LUKA
Nara mengangguk, "mimpi seperti apa?"
Nara menggigit bibirnya bingung harus darimana ia menceritakan mimpi-mimpi aneh yang selama ini bagaikan sebuah film yang mampu ia ingat dengan jelas.
"Seminggu ini Nara selalu mimpi tertusuk pedang entah dari arah belakang atau pun depan. Semua berakhir sama, pedang itu membuat lubang di dada membuat darah mengalir begitu hebat. Aku hanya bisa menangis meronta melepas pedang itu, tapi semuanya nihil. Pedang itu terus menggerogotiku. Di sana tidak ada Ayah, Intan. Alvin bahkan Bi Inem sama Pak satpam. Nara sendiri, Yah. Nara takut."
Hot Chapters