Kamu sekretaris suami saya kan?" tanya Asty. Ia berjalan menghampiri Rena. Tangannya terlihat gemetar saat Asty berjalan mengelilinginya. "Kamu tidak perlu gemetar seperti itu, saya nggak bakal gigit kok," ujar Asty, seketika Rena mendongak. "Sayang, kita .... ""Aku ada urusan sama dia, Mas. Udah, Mas duduk aja sama Erik." Asty memotong ucapan suaminya. Evan hanya menghela napas, dan akhirnya ia pasrah. "Nama kamu Rena." Asty kembali melempar pertanyaan untuk Rena. "Iy-iya, Bu." Rena mengangguk. Asty kembali berputar memperhatikan penampilan sekretaris suaminya itu. "Dia bukan sekretaris biasa, dan profesinya juga bukan hanya sebagai sekretaris, tetapi juga ada yang lain," batin Asty."Sudah be
Read more
Kedatangan Madu
Detik itu juga suasana mendadak hening, Asty menatap dua manusia yang ada di hadapannya secara bergantian. Ternyata tidak sia-sia mengikuti mobil suaminya yang keluar dari kantor. Asty sudah menduga jika suaminya pasti akan pergi ke rumah istri mudanya, dan ternyata dugaannya benar. "Asty kamu .... ""Kenapa? Kaget lihat aku sudah ada di sini." Asty memotong ucapan suaminya. Sejujurnya Evan tidak layak disebut sebagai suami lagi. Evan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, raut wajahnya terlihat panik dan juga gugup. Begitu juga dengan Luna. Mereka pasti tidak pernah menyangka jika Asty akan datang, dan Asty bukan wanita bod*h yang bisa dibohongi oleh suaminya. "Asty aku .... ""Stop, aku sudah tahu semua kebusukan kalian. Aku tidak nyangka, ternyata kalian itu sama saja ya. Dan kamu, Luna aku bahkan sudah menganggap kamu sebagai saudara, tapi ini balasannya. Hah, sahabat macam apa, yang tega menikam sahabatnya sendiri dari belakang." Asty memotong ucapan Luna. "Aku melakukan ini
Read more
Bukan Obat Kuat
Asty terdiam cukup lama, ia memandangi dua wanita yang kini berdiri di hadapannya itu. Baru semalam ia mendatangi Luna, dan sekarang dia datang dengan membawa ibu mertuanya. Asty yakin, perempuan itu pasti sudah mengadu kepada ibu mertuanya. "Mungkin tidak ada salahnya jika aku menerima mereka, dengan begitu aku akan lebih mudah untuk membalas perbuatan mereka. Aku akan buat mereka menyesal seumur hidup, terutama kamu, Mas. Kamu yang memulainya, dan kamu yang paling pertama akan merasakan bagaimana tersakiti," batin Asty, ia tersenyum saat membayangkan bagaimana reaksi mereka nanti. "Oh, jadi kalian akan tinggal di sini. Boleh sih, tapi nggak gratis ya, apa lagi di sini tidak ada pembantu. Awalnya aku memang ingin mencari pembantu, tapi karena kalian sudah datang. Nggak ada salahnya kalau .... " Asty sengaja menggantung ucapannya. Ia dapat melihat raut wajah kedua wanita itu yang sudah memerah, karena merasa geram. "Heh, kamu mau menjadikan pembantu iya!" bentak Lidya. Perempuan se
Read more
Obat Pelemah Syaraf
Keesokan harinya, pukul setengah tujuh Evan mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya, semalam Rena tidak bisa tidur lantaran bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin Rena mengubungi istri Evan, karena hal itu akan menimbulkan rasa curiga. Alhasil Rena memilih diam, dan mencoba mencari akal agar Evan bisa pulih kembali seperti sedia kala. "Semalam istri kamu nelpon-nelpon terus, sengaja nggak aku angkat. Soalnya aku bingung harus jawab apa, tidak mungkin kan aku bilang kalau kita ada di hotel." Rena menceritakan jika semalam Asty menghubungi nomor Evan. "Sekarang handphone aku mana." Evan meminta ponselnya. "Ini." Rena menyodorkan benda pipih itu, setelahnya ia beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Evan membuka ponselnya, ada puluhan panggilan tak terjawab, serta beberapa pesan. Satu persatu Evan membukanya, pesan lebih banyak Luna yang mengirim. Hanya ada tiga pesan yang Asty kirim. Dengan segera Evan membalas pesan-pesan tersebut. Setelah itu ia kembali meletakkan ponselnya, tenag
Read more
Kedatangan Rena
Malu, itu yang kini mereka rasakan, bukan hanya Evan dan Rena yang merasa malu, tetapi juga Asty. Beruntung Asty masih memiliki hati, jika tidak mungkin ia akan mengarak pasangan pezina itu. Namun, jika Asty melakukan itu, perusahaan akan ikut terkena imbasnya. Demi menjaga nama baik perusahaan, ia menutupi masalah itu dari orang lain. Asty sengaja memanggil dokter pribadinya untuk memisahkan mereka berdua. Butuh waktu lama, akibatnya Evan yang harus menanggung semua itu. Ada syaraf yang rusak, yang membuat junior milik Evan tidak bisa berfungsi seperti biasanya. Menyesal sudah tidak ada gunanya lagi, dan mungkin ini karma untuknya. Setelah kejadian itu, Asty terpaksa memecat Rena, perbuatannya sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Evan juga akan berhenti dari jabatannya, Asty akan mengambil alih perusahaan itu. Dan tentunya perceraian mereka tetap akan berlangsung. Tak peduli Evan yang terus memohon untuk tetap hidup bersama. "Asty." Evan memegang tangan Asty saat wanita itu hendak ban
Read more
Awal Kehancuran Sevan
"Aku Rena, calon istri mas Evan. Sekarang aku sedang mengandung anaknya." Rena memberikan hasil pemeriksaannya dari rumah sakit. Luna merebutnya dan langsung membacanya, detik itu juga ia terkejut setelah membaca hasilnya. Luna tidak menyangka jika Evan bisa berbuat hal buruk itu, rasanya sakit jika dihianati. Luna menatap tajam wanita yang sedang berdiri di hadapannya itu, yang tak lain adalah Rena. "Ok, kalian selesaikan saja ya urusan kalian ini." Asty memilih untuk masuk ke dalam. Ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada mereka. Asty berdiri tak jauh dari mereka, ia ingin melihat apa yang akan terjadi. Sementara itu, Evan terlihat masih bingung, bagaimana tidak bingung, Rena datang dengan cara tiba-tiba, lalu meminta pertanggung jawaban. Sedangkan Luna belum tahu tentang hubungan mereka. Asty ingin tersenyum saat melihat ekpresi Evan yang kebingungan. Tiba-tiba Asty mendadak mual, mengingat suaminya itu yang sudah seperti piala bergilir. Bukan hanya satu wanita yang b
Read more
DMCA.com Protection Status