Saat Obat Alergi Berubah Menjadi Permen M&M
Pada malam perayaan ulang tahun pernikahan kami yang pertama, aku tergeletak di atas karpet merah darah, hampir tak bernyawa.
Suamiku, Mason, seorang bos mafia, justru merangkul teman masa kecilnya, Yani, sambil menikmati sampanye dan bercakap dengan gembira.
Yani tahu aku alergi wijen. Jadi dia membuat setiap hidangan malam ini disiram saus wijen.
Aku baru menggigit satu suap. Tenggorokanku langsung membengkak, paru-paruku seperti terbakar, dan ruam merah menjalar di kulitku.
Di ambang sesak napas, aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk meraih obat alergi di dalam sakuku.
Tapi obat itu meleleh, lengket di telapak tanganku.
Obatku ternyata telah ditukar menjadi kacang cokelat M&M!
Melihat ekspresiku yang tak percaya, Yani tertawa.
"Kejutan! Aku sengaja menyuruh Mason mengganti obatmu."
"Kita semua tahu kamu cuma pura-pura alergi. Siapa sih yang cuma makan sedikit wijen saja langsung pingsan? Lebay banget."
Aku terjatuh dari kursi, berbaring di lantai sambil susah payah bernapas.
Di telingaku terdengar suara orang-orang lain yang sedang bertaruh berapa lama aku akan ‘berakting’ kali ini.
"Mason… berikan obatku…" Aku memohon dengan suara parau. "Kumohon… aku benar-benar akan mati…"
Dia menghela napas.
"Drama banget. Kalian perempuan bisa nggak sih berhenti pakai kata ‘mati’ buat mengancam laki-laki? Apa aku belum cukup mencintaimu?"
"Yani benar. Selama aku nggak peduli, kamu sendiri yang akan berhenti dengan akting murahan ini."
Saat itu, hatiku terasa lebih sakit daripada tenggorokanku.
Aku tak lagi menjelaskan apa pun. Dengan tangan gemetar, aku mengirim sinyal permintaan bantuan kepada keluargaku.