로그인Dalam pernikahan, cinta saja tidak selalu cukup. Anisa, seorang perempuan sederhana yang memilih menjalani hidupnya sebagai pengusaha makanan di GoFood, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa keluarga suaminya, Bagas, tidak pernah benar-benar menerimanya. Mereka menginginkan menantu yang bekerja di perusahaan besar dan mampu menopang kehidupan mereka, bukan seseorang yang dianggap tidak berambisi seperti Anisa. Sejak awal, Anisa berusaha menyesuaikan diri, tetapi selalu dibandingkan dengan Rina, wanita yang dianggap lebih pantas untuk Bagas. Diamnya sang suami terhadap perlakuan keluarganya membuat luka Anisa semakin dalam. Kesalahpahaman yang dibiarkan begitu saja akhirnya meretakkan hubungan mereka. Puncak rasa sakit hati Anisa terjadi ketika ia menyadari bahwa ia tidak pernah dihargai sebagai seorang istri. Dengan hati yang hancur, ia memilih untuk pergi, meninggalkan semua yang telah mereka bangun. Baru setelah kehilangan Anisa, Bagas menyadari betapa besar arti kehadiran istrinya. Ia berusaha menebus kesalahannya, namun akankah permintaan maaf cukup untuk menyembuhkan luka yang telah terlalu dalam? Sebuah kisah tentang cinta, kesalahpahaman, dan penyesalan yang datang terlambat. Akankah cinta yang pernah ada bisa kembali utuh, ataukah semuanya sudah terlalu hancur untuk diperbaiki?
더 보기CIEL'S POV
I whispered my own name, watching the white smoke of my breath mix with the arena's frozen air. The numbers above me blazed red and final. 98.7. First place. Regionals. Perfect score. The crowd roared. My blades had carved history into the ice tonight, and for three glorious seconds, I let myself smile. Not the polite, practiced curve my mother taught me. A real one. Wide. Warm. Directed right at the judge's table, specifically at Judge Harrison, who'd given me the only 10.0 of the night. That smile cost me everything. "Get. In. Here." My mother's voice cut through the cheering like a blade through flesh. I turned. Mara Laurent stood in the tunnel leading to the locker rooms, her face a perfect mask of porcelain calm. But I knew the cracks. I'd spent eighteen years memorizing them. I followed her. The door slammed behind us, rattling the metal frames of the lockers. The crowd's noise vanished, replaced by the hum of fluorescent lights and my own ragged breathing. "What the hell was that, Ciel?" I opened my mouth. "I won. You saw" "Don't." She stepped closer, her heels clicking against the concrete. "Don't you dare play dumb with me. Judge Harrison. You smiled at him. You practically winked at him like some cheap" "He gave me a ten." My voice came out smaller than I wanted. "I was just being" "Grateful?" She laughed, but there was nothing happy about it. "Grateful looks like a polite nod. Grateful looks like professionalism. What you did out there looked like an invitation." I flinched. I couldn't help it. Mara grabbed my chin, her fingernails digging into my skin. "Do you know who watches these recordings? Sponsors. Agents. The kind of people who pay for your skates, your costumes, your life. And do you know what they see when a male skater smiles at a male judge like that?" I knew the answer. She'd drilled it into me since I was ten years old, standing on a frozen pond while my father drove away and never looked back. "They see a liability," I whispered. "They see a ft." She released my chin like I was contaminated. "And fts don't get sponsorships. Fts don't get gold medals. Fts get dropped. Forgotten. Broken on the side of the road like your worthless father." My chest caved. I wanted to scream that my father left because of her, not because of me. That he told me once, in the driveway, that she'd drained every bit of softness out of him. That I was still soft, still human, still able to smile at a nice man who gave me a fair score. But I said nothing. I never said anything. "Fix your face," Mara snapped, adjusting her blazer. "We have a press conference in ten minutes. You'll answer every question with 'yes ma'am' and 'thank you for your support.' You'll look straight into the cameras. You'll smile like a normal athlete. And if I see even a hint of that... that tenderness again, I'll pull you from Nationals myself." She walked out. The door swung shut behind her. I stood alone in the locker room, staring at my reflection in the smudged mirror. My silver-blonde hair stuck to my forehead with sweat. My gray eyes looked hollow. Dead. Like someone had scooped out the real me and left this shell behind. I splashed cold water on my face and went to the press conference. I answered every question with "yes ma'am" and "thank you for your support." I looked straight into the cameras. I smiled like a normal athlete. Then I faked a migraine, skipped the celebration dinner, and walked back to my dorm at midnight. But I didn't go inside. The rink called to me. It always did. The main arena was locked, but I knew the side entrance, the maintenance door with the broken latch. I'd discovered it years ago, back when I still believed in escape. The door groaned open. I slipped inside. Moonlight poured through the high windows, turning the ice into a silver lake. No spotlights. No judges. No mother counting my rotations or critiquing my arm placement. Just me, my blades, and the cold. I laced up my skates on the bench. The leather hugged my ankles, familiar as a second skin. I stepped onto the ice. The first glide. That shhhh sound of steel carving into frozen water. I closed my eyes and let my body take over. I spun. I jumped. I didn't count. I didn't worry about landings or edges or the conservative sponsors who'd pull their funding if they saw too much joy in my movements. I just moved. I became wind and moonlight and the whisper of blades. For the first time all night, I could breathe. I slid to center ice, chest heaving, arms spread wide. The cold air stung my lungs. My ankles ached from the hours of practice before the competition. My mother's voice still echoed in my skull, fts don't get gold medals, but out here, under the stars, it faded into background noise. "Just this once," I whispered to the empty stands. "Let me have this." I closed my eyes. The silence answered back. But then, the silence broke. A shuffle. A breath. The faintest creak of old wooden bleachers. My eyes snapped open. I wasn't alone. I turned slowly, scanning the shadows in the highest rows. Nothing moved. Just dark seats and darker corners. But I felt it. That prickle at the back of my neck. That animal instinct that screams someone is watching you. I gripped the edge of the boards. My heart hammered against my ribs. "I know someone's there," I called out. My voice echoed, thin and trembling. "This is private property. I'll call security." No answer. But then a glint. A reflection. In the far corner, a pair of eyes caught the moonlight, icy blue, unblinking, fixed on me like I was prey. My blood turned to ice. I didn't wait to see who it was. I vaulted over the boards, grabbed my street shoes, and ran through the maintenance door without looking back. The door slammed shut behind me. I leaned against it, gasping, my shaking hands fumbling for the lock. I clicked it shut. Safe. I was safe. But as I walked back to my dorm, my skin crawled with the memory of those blue eyes. Hungry eyes. Calculating eyes. Eyes that didn't just see me, they measured me. Studied me. Already planned my ruin. I didn't sleep that night. And somewhere across the academy, in a penthouse suite overlooking the frozen lake, Derick Blackwood watched the video of my winning routine on his phone for the tenth time. He smashed his glass against the wall. "Beautiful," he muttered, wiping whiskey from his chin. "So goddamn beautiful. And you have no idea what's coming for you.”Pagi itu, matahari bahkan belum naik sempurna ketika suara bel pintu apartemen mengagetkan Annisa dari keheningan paginya. Dengan langkah hati-hati agar tidak membangunkan si kembar, ia membuka pintu. Dan di baliknya, berdiri sosok yang membuat dadanya berdegup.Bagas.Wajahnya kusut, matanya sembab oleh kurang tidur, namun tetap terlihat lega melihat Annisa berdiri di hadapannya.Tanpa sepatah kata pun, Bagas langsung menarik Annisa ke dalam pelukan hangat. Erat. Seolah menyalurkan semua rasa bersalah, rindu, dan harap dalam satu dekap panjang yang nyaris membuat Annisa menangis."Maaf... maaf aku nggak kabarin semalam," bisik Bagas di pundaknya. "Aku panik. Aku takut kamu marah kalau aku ngajak kamu ikut, takut kita malah ribut lagi..."Annisa terdiam. Rasa kecewa yang sempat menyumbat dadanya perlahan mencair. Pelukan itu terlalu tulus untuk ditolak. Ia menghela napas panjang dan membiarkan tubuhnya tenggelam sebentar dalam dekapan Bagas.Bagas lalu menatap wajah Annisa, tangannya
Bagas membuka pintu rumahnya dengan napas terengah. Jantungnya berdegup kencang, membayangkan kemungkinan terburuk tentang kondisi ibunya. Namun, sesampainya di ruang tamu, pemandangan di depannya membuatnya membeku.Bu Rina duduk di sofa, kaki kirinya diperban dan ditopang bantal. Di sampingnya, sebuah tongkat kecil bersandar di sisi meja. Raut wajahnya tampak pucat, tapi bukan karena sakit—melainkan karena akting yang sempurna.“Ibu…” Bagas mendekat, langsung berlutut dan memeluk ibunya erat. “Maafin Bagas, Bu… Bagas nggak bisa jagain Ibu. Bagas takut banget kehilangan Ibu…”Bu Rina menepuk punggung Bagas perlahan, menyembunyikan senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya.“Nggak apa-apa, Nak… Ibu cuma kaget aja tadi. Kamar mandinya licin. Tapi kamu datang, Ibu senang sekali…” ucapnya lembut, tapi dalam hatinya: Akhirnya… anak ini kembali ke pangkuanku.Baru saja Bagas hendak membantu ibunya duduk lebih nyaman, suara langkah dari arah dapur membuatnya menoleh refleks.Seorang wanita
Matahari baru saja naik ketika mobil hitam berhenti di pelataran apartemen yang menghadap ke kota. Dari dalamnya, Annisa turun dengan kedua anak kembarnya yang tertidur lelap di gendongan. Bagas, yang menyetir sejak dini hari dari Yogyakarta ke Jakarta, langsung sigap membawakan koper dan perlengkapan anak-anak."Kita istirahat di sini dulu, ya," ucap Bagas lembut sambil membukakan pintu apartemen.Apartemen itu bersih dan tenang. Sudah lama tak ditempati, namun Bagas sempat memintakan bantuan ART freelance untuk membersihkannya sebelum keberangkatan ke Jogja kemarin. Kini tempat ini menjadi hunian sementara Annisa dan anak-anak.Annisa menatap sekeliling, hatinya campur aduk. Ada bagian dari dirinya yang merasa aman berada kembali di sisi Bagas. Namun, ia juga sadar, ini belum saatnya kembali penuh."Makasih ya, Gas," katanya pelan. "Tapi aku cuma sementara di sini. Aku belum siap tinggal serumah sama... ibumu."Bagas mengangguk. "Aku ngerti. Aku juga nggak maksa. Aku bakal bolak-bal
Siang itu, di tengah kesibukannya di kantor, Bagas menerima pesan WhatsApp dari nomor tak dikenal. Hanya ada satu kalimat pendek dan satu tautan lokasi:"Kalau kau masih ingin memperbaiki semuanya, datanglah ke sini."Disusul share-location dengan pin bertanda: Yogyakarta – Perumahan Taman Seturan. Bagas sontak tercekat. Tangannya refleks mengetik balasan,"Siapa kamu? Ini bener lokasi Annisa?"Namun centang di pesan hanya satu. Nomor itu tak bisa dihubungi, dan semua balasannya tak kunjung dibaca. Seolah orang itu hanya muncul sebentar lalu menghilang seperti bayangan.Tanpa pikir panjang, Bagas bangkit dari kursi. Ia tak peduli lagi dengan laporan setumpuk atau email yang belum terbalas. Ia hanya sempat menatap singkat rekan kerjanya, Fajar, yang langsung membaca kegugupan itu dari raut wajahnya."Gas, lu cari dia ya?"Bagas mengangguk."Udah, pergi aja. Kerjaan lu gue yang handle. Gue yang jelasin ke bos.""Thanks, Jar… Gue utang budi."Perjalanan Jakarta – Jogja ia tempuh dalam de
Matahari baru saja naik ketika Anisa kembali mendapati dapur rumahnya sudah dipenuhi suara. Ibu mertua sudah lebih dulu sibuk di sana, membongkar isi lemari, memindahkan bumbu dapur ke tempat yang menurutnya "lebih rapi"."Nis, kamu ini naruh garam kok deket kompor sih, nanti bisa lembap, nggak bis
Setelah melewati begitu banyak rintangan, akhirnya Bagas dan Anisa mendapatkan restu dari keluarga Anisa. Perjuangan panjang mereka terbayar ketika pada suatu hari yang penuh kebahagiaan, mereka mengikat janji suci dalam sebuah pernikahan sederhana namun penuh makna. Tidak ada pesta megah, tidak ada
Hari-hari berlalu, dan tanpa disadari, Rina semakin menjauh dari kehidupan Bagas. Ia tidak lagi sesering dulu menghubungi atau menemani Bagas seperti sebelumnya. Setiap kali melihat Bagas dan Anisa bersama, hatinya terasa semakin sakit. Ia tahu bahwa ia harus merelakan perasaannya, tetapi semakin i
Bagas masih berjuang mati-matian untuk memperbaiki kesalahannya, tetapi jalan yang ia tempuh tidaklah mudah. Keluarga Anisa, terutama ayah dan kakaknya, tetap menjadi tembok besar yang menghalanginya untuk bertemu dengan istrinya. Sejak Anisa pergi dari rumah, ia benar-benar kehilangan separuh jiwa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.