MY TOXIC Husband
Dalam keheningan malam itu, tangan yang mengusap lembut tangannya bercerita lebih banyak daripada kata-kata, mengabarkan sebuah harapan rapuh yang masih bertahan di antara abu-abu kesedihan mereka.
“Kenapa...?” Quensa menatap Aksara dengan mata yang dipenuhi keraguan dan kecemasan, seolah ada sesuatu yang ingin disembunyikan.
Aksara berbisik pelan, suaranya serak, “Tempatnya terlalu ramai. Kalau lama-lama, kita pulangnya keburu malam...” Wajahnya mengerut, tergambar ketidaknyamanan yang tak bisa ia tutupi.
Hot Chapters