Cinta Buta Sang Mafia
Suamiku, Rian adalah sosok bos mafia yang paling ditakuti di Keluarga Liam dan dia selalu benci anak kecil.
Namun, semuanya berubah sejak adik tiriku, Melisa pindah ke rumah sebelah bersama bayinya yang baru berusia enam bulan.
Tiba-tiba saja, suamiku jadi sangat terobsesi dengan bayi itu.
Dia menyuapi susu sendiri, menyanyikan lagu dan bahkan menggendong bayi itu ke mana pun dia pergi.
Setiap hari dia pulang subuh dalam keadaan lelah, tapi wajahnya selalu dihiasi senyuman, seolah-olah bayi itu telah menyita seluruh jiwanya.
Sementara aku menjadi sosok transparan di dunianya.
Tiga hari yang lalu, mobilku diserempet orang dengan sengaja hingga menabrak pembatas jalan.
Dengan kening berdarah dan kepala pening, aku meneleponnya lima puluh lima kali.
Tak satu pun panggilanku diangkat, tapi dia malah mengunggah foto bayi itu di media sosialnya dengan keterangan,
[Malaikat kecil sudah bisa tersenyum hari ini!]
Aku sudah muak.
Malam ini, di acara perjamuan makan keluarga yang dihadiri semua anggota keluarga.
Aku menghabiskan gelas terakhirku dan meletakkannya.
“Aku mau cerai.”
Semua orang ternganga.
“Kamu sudah gila?” teriak orang tuaku.
Rian mencengkeram pergelangan tanganku dengan tatapan tidak percaya.
“Yossi, hanya karena aku sibuk mengurus bayi dan nggak angkat teleponmu, kamu mau minta cerai?”
“Bisa-bisanya kamu cemburu sama bayi enam bulan?”
Aku tak membalas tatapannya. Mataku malah tertuju pada bekas cupang yang mencolok di belakang telinganya.
“Kalau kamu memang begitu sayang sama bayi itu, aku akan merestui keinginanmu. Silakan jadi ayah dari anak itu saja,” ujarku dengan tenang.