LOGINArman pulang membawa istri baru, niatnya memberi kejutan pada istrinya Nisa, tapi siapa sangka justru dia yang terkejut atas apa yang di lakukan Nisa. Membuat Arman jantung dan langsung kaget.
View More"I don't understand you, man, the rogues are attacking much more often and stronger than usual, and yet you still won't allow female fighters", Jake was telling him, frustrated."
You killed us with training like we aren't the strongest pack, imagine how strong would we be if girls could fight too?"
"Are you having a problem with the way I train my pack, Jack?" Kayden asked him in a very serious tone.
Although they were friends forever, he didn't allow anyone to tell him what to do, and if anyone talked to him the way Jack did just now, he wouldn't be alive anymore.
"You know that's not what I meant", Jake said.
"I allow Omegas to train, I treat them good, all, which you can't find in most of the packs", Kayden said.
"Yeah, just not the women, even Ella wants to train, but you won't allow it!" Jake told him.
"I need to train her myself at home", he mumbled to himself.
"You know my rules, and what you do in your free time is none of my business", Kayden said.
He didn't need to raise his voice, he was already cold and solid, because his face had no expression other than seriousness, and Jack didn't remember when was the last time he saw him smile.
"Now, come on, we have work to do, new warriors need to be trained!" He stood up and walked out of the office.
Jake just shook his head while he followed him, he would never understand this man, he thought, but even after so much time, he didn't give up.
He wasn't always that serious and cruel, as the other pack's called him, no.
Once he was different, but his life changed in one moment, and he became cold and distant.
He closed up his heart, changed the rules, and killed every enemy that stood up against him, gaining the title of the cruelest Alpha in the country.
Everyone was scared of him, except Jack, he knew the truth, and the fact that his friend was there somewhere, in the shell he created around him.
Alpha Kayden, the ruthless of all.
"Blake, please, you know don't like seeing you in bruises, even if it is for the pack's best warrior", Alora told his younger brother.
Blake smiled, chewing a pancake she made him.
Their father died as a pack warrior, defending their mother, and she couldn't stand that, knowing that her brother was one of them too.
A mother was a human, but their father was a werewolf, and her mate.
He was the best warrior in the Black Moon Pack, and he died defending the same pack.
They lived far from the pack, in their own house, where both of them grown up.
Alora was a human too, and she was thankful for that.
She was working as a doctor and didn't want to have anything with that mean Alpha of them, but as a werewolf, Blake was one of them, more than she would ever be, and she understood that.
She didn't like it, but she accepted it, just like the fact that he was living there now.
"Come on, sis, I know you're free today, come and see me, you haven't been there in a while", Blake told her.
"And see your ass kicked as if I don't have that enough at my job", Alora rolled her eyes.
"I bet Ella would love to see you", he played on the heart card.
She laughed hard.
"I can't believe you're doing this" " she told him, although it was a long time since she saw Ella, she visited Alora usually when she went into town.
She sighed, biting her lips, whenever she was nervous and thinking.
"I'll think about it", she said, gaining a big smile from him.
"Hold on!" Alpha Kayden ordered while Blake was fighting with the other warrior.
Blake was exhausted but okay, while the other one had likely broken arm, but Kayden insisted that he keep fighting, and Blake knew that.
They would fight until one of them fainted or gave up from exhaustion.
Only then, Alph Kayden would stop the fight.
Alora couldn't believe her eyes, while she was standing afar and looking at what was going on.
She knew that things had changed but now she knew how ruthless the Alpha was.
Who would say?
While he was standing in front of the fighting ground, shirtless, covered in sweat, with his short light brown hair and piercing green eyes, he looked like an Adonis himself.
The rage was growing inside her and she decided to put an end to this nonsense.
Even though she knew that werewolves heal fast, she couldn't think that Blake could be in the same place as the other one.
A gentle breeze was blowing, carrying all sorts of scents around as usual, but something made Alpha Caiden look in her direction.
His face paled and his fists clenched, while she was walking toward him.
Her blond hair was on her shoulder, carried by the wind, and her green eyes were full of rage, together with tears.
Her small but perfect body tempted him to take her there and now.
For the first time in ten years, he felt something like that, and it was the death of him.
The only thing he didn't want to happen.
He didn't want his mate to show up, not now not ever again, and what the worst part was, she was a human.
But, he couldn't imagine what she was capable of, even though she was human.
She was angry walking toward him and she didn't care that every look was now on her.
She was a woman on a man's ground, which was forbidden.
"You, Alpha, what the hell are you think you doing?" She asked him in an angry tone.
He looked at her, from head to toe, and his eyes stayed on hers.
His face didn't show any expression.
He had great self-control, life taught him itself.
"Yes, I'm talking to you", Alora said, pointing her finger at his bare chest, but she was confused for a moment, feeling tingling in her body.
What the hell was that?!
5 Bulan kemudian.Acara resepsi pernikahanku di gelar di sebuah gedung bertingkat. Aku bangga, sekaligus bahagia dapat menambatkan hati kembali pada sosok keren dan setia seperti Mas Denis."Gimana pengantinnya? Apa sudah siap! Sebentar lagi akan nikah akan di lakukan." Seorang wanita yang kutahu karyawan kepercayaan Mas Denis memberitahu.Aku makin deg-degan di buatnya. Walau ini hal yang kedua kali aku lalui tapi nyatanya tak menyurutkan rasa nervous yang kualami."Sudah siap, Mbak?"Aku memandangi diri pada cermin. Riasan yang natural namun elegant, bahkan aku sampai tak mengenali diriku. Sungguh MUA yang profesional."Makasih ya, Mbak," ucapku tulus.Dua orang telah menungguku untuk menuju ruang akad nikah. Satu menggandengku dan satunya lagi memegangi bajuku yang terjuntai kelantai beberapa meter.Sungguh aku merasa bak Cinderella yang sedang menunggu singgasana. Derap langkah kaki berpacu dengan jantung yang makin tak menentu."Ya Allah, berikan hambamu ini kekuatan untuk tak s
PoV Nisa.Aku fokus pada tangan Pak Denis. Botol itu? Bukankah itu botol obatku. Ya Allah! Kali ini aku kecolongan. Aku lalai dan berakibat orang lain tahu bahwa aku mengkonsumsi obat penenang. Memang sekarang itu aku mudah sekali lupa, bahkan kadang juga linglung. Apa ini efek samping dari obat itu!Saat aku hentikan mereka yang akan berkelahi, kepalaku sudah mulai berdenyut. Sakit sekali. Jangan sampai aku kambuh, aku tak ingin semua ini terbongkar. Aku kuat, aku tegar!Kusupport diriku, namun tekanan batin makin menjadi. Terus menuju kepala, makin pusing. Rasa ingin berontak dan puncaknya benar. Aku berteriak bak orang gila. Pasti mereka kaget, karena tahu bahwa aku sebenarnya gila. Ya aku yakin setelah ini pasti aku di masukan ke RSJ.Kepala serasa di putar-putar. Makin pusing tak karuan. Melihat Pak Denis dan Mas Arman sudah tak jelas hingga semuanya gelap, pekat. Apakah aku meninggal?Tut ... Tut ... Tut ... Aku membuka mata, namun kepalaku terasa berat. Kulihat sekeliling tapi
Allah!Beberapa kali aku menyebut asma Allah, sungguh hati ini perih melihat kenyataan ini. Apa aku sangat kejam? "Ya Allah! Hukumlah aku! Jangan hukum Nisa, semua masalah berawal dariku!" Aku terduduk lemas di lantai rumah sakit. Tak peduli jika ada orang yang memperhatikanku dalam.Pak Denis mendekat. Ia memegang kerahku. Aku pasrah saja. Memang aku pantas jika harus di pukul sekalipun."Apa ini yang kamu mau dari Nisa? Apa ini yang kamu inginkan, hah! Lihatlah, dia itu ibu dari anak-anakmu! Tak sedikitlah kamu iba?!" Pak Denis melepaskanmu hingga aku terjengkang kebelakang.Dia seperti sangat geram, bahkan tak kalah frustasinya. Dari itu aku sadar jika Pak Denis mencintai Nisa.Aku masih merundungi nasib di depan ruang ICCU. Nisa belum sadarkan diri. Kata dokter ada pembekuan otak akibat terlalu sering mengkonsumsi obat penenang dengan dosis tinggi. "Nisa sadarlah, aku janji akan melakukan apapun asal kamu sembuh. Aku ingin melihat kamu kembali bersama anak-anak. Aku akan pergi m
PoV Denis."Denis, kapan kamu nikah?" tanya Om Beni saat tengah kumpul keluarga."Nanti, Om. Belum ada yang cocok!" jawabku jengah, karena selalu hal itu yang di tanyakan saat bertemu. Seperti ngga ada pertanyaan lain saja!"Sampai kapan, Den! Usia kamu sudah tak muda lagi loh!" sambung Om Beni. Malas sekali meladeninya, ini yang membuat aku malas saat berkumpul dengan keluarga. Papa hanya diam, hanya dia orang yang tak pernah menuntut ku tentang pernikahan. Sedangkan Mama! ia sebenarnya lebih cerewet dari Om Beni."Den, Mama kenalin sama anak temen mama ya, Mama kenalin sama si A, Mama kenalin sama si B!" Sampai pusing aku dengarnya. Sekali dua kali aku ikuti kemauan mama.Sesi perkenalan lancar, sesi pendekatan? Rata-rata gagal total karena mereka menganggap aku aneh, mencintai mahluk berbulu. Kucing!Kadang ada yang juga masih mau menerima tapi aku tahu dia hanya pura-pura. Aku yakin orang tuanya memaksa untuk tetap bersabar sampai menikah denganku. Aku dengar saat mereka tengah m
"Ha ... Haa ... Haa ...!" Tawa riuh para tamu yang hadir, membuat aku yang hampir kehilangan kesadaran langsung pulih. Mataku kembali terang. Aku harus menyelamatkan Syasya dari ejekan para tamu yang hadir. Apalagi ada petinggi di perusahaan ku. Pak Denis, selaku direksinya. Bisa malu tujuh turuna
"Ma-maksud kamu apa, Nis?" tanyaku dengan suara yang bergetar. Sungguh aku tak kuat lagi jika harus terkejut untuk kesekian kalinya."Loh! Kok kamu malah bingung. Ini sengaja acara untuk kamu loh. Kamu ngga suka aku buatkan pesta atas pernikahan keduamu. Harusnya kamu bangga, ngga ada istri seikhla
Ting ... Tong!Bel berbunyi, siapa lagi yang datang? Aku menautkan alis, menatap Nisa, wanita yang hari ini kulihat lebih energik. Seratus delapan puluh derajat aku telah salah duga.Kukira kepulangan ku membawa madu untuknya akan membuat dia meraung dengan tangis yang tumpah-tumpah. Nyatanya dia j
Nisa kembali duduk pada tempatnya, setelah sebelumnya menatapku dengan senyum penuh arti. Ah! Aku tak tahu apalagi yang akan ia lakukan."Makanlah, makanlah!" tawar Nisa pada semua yang ada di sana. Para laki-laki tersenyum dan menikmati hidangan. Hanya aku dan Syasya yang masih belum menyentuh mak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews