Pengkhianatan Istriku
Kembali air mata Eeika mengalir deras, dan semakin lama kian perih kurasakan.
Kutinggalkan Naina yang masih bersimpuh di lantai. Kugerakkan kursi roda menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu. Setelah selesai berwudhu kubentangkan sajadah, memohon, mengadu, menangis sejadi-jadinya menghadap Rab-ku. Mungkin memang aku pria yang cengeng. Namun, batin ini juga manusia. Akan terluka bila disakiti.
Dalam doa aku mengadahkan tangan, dan memohon ampun pada-Nya. Semoga mendapat jalan yang terbaik.