Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Si Paling Galak, Tapi Hanya Manis di Depanku

Si Paling Galak, Tapi Hanya Manis di Depanku

Di sebuah kampus yang kelihatannya biasa aja, delapan mahasiswa dengan karakter yang saling bertolak belakang nggak pernah nyangka kalau pertemuan mereka bakal jadi titik balik hidup masing-masing. Aurelya, cewek yang terkenal galak dan susah didekati, cuma kelihatan kuat di luar. Raksa, cowok pendiam yang kelihatannya dingin, diam-diam punya cara sendiri bikin orang terpanggil ke arahnya. Mereka selalu bentrok, tapi setiap benturan justru bikin mereka makin sulit menjauh. Di sekitar mereka, ada teman-teman lain yang perlahan masuk ke pusaran cerita: Nayara yang misterius tapi punya hati paling lembut. Satya yang tenang dan selalu bisa baca suasana. Arya yang populer tapi rapuh tanpa ada yang tahu. Shafira yang sederhana dan jadi perekat kelompok. Keira dan Dewa yang ribut tiap hari tapi kalau jauh justru saling nyari. Vanya dan Elvano yang deketnya dimulai dari obrolan receh dan saling goda. Awalnya semua cuma terasa sebagai pertemanan ringan: kelas, tugas, nongkrong, saling ngeledek, dan konflik kecil khas anak kampus. Tapi makin lama, batas antara teman dan “lebih dari teman” mulai kabur. Perasaan pelan-pelan tumbuh, diam-diam, tanpa ada yang berani ngaku duluan. Sampai akhirnya masa lalu masing-masing kebuka sedikit demi sedikit— luka keluarga, trauma yang mereka tutup rapat, kegagalan, kehilangan… Semua itu bikin kelompok ini nyaris pecah karena salah paham dan ego. Beberapa hubungan mulai bersemi, beberapa hampir kandas. Ada yang saling suka tapi gengsi. Ada yang saling sayang tapi saling menjauh. Ada yang saling butuh tapi belum berani mengaku. Dan saat krisis terbesar datang— kehilangan, gosip, hancurnya kepercayaan, hilangnya seseorang dari lingkaran— mereka sadar satu hal: Cinta dan persahabatan nggak pernah tentang siapa yang paling kuat, tapi siapa yang mau tetap tinggal ketika semuanya runtuh. Perlahan… mereka belajar tumbuh. Buka luka yang selama ini ditutup. Belajar jatuh cinta dengan cara yang lebih dewasa. Dan berdamai dengan masa lalu masing-masing.
Romansa
10410 DibacaOngoing
Baca
Tambahkan
Após A Minha Morte, Todos Começaram A Me Amar

Após A Minha Morte, Todos Começaram A Me Amar

Eu, Glória Gomes, morri no dia em que recebi o Prêmio de Ouro Global de Doutorado em Medicina. Três horas após minha morte, meus pais, meu irmão mais velho e meu noivo voltaram para casa, logo depois de encerrarem a festa de dezesseis anos da minha irmã. Enquanto minha irmã postava nas redes sociais uma foto de toda a família comemorando seu aniversário, eu estava deitada em uma poça de sangue no porão abafado, tentando usar a língua para deslizar pela tela do celular e fazer uma chamada de emergência. Dos contatos de emergência, apenas meu noivo atendeu à minha ligação — o que significava que meus pais e meu irmão haviam bloqueado meu número. Assim que atendeu, meu noivo disse apenas uma frase: — Glória, a festa de dezesseis anos da Ester é importante. Pare de tentar chamar nossa atenção com desculpas inúteis e de fazer birra! Ele desligou o telefone, cortando também minha última esperança de vida. Meu coração parou de bater junto com o som da linha ocupada. Foi a centésima vez que eles escolheram minha irmã, a centésima vez que me abandonaram e me decepcionaram, e também a última. Deitada em meu próprio sangue, senti minha respiração cessar aos poucos... Eles pensaram que, desta vez, eu estava novamente usando uma desculpa para fugir de casa e expressar minha insatisfação, que, se me dessem uma lição, eu voltaria obedientemente por conta própria, como nas 99 vezes anteriores. Infelizmente, desta vez, isso não aconteceria. Porque eu não saí de casa. Eu estava o tempo todo deitada no porão...
Baca
Tambahkan
A Luna Renascida Vai Embora Para Sempre

A Luna Renascida Vai Embora Para Sempre

Eu mantive um relacionamento por sete anos com o melhor amigo do meu irmão mais velho, o Alfa Alexander Parker. Mas o nosso relacionamento sempre ficou escondido nas sombras. Depois de beber aguardente demais numa noite, Alexander ficou completamente bêbado e me disse: — Willow, a Stella está com um filhote agora. Se ela não tiver um companheiro, os anciãos vão expulsá-la da alcateia. Tudo bem se eu der a ela a posição de Luna por enquanto? Num tom calmo e dócil, respondi: — Tudo bem. Na minha vida anterior, eu não aceitei a sugestão de Alexander. Também insisti em realizar a cerimônia de acasalamento com ele. Enquanto isso, a barriga de Stella Lockhart continuou crescendo com o passar das semanas. No fim, ela já não conseguia mais esconder. Enfurecidos, os anciãos, acabaram expulsando-a da alcateia. Depois que Stella foi embora, Alexander nunca mais voltou para casa, nem me dirigiu uma única palavra. Eu sabia que ele colocava toda a culpa em mim. Algum tempo depois, morri consumida pela culpa e pela depressão. Quando eu estava prestes a fechar os olhos, vi Alexander invadindo meu quarto, alarmado. Stella, que supostamente tinha sido expulsa da alcateia, vinha logo atrás dele, com um filhote nos braços. Foi então que eu finalmente entendi que, apesar de Alexander ter salvado Stella, ele nunca foi o companheiro mais adequado para mim. Agora que renasci, não recusei a sugestão dele. Em vez disso, decidi cortar completamente todos os laços entre nós, para que ele e Stella pudessem viver felizes para sempre.
Baca
Tambahkan
Dicintai Pangeran

Dicintai Pangeran

Sm. Soediro
Adalah Dwi Setyani, seorang gadis desa yang cantik dan cerdas memiliki cita-cita sebagai seorang pramugari, kecerdasannya membawa Dwi Setyani menjadi seorang bintang sekolah, bahkan dia mendapatkan nilai tertinggi se kota Kecamatan, sayangnya ekonomi keluarga tidak bisa membawa Dwi Setyani untuk melanjutkan segala impian nya itu. Suatu senja di saat Dwi Setyani pulang sekolah, dia sengaja melewati hutan pinus, sambil berdendang riang, menyanyi dan menari dia terus melangkahkan kaki, saking meresapi lagu dan tariannya, dia tidak menyadari ada sepasang mata terus memperhatikannya. Sepasang mata itu terus mengikuti kemana arah langkah kaki Dwi Setyani, hingga saat Dwi Setyani terjatuh, pemilik sepasang mata itulah yang menolongnya. "Kamu nggak papa?" Suara bariton mengejutkan Dwi Setyani. Bukannya menjawab pertanyaan itu, Dwi Setyani justru malah terpukau oleh ketampanan lelaki itu, sorot mata yang teduh, wajah yang sangat tampan, membuat hati Dwi Setyani di penuhi kupu-kupu, dan sorot mata yang penuh kelembutan itu, sanggup menembus dasar hati, hingga panah asmara langsung menancap ke lubuk hati Dwi Setyani yang paling dalam, ya Dwi Setyani langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Rasa cinta yang Dwi Setyani terbalaskan, sebab ternyata sang pemuda itu sudah lama menginginkan Dwi Setyani sebagai kekasihnya, namun pemuda itu sadar bahwa Dwi Setyani adalah seorang anak manusia dan dia adalah seorang anak pangeran dari penunggu hutan pinus. Seiring berjalannya sang waktu, pemuda itu menawarkan sebuah persahabatan, dan karena pemuda itulah Dwi Setyani bisa melanjutkan impian nya yaitu sekolah di Akademi Pramugari. Suatu hari pemuda itu harus meninggalkan Dwi Setyani sebab kedua orang tuanya mengetahui bahwa sang pangeran mencintai anak manusia, sedangkan sang pangeran di 300 tahun yang lalu pernah memiliki kisah sedih dan tragis dengan seorang anak manusia juga. Agar sang pangeran tidak melakukan kesalahan yang sama, kedua orang tua pangeran menjodohkan pangeran dengan seorang gadis dari bangsa nya yaitu bangsa jin.
Romansa
4.6K DibacaOngoing
Baca
Tambahkan
CINTA PERTAMA SI GADIS ES

CINTA PERTAMA SI GADIS ES

di Balik Gemerlap BSD Sasya Maharani adalah prototipe kesempurnaan di SMA Puncak BSD, sebuah institusi elite di jantung kota metropolitan. Dikenal sebagai "Si Gadis Es" karena fokusnya yang mutlak pada akademik dan masa depan cemerlang, hidup Sasya terencana rapi dan tanpa emosi yang mengganggu. Namun, ketenangan hidupnya terusik saat ia dipertemukan dengan Ardi Sanjaya, murid pindahan yang misterius dan dikelilingi rumor perkelahian di sudut-sudut BSD. Ardi, dengan tatapan liarnya dan kepolosan seorang anak, langsung mengklaim Sasya sebagai teman pertamanya, bahkan menyatakan cinta dengan lugas di tengah taman kota. Pertemuan tak terduga ini menarik Sasya ke dalam lingkaran pertemanan Ardi yang eksentrik, termasuk Nisa Adelia, si pecandu media sosial yang haus perhatian, dan Rizky Pratama (Kiki), atlet basket yang tenang. Di tengah hiruk pikuk BSD yang serba modern, Sasya mulai melihat sisi lain Ardi: kepolosan di balik citra berandal, kecerdasan tersembunyi yang mengancam posisinya sebagai murid teladan, dan hati yang rentan akibat masa lalu keluarganya yang kompleks, terutama hubungannya dengan sang kakak, Yudha Sanjaya. Seiring waktu, perasaan Sasya terhadap Ardi mulai tumbuh, memporak-porandakan logika dan rencana masa depannya. Di saat yang sama, Kenan Wijaya, putra konglomerat BSD yang karismatik, muncul dan terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada Sasya, menciptakan persaingan sengit dengan Ardi. Sasya harus bergulat dengan perasaannya sendiri, memahami arti persahabatan, cinta, dan bagaimana menyeimbangkan ambisi akademisnya dengan gejolak hatinya. Novel ini akan mengikuti perjalanan Sasya dan Ardi—si kulkas berjalan dan si berandal—dalam menavigasi kompleksitas masa remaja, tekanan akademis, dan dinamika hubungan. Dari momen-momen kocak di foodcourt mal hingga percakapan serius di rooftop gedung-gedung tinggi BSD, mereka akan belajar untuk saling percaya, berkomunikasi, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa. Pada akhirnya, di tengah gemerlap dan kesibukan BSD City mereka akan menemukan bahwa cinta sejati seringkali hadir dalam bentuk yang paling tak terduga, mengubah peta kehidupan mereka dan membuka lembaran baru.
Romansa
10717 DibacaOngoing
Baca
Tambahkan
Seu Coração de Vampiro nunca Bateu por Mim

Seu Coração de Vampiro nunca Bateu por Mim

Na véspera do meu casamento, cheguei cedo à nossa catedral para me familiarizar com o lugar. Em vez disso, encontrei meu noivo e minha meia-irmã, Isabella, transando no altar. No nosso altar. Eu os flagrei. Ele nem sequer se desculpou, apenas me expulsou na tempestade. Eu desmoronei sob a chuva torrencial. Foi então que ele me encontrou. Alistair, o Príncipe Vampiro. Ele se movia pela tempestade como um deus. Ele me tirou da lama e me deu um palácio. Ele contou ao mundo que eu era a sua alma gêmea. Aquela que ele passou séculos procurando. Sua única e exclusiva. Por cinco anos, sua devoção me tornou a inveja do mundo sobrenatural. Eu acreditava ser a única exceção em sua vida eterna. Até eu encontrar seu quarto secreto. Meus dedos tocaram um pergaminho antigo. A escrita era em sangue. A primeira linha era o nome dela: Isabella. Logo abaixo, na caligrafia de Alistair: “Prioridade absoluta. Acima de tudo.” Abaixo disso havia um registro de cura que eu nunca tinha visto. Um registro de cura de vampiros. A data era da noite em que descobri que estava grávida. A noite em que fui atacada por lobisomens. Eles me trouxeram de volta ao castelo, coberta de sangue. Os curandeiros nunca vieram até mim. Acordei sozinha. O bebê tinha desaparecido. Nosso filho. O sangue dele, o meu sangue — desaparecido. E minhas roupas estavam encharcadas com o que restara. Eu limpei cada vestígio. Quando ele voltou para casa, desmoronei em seus braços. Nunca contei a ele. Eu não suportaria que ele sentisse a dor que eu senti. Agora eu entendia. Naquela mesma noite, Isabella também estava sendo atacada por lobisomens. E a ordem de Alistair ao conselho foi: — Enviem todos os curandeiros. Isabella é a prioridade. Meu coração parou. O desespero corria como veneno nas minhas veias. Se eu nunca fui a escolhida… então você pode ficar com sua eternidade. Eu não quero fazer parte disso.
Baca
Tambahkan
Morremos no Parto e Ele Só Pensava na Cunhada e no Bebê Dela

Morremos no Parto e Ele Só Pensava na Cunhada e no Bebê Dela

No dia em que a cunhada do meu marido, que morava sozinha, entrou em trabalho de parto, o meu marido me arrastou à força para o hospital para induzirem o meu parto, mesmo eu ainda estando só com sete meses de gestação. Ele me trancou na sala de parto, com a expressão tensa, e falou, desesperado: — Agatha Braga, o bebê que a Daise Diniz carrega tem uma doença raríssima. Se nascer assim, vai morrer logo que vier ao mundo. O médico disse que precisa do sangue do cordão umbilical e de células‑tronco especiais colhidas durante o parto pra salvar a vida dele! Meu irmão já morreu, eu tenho a obrigação de cuidar dela e da criança! Quando a agulha de dez centímetros para induzir o parto entrou no meu corpo, as contrações me rasgaram por dentro de um jeito que eu comecei a suar frio. No meio daquela dor, eu encarei o rosto dele e questionei, quase sem fôlego: — Eliel Paiva, a gravidez da Daise sempre correu bem. Como é que, de uma hora pra outra, o bebê dela tem uma doença tão rara? Eu é que precisei segurar a gravidez o tempo todo, e mesmo assim você quer que o nosso filho nasça antes da hora. Isso não é só acabar com a vida dele, é acabar com a minha também! Eliel franziu a testa, me segurou com força e me prendeu na cama do hospital: — Agatha, o médico já explicou. É só fazer o nosso filho nascer dois meses antes. Não vai acontecer nada com ele! Quando ele ouviu os gritos de dor da Daise na sala ao lado, pareceu se lembrar de alguma coisa. Me lançou um olhar cheio de desconfiança e disse: — Não vai me dizer que, só porque eu vivo cuidando da Daise, você quer aproveitar essa chance pra se livrar dela, né? Eu já te falei que só cuido dela por causa do meu irmão. Como é que você consegue ser tão cruel? Eu senti o sangue escorrendo por baixo de mim e comecei a chorar de desespero. Agarrei o pulso dele com o pouco de força que me restava e supliquei, com a voz quebrada, que, se ele poupasse o meu filho, eu aceitava o divórcio e deixava os dois livres pra ficarem juntos. Eliel me lançou um olhar impaciente, gelado, e respondeu: — Você está delirando. Eu sou o pai do nosso bebê. Como é que eu ia querer fazer mal pra ele? Quando o sangue do cordão umbilical do meu bebê e as minhas células‑tronco foram usados no bebê da Daise e o médico anunciou que mãe e filho estavam fora de perigo, só então o Eliel se lembrou de que também tinha uma esposa e uma criança esperando por ele em outra sala. Mas, quando ele empurrou a porta do meu quarto, não foi o choro do nosso bebê que encontrou. Sobre a cama, esperavam apenas dois pedaços de papel: as duas certidões de óbito: a minha e a do meu filho.
Baca
Tambahkan
Sebelumnya
1
...
202122232425
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status