Cinta Sang Merpati
Adapun yang duduk di tanah berumput beralaskan tikar.
Yulia dan Zaara, duduk di atas tikar, berkumpul dengan teman-teman dan Pak Amar. Mereka lekas menghabiskan bekal makan siang sembari bersenda-gurau bersama. Berbeda dengan Zaara, fokusnya teralihkan oleh hewan-hewan liar yang ada di Cagar Alam. Para monyet berkeliaran di sekitar jalan setapak. Namun, mereka tidak berani mendekati para wisatawan atau sekadar meminta makan. Pohon-pohon menjulang tinggi nan rimbun, terdengar berbagai jenis burung, bernyanyi dengan merdu. Jika tidak dibuat jalan setapak, secara alami Cagar Alam ini sudah seperti hutan sungguhan.
“Enak, ya, di sini, Yul. Seger dan gak ada polusi.” Zaara membuka tutup air miner
Sikat na Kabanata