TOXIC RELATIONSHIP

TOXIC RELATIONSHIP

Oleh:  Triyuki Boyasithe  On going
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
9.8
Belum ada penilaian
30Bab
4.6KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Tinggalkan ulasan Anda di APP

Sebuah kisah tentang seorang lelaki yang ingin menyelamatkan rumah tangganya dari kehancuran. Imej jelek yang melekat di dirinya membuatnya tidak dianggap.Sumando, kata yang berasal dari bahasa Minang ini memiliki arti sebagai menantu laki-laki, tapi ada tambahan Lapiak Buruak, yang artinya tikar yang sudah jelek sekali. Makna dari Sumando Lapiak Buruak adalah suami yang lebih suka menghabiskan waktu di rumah, berleha-leha dengan anak bini. Lelaki yang malas bekerja mencari nafkah demi menghidupi keluarganya.Tersebutlah Syamil Wafiq, nama lelaki itu. Keberadaannya di rumah sang istri tidak begitu dianggap. Dia cenderung tertutup, dan tidak bisa bergaul dengan orang-orang.Hal itu membuat Shanum Diya-istrinya-merasa bak makan buah simalakama. Suaminya menjadi bahan gunjingan dan lama kelamaan, rumah tangganya berada di ujung tanduk. Bagaimanakah kisah ini bergulir? Akankah Syamil bisa menyelamatkan keluarganya?Sumber gambar:Designed by Freepik

Lihat lebih banyak
TOXIC RELATIONSHIP Novel Online Unduh PDF Gratis Untuk Pembaca

Bab terbaru

Buku bagus disaat bersamaan

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Komen
Tidak ada komentar
30 Bab
1. PERTENGKARAN
Hidup di dunia ini banyak serba salahnya. Jika tidak pandai-pandai menyikapi keadaan, putus hubungan kekerabatan. Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Begitu ujar pepatah lama yang sering didendangkan oleh para perebab dari ranah Pasisia.Hal itulah yang dialami oleh Syamil saat ini. Tujuannya berumah tangga adalah mencari ketenangan batin, tentunya juga sebagai ibadah yang disunahkan oleh Rasulullah. Namun, membangun mahligai suci itu tentu tidak segampang yang dipikirkan. Halangan dan hambatan sudah pasti akan menyertai perjalanan anak manusia.Di dalam kamar, di depan meja rias, Shanum Dhiya—istrinya terisak-isak menahan tangis. Beberapa helai tisu terbuang, lalu dibiarkan mengotori lantai."Malu aku, Uda. Malu! Sudah pekak telingaku mendengar gunjingan orang. Sampai kapan aku akan tersiksa dengan semua ini?" Shanum menghapus ingus untuk ke sekian kalinya. Matanya sudah bengkak, cuping hidungnya memerah karena menangis."Lalu apa yan
Baca selengkapnya
2. LUBUAK BURAI
Pagi menjelang. Udara terasa begitu dingin. Shanum sudah berkutat di dapur semenjak selesai salat Subuh. Sementara Syamil masih bergelung di dalam selimut."Bagaimana hidup bisa berubah lebih baik, kalau bangun pagi saja malas? Heran aku sama laki. Bukan salahku juga kalau aku harus keguguran untuk kedua kalinya. Tidak patut juga dia kecewa berlebihan, seolah-olah keguguran itu akibat aku tidak berhati-hati. Padahal sudah sedaya upaya aku menjaga kehamilanku itu. Namun, semua sudah kehendak Tuhan. Aku mesti bagaimana? Protes sama Tuhan? Atau ikut mati bersama dengan gugurnya janin di dalam perutku? Uda Syamil benar-benar tidak masuk di akal." Shanum menggerutu sambil menggiling cabe. Dia masih tidak puas dengan pertengkarannya tadi malam. Belum ada titik temu antara dia dan Syamil."Apa, sih, susahnya mengabulkan permintaanku? Hanya ingin dia berbaur dan bersosialiasi dengan orang-orang. Apa dia tidak malu digunjingin orang banyak? Aku sebagai bininya saja sudah serasa
Baca selengkapnya
3. SHANUM
Shanum sampai di pasar Batusangkar setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit dari kampungnya menggunakan ojek. Dia sampai di toko pukul sembilan lewat lima menit. Selama masa pandemi ini, toko buka agak siang dan juga tutup lebih cepat.Beruntungnya Shanum memiliki majikan yang sangat baik. Walau Shanum sering datang terlambat, pemilik toko tidak menganggap itu masalah besar.Majikannya itu bernama Gibran. Usianya hanya terpaut lima tahun dari Shanum. Kalau Shanum tiga puluh tahun, maka bosnya itu tiga puluh dua tahun, sedang  Syamil usianya tiga puluh dua tahun.Gibran berperawakan tinggi besar, berwajah bak orang Arab. Badannya yang tegap dan rupa yang tampan, sedikit banyaknya menjadi dilema tersendiri bagi Shanum. Apalagi Gibran sudah dua tahun menduda. Sedangkan Shanum adalah satu-satunya karyawati di toko tersebut.Gibran sedikit tersentak ketika mendengar salam dari luar toko. Dia yang sedang menyusun baju, segera menoleh ke arah sum
Baca selengkapnya
4. GUA RAHASIA
Syamil sedang duduk di bebatuan sembari tangannya bermain-main di dalam air yang mengalir tenang di sela-sela akar pohon.Kicau burung terdengar riang, angin pun berbisik lirih. Sepi. Itulah yang Syamil rasakan. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan selain menyendiri dan menghabiskan waktu di tempat sunyi seperti Lubuak Burai ini.Namun, tidak ada satu pun yang benar-benar tahu apa yang Syamil lakukan di daerah itu. Semua orang menduga Syamil hanya stres dan depresi. Bukan rahasia lagi kalau dia kehilangan banyak hal dalam hidupnya.Awal-awal dia dipecat dari pekerjaannya, semua orang menaruh simpati. Begitu juga ketika Shanum keguguran, semakin banyak orang yang menaruh iba. Namun, ketika Syamil mulai berteriak-teriak di Lubuak Burai, satu per satu gunjingan memenuhi langit Galogandang.Dia yang selama ini dikenal ramah, suka bergaul, dan menjadi tempat bertanya bagi orang-orang, perlahan-lahan penduduk kampung mulai menjaga jarak. Mereka membiarkan Syami
Baca selengkapnya
5. KANAYA
Shanum berusaha memperbaiki moodnya yang terlanjur rusak. Dia yang tidak sarapan di rumah, masih berharap Gibran akan cepat kembali membawa makanan. Namun, sampai jam sebelas lewat, lelaki itu belum juga kembali. Hati Shanum terasa sakit. Beginikah rasanya diberi janji dan harapan?Tidak mau tenggelam dalam kesedihan yang tak berujung, Shanum segera mengeluarkan bekal dari rumah. Andai Gibran tidak berjanji, tentu dia sudah mengisi perutnya sedari tadi.Baru beberapa sendok, dia mendengar deheman di samping kanannya. Gibran melempar senyum, terlihat rasa bersalah di wajahnya."Makan, Num?" tanyanya sambil membersihkan tenggorokan yang mendadak serak."Iya, Uda. Makan, Uda?" Shanum melempar senyum semringah sembari mengangkar sendok.Gibran tidak menduga kalau Shanum akan menyambutnya hangat. Tadi dia merasa Shanum akan marah melihatnya yang datang terlambat."Lanjut, Num. Maaf, ya? Tadi aku lama keluarnya. Kanaya minta ditemani membeli baju.
Baca selengkapnya
6. RENCANA JAWINAR
Lama Gibran termangu di meja makan setelah mendengar ucapan Kanaya. Dia tidak menduga sama sekali kalau Shanum memiliki rasa kepadanya. "Sudah, jangan dipikirin. Toh, kalau jodoh enggak bakalan ke mana, Uda. Lagian cocok, kok. Uni Shanum cantik alami, Uda juga tidak kalah gagah dan tampannya. Cocoklah kalian berdua itu." Kanaya menghapus sisa-sisa makanan di bibirnya dengan sehelai tisu. Dia menatap Gibran yang terlihat kebingungan. "Masalahnya, Naya, Shanum itu masih mempunyai suami. Rasanya tidak mungkin kami bisa bersatu. Walau jujur kukatakan, aku menyukainya. Dia itu ... bisa membuatku merasa penting." Wajah Gibran memerah. Terlihat malu setelah menyatakan hal tersebut. "Hahaha. Ampun, deh. Uda kayak anak ABG saja. Ya, kalau tidak memungkinkan untuk mendapatkan dia, berarti ada peluang bagiku untuk mengisi ruang hatimu." Seketika senyum di bibir Gibran menghilang. Wajahnya kembali pucat. "Hahaha,  Ya Tuhan, wajah Uda pucat sekali.&nb
Baca selengkapnya
7. ANCAMAN
Syamil menatap Pak Afdal yang terkapar pingsan di lantai gua. Kebencian masih membara di dalam dadanya. Jika dia turutkan hati, ingin dia membunuh lelaki berusia empat puluh lima tahun tersebut."Beruntung kau masih bernafas sampai sekarang, Pak Afdal. Andai dulu kau tidak memecatku, hidupku tidak akan hancur begini. Lihatlah, lihatlah bagaimana aku sekarang! Pengangguran! Semua orang meremehkanku. Semua orang memandangku sebelah mata kini. Bahkan, istri yang kucinta pun mulai berubah. Tidak lagi dia bahagia menjalani hidup denganku, Pak Afdal. Semua itu gara-gara kau, Bangsat!" Syamil menendang tulang rusuk Pak Afdal, membuat lelaki itu tersadar, lalu berteriak kesakitan. Tubuhnya melejang-lejang menahan perih di tulang rusuknya itu."Kau bajingan, Syamil! Jika kau tidak mau membebaskanku, lebih baik bunuh saja aku sekarang! Aku tidak tahan dengan semua siksaan yang kau berikan. Bunuh aku, Syamil! Bunuh!" Pak Afdal berusaha bangkit walau tangannya masih terikat. Tubuh
Baca selengkapnya
8. BALAS DENDAM
"Aku tidak habis pikir kenapa Bapak begitu terobsesi dengan istriku? Bahkan setelah aku tidak lagi bekerja di perusahaan Bapak, dan kita bertemu secara tidak sengaja, Bapak masih berharap bisa mendapatkan istriku. Sungguh, orang seperti Bapak tidak pantas dibiarkan hidup lebih lama lagi di dunia ini!" Syamil kembali mendudukkan Pak Afdal di atas kursi. Mengikat kembali tangan dan kaki lelaki setengah baya tersebut. Darah yang menetes dari mulutnya mulai berkurang. Wajahnya benar-benar tidak bisa lagi dikenali. Penuh lebam dan bengkak di beberapa bagian."Syamil ... tolong lepaskan aku. Aku berjanji tidak akan melaporkanmu ke polisi. Aku juga bersumpah akan menghapus semua rekaman itu. Aku mohon belas kasihmu, Syam. Ini ... ini sangat menyakitkan. Aku mohon maafmu! Aku ... aku akan ... melakukan apa saja untukmu. Tolong aku ....""DIAAAM!" Mata Syamil melotot, telapak tangannya menampar pipi Pak Afdal kuat. Saking kerasnya tamparan itu, telapak tangan Syamil terasa keba
Baca selengkapnya
9. RAHASIA SHANUM
Shanum sampai di rumah ketika jam di tangan menunjukkan pukul sembilan malam. Di teras, Syamil menunggu dengan muka kusam. Ada kemarahan dan kekesalan terpatri di wajah tirusnya. Perempuan itu mengucap salam sambil memasang senyum manis. Namun, Syamil mengabaikan salam tersebut dan memegang tangan istrinya cepat."Kenapa baru pulang?" Suara Syamil terdengar bergetar. Ada nada tidak suka di sana."Apa, sih, Uda? Bukannya tadi aku sudah kirim WA ke HP-mu, Uda. Makanya punya ponsel itu dipakai, bukan dianggurin.""Kenapa tidak kau telepon saja aku? Kenapa harus WA? Kau pergi ke mana dan dengan siapa, Shanum?" Syamil makin mempererat genggamannya di tangan perempuan cantik itu. Shanum merasa kesakitan. Dia sentakkan sekuat tenaga cengkeraman Syamil."Sakit, Uda. Uda kenapa, sih? Aku tidak menelepon karena tidak ingin mengganggumu. Lagian aku hanya pergi acara pernikahan temanku. Apa itu masalah bagimu, Uda?" Shanum meraba tangannya
Baca selengkapnya
10. BERSEDIH HATI
Kokok ayam jantan di sepertiga malam membangunkan Shanum dari lelapnya tidur. Bagian bawah perutnya terasa sesak. Tidak biasanya dia terbangun di jam segini. Shanum menduga, mungkin karena dia tidak bisa tidur. Pikirannya hanya tertuju untuk hari esok. Dia mulai membayangkan menggunakan busana apa untuk pergi dengan Afdal. Jika tidak takut Syamil curiga, mungkin dia sudah membongkar isi lemari dan mencoba berbagai baju yang dia miliki.Sambil menghela napas, Shanum menurunkan kakinya menjejak lantai. Dia menekan saklar lampu, sehingga membuat kamar jadi terang benderang. Di saat itulah dia tidak melihat keberadaan Syamil di atas ranjang."Uda?" Shanum memanggil pelan. Dia berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar tersebut. Dengan hati-hati, Shanum mendorong pintu, tapi sosok yang dia cari tidak ada. "Udaaa? Uda di mana?" Kali ini Shanum lebih mengeraskan volume suaranya. Namun, tetap tidak ada jawaban. Sebelum memutuskan mencari suaminya lebih jauh, Shanum segera buan
Baca selengkapnya
DMCA.com Protection Status