Peachy
Aku membawa putraku yang baru lahir ke kediaman keluarga mafia suami untuk acara pengukuhannya.
Keponakannya yang berusia sepuluh tahun, Maura ... si putri kecil manja kesayangan keluarga itu ... mendorong kereta bayiku langsung ke bagian terdalam kolam yang membeku.
Putraku tenggelam hingga ke dasar.
Dentingan gelas sampanye menenggelamkan suara jeritan terakhirnya.
Aku menyelam seperti orang gila. Tetapi, yang berhasil kutemukan hanyalah tubuhnya yang dingin dan sudah tak bernyawa.
Karena Maura adalah calon pewaris keluarga, maka pembunuhan itu dinyatakan sebagai sebuah kecelakaan tragis.
Ayah mertuaku, Sang Ketua, memberiku kartu kredit tanpa batas sebagai bentuk kompensasi.
Namun, aku tidak menginginkan uang itu. Aku hanya menginginkan putraku, Rafael-ku!
Aku berlutut memohon kepada suamiku, Kenny, untuk membalaskan dendam atas kematian bayi kami.
Namun, dia hanya memeluk keponakannya yang menangis itu dan menatapku dengan sorot mata kosong.
"Alya, dia masih anak-anak. Apa kau tega menghancurkan satu nyawa hanya karena sebuah kesalahan?"
Penolakannya untuk membalas dendam, membuatku sangat merana di rumah griya tawang kami selama musim dingin yang panjang, hingga akhirnya aku mati dengan jiwa hancur.
Ketika membuka mata lagi, aku sudah terlempar kembali ke hari pengukuhan itu.
Lengan suamiku melingkar di pinggangku dan ciuman panasnya sedang menyusuri leherku.
"Anak kita akan diberkati hari ini."
Aku langsung mendorong tubuhnya menjauh.
Aku memanggil pengawal pribadiku dan menyuruh mereka segera membawa putraku dengan aman ke kediaman keluargaku.
Namun pada hari itu, sesosok tubuh mungil masih tetap terlihat mengapung di kolam renang.