Ada momen di mana aku tersadar setelah memposting screenshot donasi ke media sosial—rasanya ada sesuatu yang garing. Ternyata, niat awal membantu justru terkikis oleh keinginan dipuji. Kitab 'Ihya Ulumuddin'-nya Al-Ghazali pernah bikin aku merenung: 'Amal yang dicampur riya bagai debu di mata'. Mulai sekarang, aku coba praktikkan 'amal sirri' (rahasia). Misalnya, sedekah lewat transfer tanpa nama atau bantu teman tanpa cerita ke orang lain. Rasanya lega sekali! Syekh Ali Jaber bilang, 'Jaga amal seperti jaga rahasia cinta'. Perlahan, ego itu menyusut ketika kita fokus pada esensi memberi, bukan aplaus.
Trik lain yang kubiasakan: mengingat kematian sebelum beramal. Bayangan liang kubur yang gelap dan sunyi bikin ngilu—di sana, likes dan komentar tak ada artinya. Justru yang berbicara adalah catatan malaikat tentang ketulusan. Aku juga sering baca surat Al-Ma'un buat refleksi; ayat tentang orang yang saling pamer sedekah itu kayak tamparan. Sekarang, kalau ada dorongan pamer, langsung kubaca 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' sebagai reminder: semua akan kembali pada-Nya, bukan pada follower count.