Bagaimana Cara Menghindari Riya Dan Sum'Ah Menurut Quotes Ulama?

2026-05-14 09:03:50
279
Share
ABO Personality Quiz
Take a quick quiz to find out whether you‘re Alpha, Beta, or Omega.
Scent
Personality
Ideal Love Pattern
Secret Desire
Your Dark Side
Start Test

3 Answers

Aaron
Aaron
Penyimak Peternak
Dulu waktu masih aktif di organisasi, aku sering banget dapat pujian karena kerja sosial. Awalnya senang, tapi lama-lama risih karena merasa seperti dipuji terus. Lalu kutemukan quote Ibn Ata'illah: 'Amal yang paling sulit adalah yang tersembunyi dari manusia tapi terlihat oleh-Nya.' Sejak itu, aku belajar mengurangi dokumentasi kegiatan yang terkesan pamer. Misalnya, foto-foto kegiatan tidak perlu semua diupload, cukup beberapa untuk dokumentasi internal.

Aku juga belajar dari kisah seorang ulama yang menolak diwawancarai setelah berbuat kebaikan. Katanya, 'Kalau Allah sudah tahu, ngapain cari tahu orang lain?' Sekarang, kalau dapat proyek sosial, aku lebih sering memilih jadi tim belakang layar. Rasanya lebih tenang, dan justru lebih produktif karena tidak terganggu ekspektasi publik.
2026-05-18 02:37:54
11
Kara
Kara
Pembaca Aktif Guru
Ada satu momen di mana aku sedang membaca buku 'Kimiyatul Sa'adah' karya Al-Ghazali, dan tiba-tiba terpikir betapa seringnya kita terjebak dalam pujian orang lain tanpa sadar. Al-Ghazali bilang, riya itu seperti debu halus—menempel tanpa kita sadari. Salah satu caranya adalah dengan selalu mengingat niat awal. Misalnya, sebelum posting amal di media sosial, tanya diri: 'Aku bantu orang demi likes atau karena Allah?' Aku sendiri pernah terjebak, lalu sekarang memilih lebih banyak beramal secara diam-diam.

Selain itu, Imam Syafi'i pernah berpesan: 'Perbaiki hatimu, niscaya amalmu akan mengikuti.' Jadi, introspeksi itu kunci. Aku mulai rutin mencatat aktivitas harian dan menandai mana yang terasa 'terlalu ingin dilihat'. Kalau ada, segera evaluasi. Juga, bergaul dengan orang-orang yang tulus membantu mengingatkan kita untuk ikhlas. Mereka ibarat cermin yang jujur memantulkan niat kita.
2026-05-19 08:35:26
6
Xander
Xander
Ahli Novel Polisi
Pernah denger cerita tentang sahabat yang menyedekahkan emas di malam hari biar gak ketahuan? Itu jadi pelajaran buatku tentang sum'ah. Aku menerapkannya dengan cara sederhana: misalnya, kalau mau bagi-bagi makanan ke tetangga, lebih suka menitipkannya di depan pintu tanpa bilang siapa yang ngasih. Atau saat transfer sedekah online, memilih opsi 'anonim'. Ulama sering bilang, ikhlas itu seperti bernafas—harus terus dilakukan tanpa perlu diumumkan. Jadi, aku berusaha membuat kebiasaan kecil seperti itu sebagai latihan melawan riya.
2026-05-19 09:23:39
11
View All Answers
Scan code to download App

Related Books

Related Questions

Bagaimana cara menghindari riya dan sum'ah menurut Islam?

2 Answers2025-12-11 22:58:32
Pernah gak sih merasa gemes sama diri sendiri karena udah berbuat baik tapi kok pengin diketahui orang? Aku sendiri sering banget ngerasain itu. Menurut pengalamanku, kunci utamanya adalah niat. Sebelum ngelakuin apapun, aku selalu coba tanya dalam hati, 'Ini buat siapa sih?' Kalau jawabannya masih ada unsur 'biar dipuji', ya aku tunda dulu sampai niatnya benar-benar bersih. Salah satu trik yang kubikin adalah 'ritual diam'. Misalnya habis sedekah atau bantu orang, langsung tutup mulut rapat-rapat. Malah kadang sengaja sembunyiin perbuatan baik itu. Lucu sih, tapi efeknya bikin hati adem. Aku juga suka baca kisah para salafus shalih yang amalannya gak ketahuan sampe mereka meninggal. Itu bikin aku mikir, kalau mereka aja bisa, kenapa kita enggak? Terakhir, aku selalu ingat hadits tentang tiga orang pertama yang diadili di akhirat nanti - betapa menyeramkannya jadi orang yang amalnya sia-sia karena riya.

Cara menghindari riya dan sum'ah dalam beramal?

3 Answers2026-01-30 00:27:00
Ada satu cerita dari pengalaman pribadi yang membuatku tersadar tentang bahaya riya. Dulu, aku sering posting kegiatan amal di media sosial dengan caption ala-ala 'bersyukur bisa berbagi'. Lama-lama, aku sadar bahwa likes dan komentar pujian justru jadi motivasi utama, bukan niat ikhlas. Sekarang, aku punya ritual kecil sebelum beramal: menutup mata sejenak, membayangkan tangan kanan memberi sedekah sementara tangan kiri benar-benar tak tahu. Visualisasi sederhana ini membantuku mengingatkan diri sendiri. Hal praktis lain yang kupelajari adalah 'amal rahasia'. Sesekali, aku sengaja menyisihkan uang untuk dibagikan secara anonim—entah itu dimasukkan ke kotak infak tanpa dilihat orang atau mengirim bantuan tanpa mencantumkan nama. Rasanya berbeda, lebih ringan dan tulus. Justru ketika tidak ada yang tahu, hati lebih tenang karena yakin itu murni untuk Sang Pencipta, bukan apresiasi manusia.

Cara menghindari ciri ciri riya dan sum'ah menurut Islam?

3 Answers2026-05-14 01:23:24
Ada satu momen dalam hidup yang bikin aku tersadar tentang bahayanya riya. Waktu itu, aku baru aja selesai ngisi kajian di masjid, trus ada temen yang bilang, 'Wah, kamu keren banget, udah pinter ngaji, bisa ceramah lagi.' Aku langsung ngerasa bangga, tapi kemudian ngeh. Kok kayaknya niat awal aku ngaji bukan buat Allah, tapi biar dipuji orang? Mulai dari situ, aku belajar buat selalu introspeksi niat sebelum berbuat sesuatu. Rasulullah SAW ngajarin kita buat ikhlas lewat hadis, 'Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.' Jadi, kuncinya ada di niat. Aku sekarang selalu tanya ke diri sendiri, 'Buat apa aku melakukan ini? Buat Allah atau buat dilihat orang?' Selain itu, aku juga belajar buat sembunyikan amal baik. Kayak sedekah, misalnya. Awalnya suka pengen dipamerin di media sosial biar dapat like, tapi sekarang lebih milih ngasih diam-diam. Pas baca Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 271, Allah bilang kalo sedekah yang disembunyiin itu lebih baik. Rasanya lega banget pas bisa ngerasain nikmatnya berbuat baik tanpa perlu diceritain ke orang lain. Intinya, melawan riya itu proses seumur hidup, tapi dengan terus mengingat Allah dan evaluasi diri, Insya Allah kita bisa lebih ikhlas.

Apa contoh quotes tentang riya dan sum'ah dalam Islam?

3 Answers2026-05-14 03:38:31
Ada satu kutipan dari 'Riyadhush Shalihin' yang selalu bikin aku merenung: 'Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit.' Ini ngingetin aku bahwa niat tulus jauh lebih berharga daripada pamer ibadah. Pernah denger juga perkataan Imam Al-Ghazali: 'Orang yang riya’ itu seperti pedagang yang merugi, ia menghabiskan modal amalnya untuk pujian manusia.' Sedih banget kan? Kita bisa beribadah bertahun-tahun, tapi karena ingin dilihat orang, jadi nihil nilainya. Di 'Hadis Arba’in' juga ada sabda Nabi Muhammad SAW: 'Tiga hal yang membinasakan: kekikiran yang dituruti, hawa nafsu yang diumbar, dan seorang yang membanggakan dirinya sendiri.' Ini ngegas banget buat aku yang kadang suka kepincut pengen dibilang 'alim' sama temen-temen. Sekarang tiap mau posting kegiatan agama di sosmed, selalu tanya dulu ke diri sendiri: 'Ini buat Allah atau buat likes?'

Apa hubungan antara syukur dan menghindari riya serta sum'ah?

3 Answers2026-05-14 11:01:17
Ada sesuatu yang sangat dalam ketika kita berbicara tentang syukur dan bagaimana itu bisa menjadi tameng alami terhadap riya' dan sum'ah. Syukur, dalam esensinya, adalah pengakuan tulus bahwa segala sesuatu yang kita miliki atau capai adalah berkat dari Yang Maha Kuasa. Ketika kita benar-benar bersyukur, kita meletakkan segala pencapaian pada tempatnya—bukan sebagai hasil kehebatan diri sendiri, tapi sebagai anugerah. Ini secara otomatis mengurangi kecenderungan untuk pamer (riya') atau mencari validasi orang lain (sum'ah). Pernah nggak sih merasa pengin dipuji habis-habisan setelah melakukan sesuatu? Nah, di situlah syukur bekerja sebagai pengingat halus. Misalnya, ketika dapat nilai bagus, alih-alih mempostingnya dengan caption 'Lihat nih IQ 150 gampang banget', lebih baik diam-diam berterima kasih pada Tuhan dan berbagi ilmu ke teman. Syukur mengalihkan fokus dari 'aku' ke 'kita', dan dari 'pencapaianku' ke 'karunia-Nya'. Pola pikir ini bikin riya' dan sum'ah kesulitan cari celah buat numpang lewat.

Siapa tokoh yang sering bicara soal quotes riya dan sum'ah?

3 Answers2026-05-14 01:16:20
Menggali topik ini mengingatkanku pada sosok Ustadz Felix Siauw yang kerap membahas konsep riya dan sum'ah dalam konten-kontennya. Dia menjelaskan dengan analogi sederhana seperti 'ibadah yang dikemas untuk Instagram story'—bagaimana niat baik bisa terkontaminasi oleh keinginan dipuji. Yang menarik, dia tak hanya berhenti di definisi tapi juga memberi solusi praktis: 'Kalau ingin posting amal, tunggu tiga hari.' Gaya komunikasinya yang santai namun mendalam membuat konsep berat ini mudah dicerna generasi muda. Aku sendiri sering refleksi setelah denger ceramahnya, mikirin ulang motivasi di balik aksi-aksi 'baik' yang aku lakukan.

Quotes motivasi tentang bahaya riya dan sum'ah?

3 Answers2026-05-14 16:45:03
Ada satu kutipan dari novel klasik 'The Screwtape Letters' karya C.S. Lewis yang selalu bikin merinding: 'Kesombongan spiritual adalah kanker yang tumbuh diam-diam di antara orang-orang baik.' Ini nggak cuma berlaku buat aktivitas keagamaan, tapi juga segala bentuk pencitraan diri. Pernah ngerasain kan, saat membantu orang tapi diam-diam pengin dianggap pahlawan? Bahayanya, kita bisa terjebak dalam siklus narsisme terselubung yang justru menghancurkan makna sebenarnya dari berbuat baik. Di dunia digital sekarang, fenomena sum'ah (pamer amal) makin vulgar. Kayak pepatah Arab kuno bilang: 'Amal yang disertai riya' ibarat debu yang beterbangan.' Artinya, sekecil apa pun niat pamer, itu udah menghapus nilai ibadah itu sendiri. Mirip banget sama fenomena influencer yang charity cuma buat konten - di depan kamera dermawan, di belakang layar malah hitung-hitungan view.

Bagaimana cara menghindari riya menurut hadits?

5 Answers2026-06-30 21:54:14
Ada satu momen di tengah kesibukan harian yang membuatku teringat ceramah ustaz tentang riya. Beliau bilang, Nabi Muhammad SAW mengajarkan dalam hadits bahwa amal itu harus ikhlas, seperti nafas yang keluar masuk tanpa perlu dipamerkan. Aku selalu mencoba mengingat niat sebelum melakukan apapun—apakah untuk dilihat orang atau benar-benar untuk Allah? Praktik kecil yang kubiasakan adalah menutupi sedekah. Rasulullah dalam hadits riwayat Bukhari-Muslim menekankan tangan kanan memberi tanpa diketahui tangan kiri. Kadang aku sengaja transfer donasi diam-diam atau membantu teman tanpa sebut nama. Rasanya lega sekali, seperti melepas beban dari punggung.

Bagaimana mengatasi sifat riya dan sum'ah dalam beramal?

2 Answers2025-12-11 11:58:16
Ada momen di mana aku tersadar setelah memposting screenshot donasi ke media sosial—rasanya ada sesuatu yang garing. Ternyata, niat awal membantu justru terkikis oleh keinginan dipuji. Kitab 'Ihya Ulumuddin'-nya Al-Ghazali pernah bikin aku merenung: 'Amal yang dicampur riya bagai debu di mata'. Mulai sekarang, aku coba praktikkan 'amal sirri' (rahasia). Misalnya, sedekah lewat transfer tanpa nama atau bantu teman tanpa cerita ke orang lain. Rasanya lega sekali! Syekh Ali Jaber bilang, 'Jaga amal seperti jaga rahasia cinta'. Perlahan, ego itu menyusut ketika kita fokus pada esensi memberi, bukan aplaus. Trik lain yang kubiasakan: mengingat kematian sebelum beramal. Bayangan liang kubur yang gelap dan sunyi bikin ngilu—di sana, likes dan komentar tak ada artinya. Justru yang berbicara adalah catatan malaikat tentang ketulusan. Aku juga sering baca surat Al-Ma'un buat refleksi; ayat tentang orang yang saling pamer sedekah itu kayak tamparan. Sekarang, kalau ada dorongan pamer, langsung kubaca 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' sebagai reminder: semua akan kembali pada-Nya, bukan pada follower count.
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status