Sidang Terakhir Sebelum Menjadi Ibu
Nadira tidak pernah membayangkan hidupnya berubah secepat itu. ia justru harus menyembunyikan kenyataan pahit bahwa dirinya hamil oleh lelaki yang pernah berjanji akan bertanggung jawab.
Namun semua janji itu hilang begitu saja.
Lelaki yang menghamilinya memilih menikah dengan perempuan lain. Hidupnya tetap tenang, bahagia, dan seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sementara Nadira harus menanggung sendiri rasa malu, cibiran, kehilangan mimpi, dan beban menjadi seorang ibu di usia yang belum siap.
Di tengah sidang kuliah terakhirnya, Nadira berdiri di antara pilihan: menyerah pada keadaan atau memperjuangkan hidup untuk dirinya dan bayi yang tidak pernah salah dilahirkan.
Ini bukan hanya tentang pengkhianatan.
Ini tentang seorang perempuan yang dipaksa menjadi kuat karena kesalahan seseorang yang hidupnya masih bisa damai sampai hari ini.
*“Dia melanjutkan hidupnya tanpa rasa bersalah. Sedangkan aku harus bertahan dengan luka yang dia tinggalkan.”*