Catalog
23 chapters
Bab 1 Isu
Nadia menangis, terduduk di kursi sofa berwarna coklat di ruang tamu. Ruang tamu yang dicat berwarna putih telah diisi oleh beberapa orang. Di sebelah kanan Nadia, duduk sepasang suami istri dewasa. Mereka adalah orang tua Nadia. Ruang tamu yang bercat putih dengan dinding-dinding dihiasi oleh lukisan yang menarik, sangat mencekam saat ini. Sesekali terdengar suara isak tangis dari Nadia. Ketiga orang lainnya hanya terdiam. Di wajah mereka tersirat gambaran pikiran masing-masing. Ayah dan Ibu Nadia terdiam. Wajah mereka berdua seakan bingung dengan kondisi saat itu. Mata mereka memperhatikan ke arah anak perempuannya yang menangis di sebelah kanan. Ibu Nadia berulang kali menelan ludah. Tak terlukis senyum di bibirnya. Sedangkan Ayah Nadia yang duduk di samping kanan istrinya, sesekali mengisap rokok. Mukanya sudah memperlihatkan ketidaknyamanan ketika berada di ruangan tamu. Sedari tadi, mereka mendengarkan penjelasan dari anak kandung dan
Read more
Bab 2 Drama Korea
- 3 Tahun sebelumnya. -Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi atau RSDM (Rumah Sakit Dr. Moewardi) adalah rumah sakit pemerintah provinsi Jawa Tengah yang terletak di Surakarta, Indonesia. Selain menjadi Rumah Sakit Pemerintah, RSDM juga berfungsi sebagai Rumah Sakit Pendidikan, salah satu fakultas yang bekerja sama dengan rumah sakit ini adalah Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret. Nama rumah sakit ini diambil dari nama dr. Moewardi, seorang tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial.Rumah Sakit Umum Daerah yang tak jauh dari Kota Solo, merupakan rumah sakit utama di kota tersebut. Klasifikasi A membuat rumah sakit ini sangat penting untuk melayani masyarakat.Nadia mempercepat langkah kakinya. Kedua kaki itu seakan maraton di lintasan lari di stadion olah raga. Padahal... dia masih terlambat lima menit untuk masuk ke kantor. Tapi baginya, itu hal yang sangat memalukan. Hentakan
Read more
Bab 3 Harapan
Kedua gadis memakai baju dinas putih bercerita di meja cafetaria dengan ceria. Mereka cekikikan. Menceritakan beberapa hal yang penting dan juga hal tidak penting sama sekali. Makanan dan minuman yang mereka pesan sudah dilahap sampai tak bersisa. Cafe yang tak jauh dari tempat kerja mereka menjadi tempat alternatif untuk makan siang selain rumah makan padang yang ada di sebelah kantor mereka. Cafe yang menyajikan menu masakan nusantara yang cocok dengan lidah mereka, membuat mereka betah dan sering berkunjung ke cafe tersebut. Di saat jam makan siang seperti saat ini, pelanggan harus sabar menunggu pesanan mereka. Karena begitu banyak pelanggan yang antri di jam padat seperti siang ini. Kedua gadis yang bercengkrama tidak memedulikan begitu banyaknya orang di cafe tersebut. Mereka tetap bercerita dan bercanda dengan alur mereka sendiri. Jika bertemu, tak akan habis bahan yang menjadi obrolan bagi kedua gadis itu, tapi m
Read more
Bab 4 Mandiri
Cuaca sore hari yang cerah di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Surakarta sangat tenang. Gedung dan lorong-lorong rumah sakit masih disibukkan oleh beberapa orang yang berlalu lalang, baik sebagai pasien ataupun sebagai staf dan pekerja di Rumah Sakit dr. Moewardi. Bau obat yang khas seperti Rumah Sakit pada umumnya, tercium sangat menyengat. Aura Rumah Sakit dengan dipenuhi oleh orang-orang yang berobat jalan ataupun sebagai pasien bermalam, terlihat jelas dari kondisi manusia yang lebih banyak pasien dibandingkan tenaga medis. Para pengunjung sebagai keluarga yang mengantar atau menjenguk pasien juga membuat Rumah Sakit Umum Daerah itu semakin ramai. Di keramik putih yang berlorong panjang, memiliki tiang-tiang penyanggah untuk atap yang menutupi lorong itu, Nadia berjalan pelan. Dia melewati lorong yang bertiang di kiri kanannya yang berjarak sekitar 1 meter setiap  tiang. Tiang-tiang itu dicat berwarna abu-abu. Gadis yang memiliki kulit putih dan bertubuh ra
Read more
Bab 5 Berbakti
Mobil hitam Avanza menyusuri jalan komplek perumahan yang masih berbatu, belum beraspal hitam. Mobil itu berjalan dengan perlahan melalui barisan rumah-rumah kecil yang dilihat dari luar dapat dipastikan bahwa rumah itu adalah rumah tipe sederhana.Di sore hari ini, Nadia baru saja pulang dari Rumah Sakit Umum Daerah tempat dia bekerja. Rutinitas yang dilakukannya di hari kerja atau week day. Dengan santai Nadia menyetir menyusuri jalan tak beraspal. Beberapa kali dia melihat kaca spion di kanan untuk mengecek apakah ada kendaraan di belakang yang mengikuti atau akan menyalipnya. Dia waspada karena akan berbelok ke kanan, menuju jalan di depan rumahnya.Merasa aman, Nadia membanting stir ke kanan secara perlahan, kemudian mengendarai mobil hitam, melewati beberapa rumah dari pangkal jalan untuk menuju rumahnya. Rumahnya tepat berada di kanan jalan. Setelah melewati empat rumah setipe dengan rumahnya, Nadia berhenti di depan rumahnya. Turun dari mobil dan membuka pintu
Read more
Bab 6 Tidak Jantan
"Iya, Mas. Saya baru saja pulang."Nadia berbicara di balik telepon. Dia sedang duduk bersandar di punggung tempat tidur. Dia berada di dalam kamar tidurnya. Menselonjorkan kakinya, rata dengan tempat tidur. Memanjakan dirinya dengan sikap santai di kamar yang tak terlalu lebar."Mas, sudah pulang kerja?" tanya gadis itu, tentu saja masih di jalur komunikasi elektronik. Ada sedikit nada manja terdengar dari suara Nadia."Oh. Iya... iya, Mas. Enak dong, siang sudah pulang, kan jadinya tidak diatur-atur orang lain karena punya usaha sendiri,” jelasnya lagi. Nadia berusaha mengungkapkan pendapatnya.Gadis berambut panjang itu mengambil bantal dan meletakkan di atas pahanya. Tangan kirinya tanpa sadar memutar-mutar ujung sarung bantal yang berada di paha, berwarna merah muda. Sesekali dia menekukkan batang lehernya bertingkah sedikit aneh, terlihat dari gerakannya. Wajahnya terlihat sumringah."Enggak boleh gitu, Mas. Pamalih, Mas Am sudah dikasi
Read more
Bab 7 Dingin
Nadia menyetir mobilnya secara perlahan, berbelok ke kanan menuju pintu masuk utama rumah sakit. Mobil diberhentikan pas di bawah gapura utama bertuliskan RUMAH SAKIT Dr. OEN SOLO BARU dan dibawah ada tulisan berukuran kecil dibandingkan dengan tulisan di atas tadi yaitu SUKOHARJO. Mesin otomatis untuk parkir juga pas berada di bawah gapura itu. Nadia menghentikan mobil untuk mengambil kertas parkir. Gadis itu membuka kaca jendela dan menekan tombol warna hijau di mesin parkir otomatis, kemudian dia mengambil kertas parkir yang menyembul keluar dari satu bibir di mesin itu. Nadia kemudian kembali menutup kaca jendela mobil dengan menekan satu tombol sekali, menjalankan kendaraan itu dan mengambil ke kanan, mengarah ke lapangan parkir. "Besar rumah sakitnya ya, Dek?" Seorang perempuan yang duduk di kursi tengah untuk penumpang tiba - tiba berkata. Dia sedang memeluk seorang anak laki - laki yang duduk
Read more
Bab 8 Ngapain?
Lorong utama Rumah Sakit dr. Moewardi sangat ramai dikunjungi pasien setiap hari. Begitu juga dengan pagi ini. Berbagai macam manusia dengan tingkah, gaya dan bau beraneka ragam sudah berkumpul di lorong itu. Padahal matahari belum sampai sepenggalahan di hari ini. Tak tahu mengapa hari ini begitu banyak manusia yang berlalu lalang dan berdiri di lorong utama. Nadia berusaha berjalan di lorong utama menuju lobi dengan berhati-hati agar tidak berbenturan dengan orang lain. Sesekali dia menebarkan senyum kepada orang yang berselisih jalan dengannya, terutama dengan tenaga medis yang dikenalnya. Gadis yang memakai baju dinas berwarna putih, lebih menyerupai seperti jas, ingin menuju ke ruangan administrasi. Ada beberapa berkas yang ingin dilihat. Ketukan sepatunya terdengar cepat, dia berjalan seperti biasanya, lincah dan gesit. Kelincahan juga teruji dengan menghindari beberapa orang di lorong yang berjalan dengan seenaknya. Tak memedulikan or
Read more
Bab 9 Pesona
"Kita ambil sampel darah Dek Rafi ya, Mba?" Arkan menoleh ke arah Ibu pasien setelah memeriksa tubuh anak laki-laki yang berumur sembilan tahun. Berdiri menghadap ke Ibu Pasien. "Tidak ada hal yang serius kan, Mas Dokter?"Ibu pasien yang ternyata adalah Kakak Nadia menimpali pernyataan dr. Arkan dengan cemas. "Mudah-mudahan tidak, saya hanya memastikan saja. Karena sudah seminggu dari pemeriksaan pertama, suhu tubuhnya kembali naik." Dokter Arkan memberi kode kepada perawat laki-laki yang berada di sebelahnya. Kode agar mengurus anak laki-laki yang sudah diperiksa olehnya. Perawat yang bertubuh tinggi dan ramping, langsung merapikan pakaian anak laki-laki yang sedang berbaring dalam keadaan sadar. Perawat laki-laki yang memiliki rambut lurus dipotong pendek, membantu Sang Pasien duduk di atas tempat tidur yang dibalut dengan kain berwarna biru muda, pada gerakan selanjutnya. Ibu pasien, berus
Read more
Bab 10 Kesal
"dr. Arkan sedang istirahat, Mba." "Tapi... sekarang sudah hampir jam 2 siang...." "Biasanya setelah makan siang, dr. Arkan langsung Sholat Zhuhur, dia memang selesai istirahat jam 2 siang, baru kembali masuk ke ruang praktek." Perawat perempuan yang berkacamata menjelaskan dengan lembut kepada Nadia. Nadia manyun. Dia hanya bisa keluar dari tempat kerjanya pas istirahat juga. Itu pun... tadi dia izin keluar dari jam 11 siang agar bisa kembali dengan cepat. Ternyata jalanan macet, seharusnya perjalanan dari Rumah Sakit Umum Daerah dr. Moewardi ke Rumah Sakit dr. Oen Solo Baru,bisa ditempuh dalam waktu setengah jam, akhirnya menjadi satu jam perjalanan. Nadia kembali ke Rumah Sakit Swasta yang berlokasi di Sukoharjo untuk mengambil hasil tes darah keponakannya. Sampai di Ruang Sampling, dia harus menunggu 1 jam lagi. Dan akhirnya hasil tes sudah keluar dan akan diserahkan
Read more
DMCA.com Protection Status