LOGINDalam pernikahan, cinta saja tidak selalu cukup. Anisa, seorang perempuan sederhana yang memilih menjalani hidupnya sebagai pengusaha makanan di GoFood, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa keluarga suaminya, Bagas, tidak pernah benar-benar menerimanya. Mereka menginginkan menantu yang bekerja di perusahaan besar dan mampu menopang kehidupan mereka, bukan seseorang yang dianggap tidak berambisi seperti Anisa. Sejak awal, Anisa berusaha menyesuaikan diri, tetapi selalu dibandingkan dengan Rina, wanita yang dianggap lebih pantas untuk Bagas. Diamnya sang suami terhadap perlakuan keluarganya membuat luka Anisa semakin dalam. Kesalahpahaman yang dibiarkan begitu saja akhirnya meretakkan hubungan mereka. Puncak rasa sakit hati Anisa terjadi ketika ia menyadari bahwa ia tidak pernah dihargai sebagai seorang istri. Dengan hati yang hancur, ia memilih untuk pergi, meninggalkan semua yang telah mereka bangun. Baru setelah kehilangan Anisa, Bagas menyadari betapa besar arti kehadiran istrinya. Ia berusaha menebus kesalahannya, namun akankah permintaan maaf cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terlalu dalam? Sebuah kisah tentang cinta, kesalahpahaman, dan penyesalan yang datang terlambat. Akankah cinta yang pernah ada bisa kembali utuh, ataukah semuanya sudah terlalu hancur untuk diperbaiki?
View More“Saya akan melunasi biaya operasi suami kamu. Tapi, dengan satu syarat," ucap wanita tua yang masih terlihat cantik itu pada Alana, “Tinggalkan Andra. Dan pergi sejauh mungkin dari kehidupannya.”
Alana yang kini sudah basah kuyup akibat dibiarkan berdiri di depan pintu rumah, lantas tertegun mendengar ucapan sang ibu mertua.
Meninggalkan Andra? Bagaimana mungkin?
Andra adalah suaminya. Terlebih saat ini lelaki itu sedang terbaring lemah di rumah sakit.
“Ma, aku tidak bisa melakukan itu, Ma. Aku tidak bisa meninggalkan Andra yang sangat membutuhkanku saat ini. Apa tidak ada syarat lain?”
Mendengar itu, Nita sontak tertawa. “Alana, Andra itu anakku. Aku bisa merawatnya dengan baik,” tukasnya cepat.
“Dulu aku yang membesarkannya. Tapi setelah dewasa, dia malah jatuh ke dalam jerat perempuan miskin seperti kamu dan memilih pergi dari rumah ini. Sekarang lihat apa yang terjadi pada Andra? Kamu hanya bisa membawanya hidup susah. Kamu membuat Andra menderita. Jadi sebaiknya kamu tinggalkan dia. Biarkan Andra hidup bahagia dengan wanita yang lebih baik dari kamu,” lanjut Nita dengan nada tinggi.
Alana menggeleng. “Tapi, aku dan Andra saling mencintai, Ma. Tolong jangan berikan syarat seberat ini. Aku berjanji akan berusaha membahagiakan Andra. Tolong jangan minta kami untuk berpisah. Apalagi saat ini aku sedang mengandung cucu Mama,” mohonnya sambil menangis.
Tanpa sadar, Alana bahkan mengusap perutnya.
Hal ini jelas membuat Nita tak senang. “Andra sudah tahu kamu hamil?” tanyanya menyelidik.
Alana menggelengkan kepalanya. “Belum, Ma.”
“Bagus. Kalau begitu gugurkan,” cetus Nita tanpa perasaan.
Mata bening Alana membola, ia menggeleng dengan cepat.
“Tidak, Ma. Aku tidak mau membunuh bayi ini. Ini buah cinta kami, dia tidak berdosa.”
Nita berdecih dengan kesal. “Andra itu lelaki sehat. Dia masih bisa mendapat banyak anak dari wanita lain. Kalau kamu benar-benar sayang pada anak saya dan ingin dia sembuh. Maka tinggalkan dia dan pergi jauh dari kehidupannya. Hanya itu.”
Alana mengusap air matanya, kepalanya terangkat dengan wajah memohon.
“Aku tidak bisa meninggalkan Andra, Ma. Aku mencintainya--”
“--Terserah kalau kamu tidak mau meninggalkan anak saya. Maka silahkan cari uang ke tempat lain,” potong Nita lalu membalikan tubuhnya hendak masuk ke dalam rumah.
Alana terhenyak mendengar perkataan ibu mertuanya.
Ke mana lagi Alana harus mencari uang untuk biaya operasi Andra? Ia tidak memiliki sanak saudara untuk dimintai pertolongan.
Sementara operasi Andra harus segera dilakukan malam ini juga. Jika tidak, nyawa Andra dalam bahaya.
Maka sebelum Nita benar-benar menutup pintu, dengan cepat Alana menahannya.
“Tunggu, Ma.”
“Ada apa lagi?” sentak Nita.
“Aku, aku bersedia meninggalkan Andra,” putus Alana pada akhirnya. Nita langsung menyunggingkan senyum kemenangan. “Tapi tolong bantu biayai operasinya, Ma. Dokter bilang Andra harus dioperasi secepatnya,” lanjut Alana.
Nita tersenyum. "Kamu gak perlu khawatir. Aku akan urus semua, bahkan aku akan buat Andra melupakanmu segera."
Deg!
Sebagai seorang istri, Alana tahu ini pilihan yang berat. Meninggalkan suami yang dicintai dengan keadaan hamil. Tapi apa yang bisa Alana perbuat? Saat ini hidup dan mati Andra bergantung padanya.
***
Kini, jarum jam di dinding rumah sakit menunjukan pukul dua pagi.
Nampak seorang lelaki bertubuh tegap dan jangkung terbaring lemah di sebuah ranjang. Perlahan jari-jemarinya bergerak lembut. Bergetar seolah ingin menunjukan kalau ia telah sadar.
“Al-ana..”
“Alana..”
Suaranya bergetar memanggil nama wanita yang begitu ia cintai. Matanya menatap sekeliling, tapi ia tidak melihat siapapun di dalam ruangan ini. Ke mana istrinya?
Kini ia memanggil dengan suara yang agak keras. Hingga membuat Nita dan suaminya yang sedang tidur di sofa, terbangun. Mereka terkejut mendengar Andra berteriak memanggil-manggil Alana. Nita dan Darma—suaminya, langsung menghampiri Andra saat melihat lelaki itu hendak bangkit untuk turun dari ranjangnya.
“Andra! Kamu tidak boleh turun dulu. Kaki kamu masih sakit. Bekas operasi kamu belum sembuh betul, Ndra!” Nita menahan lengan Andra dengan panik.
“Istirahat, Andra. Dokter menyarankan kamu jangan terlalu banyak bergerak,” Darma menambahkan. Sembari membetulkan posisi Andra agar berbaring dengan benar.
“Di mana Alana, Ma? Pa? Kenapa Andra tidak melihat dia?”
Nita berdecak dalam hati. Orang pertama yang Andra tanyakan pasti Alana. Sepertinya wanita itu sudah berhasil menguasai hati dan pikiran Andra.
Darma pun memasang wajah malas saat mendengar nama Alana. Menurutnya, nama Alana bahkan tak pantas untuk sekadar disebut-sebut di dalam keluarga mereka.
Kedua orang tua Andra memang sangat membenci Alana, karena mereka menganggap kalau Alana sudah membuat Andra memilih meninggalkan rumah demi menikah dengannya.
Padahal dulu Andra sudah mau dijodohkan dengan anak rekan bisnis mereka. Tetapi Andra menolaknya dengan tegas. Lantas pergi dari keluarganya, dan menikah tanpa restu dengan wanita miskin seperti Alana.
“Ma? Aku sedang bertanya. Di mana Alana?”
“Alana sudah pergi, Ndra,” Nita menjawab pelan. Sambil menampilkan wajah sedih di depan Andra.
“Pergi? Pergi bagaimana maksudnya?” Andra bertanya panik.
“Dia pergi meninggalkan kamu bersama laki-laki lain.”
Kali ini, Darma yang menjawab.
Kening Andra sontak berkerut mendengar ucapan Papanya.
Alana sangat mencintainya. Mana mungkin ia akan tega meninggalkan Andra? Orang tuanya pasti bohong. Alana tidak pernah meninggalkannya.
“Tidak mungkin! Aku tidak percaya. Alana tidak akan melakukan itu!”
“Tapi memang itu yang terjadi, Ndra. Alana sendiri yang bilang pada Mama dan Papa. Kalau dia tidak mencintai kamu lagi. Dia bosan hidup susah bersama kamu. Lebih lagi karena kecelakaan itu, kedua kaki kamu bermasalah. Alana bilang dia tidak mau memiliki suami yang cacat dan tidak berguna," ucap Nita, "Untuk itu dia pergi dengan kekasih barunya yang bisa memberinya kemewahan. Alana benar-benar pergi, Ndra. Dan dia ingin cerai dari kamu.”
Deg!
Kepala Andra tetap menggeleng dengan tegas. “Bohong! Alana tidak mungkin bilang begitu sama Mama. Kalian pasti bohong. Kalau Mama dan Papa tidak mau memberitahu di mana Alana. Maka biar Andra sendiri yang pergi mencarinya!” Andra berusaha kembali bangkit.
Tapi tangan Nita dengan cepat menahannya lagi. “Jangan, Ndra. Ingat kaki kamu. Bisa fatal akibatnya kalau kamu memaksakan banyak bergerak saat ini.”
“Aku mau mencari Alana, Ma. Aku ingin memastikan kalau semua yang kalian bilang itu tidak benar. Alana pasti ada di rumah saat ini!” tegas Andra.
“Kamu jangan keras kepala, Andra. Sudah berapa kali Papa bilang sama kamu. Alana itu bukan gadis yang baik. Dia hanya memanfaatkan kamu untuk menguras harta keluarga kita. Buktinya, dia tidak tahan hidup miskin dengan kamu, ‘kan? Dia malah pergi dengan laki-laki lain di saat kaki kamu sedang tidak berdaya seperti ini,” Darma mencoba mempengaruhi pikiran Andra agar anaknya itu percaya kalau Alana memang bukan wanita baik-baik.
“Biarkan aku pergi dan memastikan, Pa. Karena hatiku sangat yakin kalau Alana tidak mungkin meninggalkanku begitu saja.”
“Tapi sekarang masih gelap, Ndra. Kamu juga baru sadar. Mama khawatir sama kamu,” Nita menyentuh lengan Andra yang terbaring dengan mata yang memanas.
“Oke. Kalau kamu memang tidak percaya pada kita. Silakan cek sendiri ke rumah kontrakan kalian. Tapi, tunggu sampai kamu mendapat izin dari rumah sakit. Dan Papa pesankan satu hal sama kamu. Jangan menangis jika nanti kamu mendapati kenyataan kalau Alana memang menghianati pernikahan kalian.” Darma berkata dengan tegas.
Andra meneguk ludahnya kasar. Ia menatap nanar pada Darma yang berlalu keluar dari ruang rawatnya.
Hatinya tetap teguh. Ia tak akan percaya Alana pergi meninggalkannya sebelum Andra melihat buktinya sendiri.
Empat hari kemudian, Andra pun diizinkan untuk keluar dari rumah sakit meski kondisinya masih belum sepenuhnya pulih.Mobil milik Nita sudah terparkir rapi di depan sebuah rumah kontrakan yang nampak kumuh dan sederhana. Rumah dimana Andra dan Alana tinggal berdua dan menjalani kehidupan mereka setelah menikah.
Nita berdecih dalam hati, manakala matanya berpendar menatap rumah itu. Ia tidak menyangka jika Andra mau tinggal di rumah yang bahkan menurut Nita lebih pantas disebut kandang ayam.
Padahal dulu Andra hidup berkemewahan. Andra dulu menjabat sebagai kepala manajer keuangan di kantor milik Darma. Tetapi kemudian ia bertemu dengan Alana yang merupakan salah satu karyawan di sana. Kecantikan dan kelembutan hati Alana, mampu meluluhkan perasaan Andra.
Dengan berani, Andra berani mengenalkan Alana pada kedua orang tuanya. Namun yang didapat bukanlah doa restu, melainkan tatapan menghina dan makian yang mereka lontarkan pada Alana.
“Ndra! Suster dari tadi menunggu kamu turun dari mobil. Kenapa masih melamun? Kamu tidak jadi masuk ke rumah itu?”
Andra terhenyak dari lamunannya. Ia melihat ke samping. Ternyata pintu mobil sudah di buka dari luar, dan sebuah kursi roda tersedia di bawah untuk menampung tubuh kekar Andra.
Andra mengangguk. Lalu kemudian ia turun dengan dibantu oleh Nita dan perawatnya. Andra menatap rumahnya yang nampak sepi, sunyi dari luar. Perasaan tidak enak seketika menyergap hatinya begitu saja.
‘Mungkin Alana sedang tidur siang. Jadi rumahnya terlihat sepi.’ batin Andra.
Kursi roda itu didorong oleh perawat untuk mendekati pintu. Dengan mudahnya pintu yang tidak dikunci itu terbuka. Lantas mereka masuk ke dalamnya.
“Alana! Alana! Kamu di mana sayang? Aku pulang!”
Nita memutar bola matanya jengah mendengar panggilan Andra pada istrinya.
Di sisi lain, Andra mengerutkan kening karena tidak ada sahutan dari Alana.
Dia pun meminta pada suster untuk mendorongnya ke kamar.
Namun begitu tiba, manik matanya melihat beberapa benda yang nampak berserakan di atas tempat tidur.
Dengan cepat Andra mendorong kursi rodanya sendiri untuk mendekat.
“Alana!” napasnya tercekat. Andra rasanya ingin mati saat ini juga. Ia tidak menyangka dengan apa yang ia lihat saat ini.
Sebuah dokumen surat cerai yang sudah ditandatangani oleh Alana kini berada dalam genggamannya.
Bahkan, buku nikah mereka sudah berserakan dalam keadaan robek di atas kasur.
Juga ada selembar surat yang mana tulisan tangannya sangat Andra kenali. Itu tulisan tangan Alana.
[ Andra. Maaf aku pergi tanpa pamit. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya bilang sama kamu. Aku sudah tidak sanggup hidup sama kamu, Ndra. Aku bosan hidup susah dan hanya mengandalkan gajimu yang kurang untuk menutupi kebutuhan kita. Apalagi sekarang kaki kamu lumpuh. Hidup kita pasti akan semakin susah.]
[Untuk itu aku memilih menyerah dengan pernikahan ini. Aku jatuh hati pada lelaki lain. Dan dia berjanji akan memenuhi kebutuhanku dan memberikan semua yang aku mau. Maaf, Ndra. Terimakasih untuk cinta kamu selama ini. Tolong tandatangani surat cerai kita karena aku sudah tidak mencintai kamu lagi.]
Pagi itu, matahari bahkan belum naik sempurna ketika suara bel pintu apartemen mengagetkan Annisa dari keheningan paginya. Dengan langkah hati-hati agar tidak membangunkan si kembar, ia membuka pintu. Dan di baliknya, berdiri sosok yang membuat dadanya berdegup.Bagas.Wajahnya kusut, matanya sembab oleh kurang tidur, namun tetap terlihat lega melihat Annisa berdiri di hadapannya.Tanpa sepatah kata pun, Bagas langsung menarik Annisa ke dalam pelukan hangat. Erat. Seolah menyalurkan semua rasa bersalah, rindu, dan harap dalam satu dekap panjang yang nyaris membuat Annisa menangis."Maaf... maaf aku nggak kabarin semalam," bisik Bagas di pundaknya. "Aku panik. Aku takut kamu marah kalau aku ngajak kamu ikut, takut kita malah ribut lagi..."Annisa terdiam. Rasa kecewa yang sempat menyumbat dadanya perlahan mencair. Pelukan itu terlalu tulus untuk ditolak. Ia menghela napas panjang dan membiarkan tubuhnya tenggelam sebentar dalam dekapan Bagas.Bagas lalu menatap wajah Annisa, tangannya
Bagas membuka pintu rumahnya dengan napas terengah. Jantungnya berdegup kencang, membayangkan kemungkinan terburuk tentang kondisi ibunya. Namun, sesampainya di ruang tamu, pemandangan di depannya membuatnya membeku.Bu Rina duduk di sofa, kaki kirinya diperban dan ditopang bantal. Di sampingnya, sebuah tongkat kecil bersandar di sisi meja. Raut wajahnya tampak pucat, tapi bukan karena sakit—melainkan karena akting yang sempurna.“Ibu…” Bagas mendekat, langsung berlutut dan memeluk ibunya erat. “Maafin Bagas, Bu… Bagas nggak bisa jagain Ibu. Bagas takut banget kehilangan Ibu…”Bu Rina menepuk punggung Bagas perlahan, menyembunyikan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya.“Nggak apa-apa, Nak… Ibu cuma kaget aja tadi. Kamar mandinya licin. Tapi kamu datang, Ibu senang sekali…” ucapnya lembut, tapi dalam hatinya: Akhirnya… anak ini kembali ke pangkuanku.Baru saja Bagas hendak membantu ibunya duduk lebih nyaman, suara langkah dari arah dapur membuatnya menoleh refleks.Seorang wanita
Matahari baru saja naik ketika mobil hitam berhenti di pelataran apartemen yang menghadap ke kota. Dari dalamnya, Annisa turun dengan kedua anak kembarnya yang tertidur lelap di gendongan. Bagas, yang menyetir sejak dini hari dari Yogyakarta ke Jakarta, langsung sigap membawakan koper dan perlengkapan anak-anak."Kita istirahat di sini dulu, ya," ucap Bagas lembut sambil membukakan pintu apartemen.Apartemen itu bersih dan tenang. Sudah lama tak ditempati, namun Bagas sempat memintakan bantuan ART freelance untuk membersihkannya sebelum keberangkatan ke Jogja kemarin. Kini tempat ini menjadi hunian sementara Annisa dan anak-anak.Annisa menatap sekeliling, hatinya campur aduk. Ada bagian dari dirinya yang merasa aman berada kembali di sisi Bagas. Namun, ia juga sadar, ini belum saatnya kembali penuh."Makasih ya, Gas," katanya pelan. "Tapi aku cuma sementara di sini. Aku belum siap tinggal serumah sama... ibumu."Bagas mengangguk. "Aku ngerti. Aku juga nggak maksa. Aku bakal bolak-bal
Siang itu, di tengah kesibukannya di kantor, Bagas menerima pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal. Hanya ada satu kalimat pendek dan satu tautan lokasi:"Kalau kau masih ingin memperbaiki semuanya, datanglah ke sini."Disusul share-location dengan pin bertanda: Yogyakarta – Perumahan Taman Seturan. Bagas sontak tercekat. Tangannya refleks mengetik balasan,"Siapa kamu? Ini bener lokasi Annisa?"Namun centang di pesan hanya satu. Nomor itu tak bisa dihubungi, dan semua balasannya tak kunjung dibaca. Seolah orang itu hanya muncul sebentar lalu menghilang seperti bayangan.Tanpa pikir panjang, Bagas bangkit dari kursi. Ia tak peduli lagi dengan laporan setumpuk atau email yang belum terbalas. Ia hanya sempat menatap singkat rekan kerjanya, Fajar, yang langsung membaca kegugupan itu dari raut wajahnya."Gas, lu cari dia ya?"Bagas mengangguk."Udah, pergi aja. Kerjaan lu gue yang handle. Gue yang jelasin ke bos.""Thanks, Jar… Gue utang budi."Perjalanan Jakarta – Jogja ia tempuh dalam de
Matahari baru saja naik ketika Anisa kembali mendapati dapur rumahnya sudah dipenuhi suara. Ibu mertua sudah lebih dulu sibuk di sana, membongkar isi lemari, memindahkan bumbu dapur ke tempat yang menurutnya "lebih rapi"."Nis, kamu ini naruh garam kok deket kompor sih, nanti bisa lembap, nggak bis
Setelah melewati begitu banyak rintangan, akhirnya Bagas dan Anisa mendapatkan restu dari keluarga Anisa. Perjuangan panjang mereka terbayar ketika pada suatu hari yang penuh kebahagiaan, mereka mengikat janji suci dalam sebuah pernikahan sederhana namun penuh makna. Tidak ada pesta megah, tidak ada
Hari-hari berlalu, dan tanpa disadari, Rina semakin menjauh dari kehidupan Bagas. Ia tidak lagi sesering dulu menghubungi atau menemani Bagas seperti sebelumnya. Setiap kali melihat Bagas dan Anisa bersama, hatinya terasa semakin sakit. Ia tahu bahwa ia harus merelakan perasaannya, tetapi semakin i
Bagas masih berjuang mati-matian untuk memperbaiki kesalahannya, tetapi jalan yang ia tempuh tidaklah mudah. Keluarga Anisa, terutama ayah dan kakaknya, tetap menjadi tembok besar yang menghalanginya untuk bertemu dengan istrinya. Sejak Anisa pergi dari rumah, ia benar-benar kehilangan separuh jiwa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.