Muriaz
Aku adalah putri yang diangkat langsung oleh mendiang Raja. Bersedia menikah ke kediaman Jenderal Penakluk Utara saja sudah merupakan anugerah kerajaan yang begitu besar bagi mereka.
Di hari pernikahan, tepat saat kereta kencana pengantin menyentuh tanah, seorang wanita berbaju putih polos malah berlutut di depan gerbang kediaman jenderal, menggendong seorang bayi yang masih dibedong.
Rangga Baskoro, sang pengantin pria, masih mengenakan jubah merah pernikahannya, menghalangiku dengan raut wajah serba salah.
"Yang Mulia, Laras ... adalah wanita yang kutemui saat aku bertugas di perbatasan. Kini, dia tidak punya tempat tujuan."
"Mengingat hari ini hari baik, biarkan dia ikut masuk bersama kita."
"Yang Mulia tetap menjadi istri utama, sedangkan dia sebagai istri pendamping. Dengan begini, garis keturunan Keluarga Baskoro tetap terjaga."
Para tamu di depan gerbang sontak gempar.
Nyonya Besar Keluarga Baskoro bahkan tak berlutut sama sekali, melainkan langsung angkat bicara.
"Tuan Putri begitu luhur dan terhormat. Tentu tidak akan keberatan berbagi status."
"Tapi, Keluarga Baskoro hanya memiliki satu penerus dalam tiga generasi. Anak ini adalah harapan Keluarga Baskoro. Masa kami harus membiarkannya hidup sebagai anak haram tanpa status yang sah?"
Para prajurit perbatasan serempak berlutut memenuhi halaman.
"Mohon Yang Mulia berbelas kasih!"
Kutundukkan kepala, menatap bayi dalam gendongan itu, lalu beralih menatap Rangga yang memandangku dengan tatapan memohon.
Lalu, aku tersenyum.
Kulepas mahkota phoenix dari kepalaku, kuletakkan di atas meja persembahan pengantin, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam kereta kencanaku.
"Jenderal Rangga, kalau kamu menginginkan penerus, aku takkan menghalangimu."
"Tapi, titah mendiang Raja tertulis dengan jelas. Aku dinikahkan ke sini, bukan dianugerahkan kepada keluargamu."
"Kalau Keluarga Baskoro tak mampu menerima titah ini, maka akan kutarik kembali."