Makjos
Rekan kerja wanitaku berdiri di samping meja kerjaku sambil memegangi perut bagian bawahnya.
Dia berbicara dengan suara pelan, “Valen, ada beberapa kardus dokumen di gudang. Bisa temani aku memindahkannya?”
Di kehidupanku sebelumnya, aku luluh dan menemaninya ke gudang.
Setengah jam kemudian, dia ditemukan tergeletak di tangga darurat. Darahnya bahkan menggenangi hampir separuh lantai.
Saat sadar, dia menangis sambil menunjuk ke arahku, “Valen yang memaksaku mengangkat kardus-kardus itu! Dia juga mendorongku!”
Aku dipecat, dituntut, dan kehilangan seluruh harta bendaku untuk membayar ganti rugi. Ayahku meninggal, ibuku kehilangan kewarasannya, dan pada akhirnya aku berdiri di atap gedung perusahaan ….
Baru setelah mati, aku mengetahui bahwa dia ternyata menjalin hubungan dengan 8 pria sekaligus.
Kandungannya memang sudah tidak bisa dipertahankan akibat keguguran yang berulang kali dialaminya.
Kali ini, aku tetap duduk di kursiku tanpa bergerak sedikit pun.
“Kamu sedang hamil, tidak boleh mengangkat barang berat.”
Aku mengambil ponsel dan membuka grup besar departemen kami.
“Biar kupanggilkan orang untuk membantumu.”
Aku mengetik pesan ….
[Sella sedang hamil. Untuk mengambil dokumen di gudang, dia perlu didampingi rekan kerja pria dan harus menggunakan lift sepanjang perjalanan.]
Lalu, kutekan tombol kirim.
Seketika, seluruh kantor menjadi hening. Wajah Sella langsung menegang.
Kepala bagian administrasi membalas di grup.
[Siap.]
Tidak lama kemudian, staf HR ikut menanggapi.
[Saya akan memastikan kembali prosedur keselamatan kerja bagi karyawan yang sedang hamil.]
Sella membuka mulutnya lalu berkata dengan ragu, “Tidak perlu memanggil orang sebanyak itu.”
Aku menatapnya, “Kamu sedang hamil. Tidak aman jika pergi sendirian.”
Di kehidupanku sebelumnya, dia membawaku melewati tangga darurat yang tidak dilengkapi CCTV.
Namun kali ini, aku akan memastikannya melewati jalan yang disaksikan banyak orang.