Jalan Tanpa Kembali
Suamiku adalah seorang pria dengan emosi yang sangat kuat.
Untuk membuat adik angkatnya bahagia, dia mengalokasikan miliaran setiap tahun agar dia bisa hidup mewah.
Dia sangat peduli dengan kesejahteraan adiknya. Setiap malam, pria itu duduk di sampingnya, memastikan dia bisa tenang dan nyaman.
Namun, ketika aku tertembak dan mengalami pendarahan hebat serta membutuhkan pertolongan segera, dia tetap acuh tak acuh.
Dia malah mengarahkan seluruh tim medis untuk menangani adik angkatnya yang sedang cemas.
Dengan sisa tenagaku, aku menelpon suamiku.
Telepon tersambung. Suaranya sedikit kesal saat menjawab, "Ada apa lagi? Kamu baik-baik saja, sehat. Kenapa butuh dokter?"
"Dengar, Safea butuh aku. Tenaga medis keluarga kita terbatas. Hanya masalah kecil, tahan sajalah."
Hatiku kecewa, seolah mati rasa.
Dia memang pria dengan emosi yang kuat.
Hanya saja, orang yang benar-benar dia pedulikan bukanlah aku.