LOGINSuci masih menatap Nilam lurus. “Semua gadis yang diinginkannya akan sulit lepas. Mereka pasti menghilang. Kamu bisa jadi korban selanjutnya,” ceracau gadis itu dengan bibir bergetar. “Aku? Korban siapa? Apa maksudmu, Ci? Aku nggak paham.” Nilam terus bertanya bersamaan dengan jantungnya mulai berdebar. “Ki Arya ....” Suci bergumam, setengah berbisik. Sorot matanya berkilat aneh.
View MoreWatching the gooey slimy things slowly,dripping down my books , I hardly suppressed a groan . I couldn't believe it , fine , I can but it was starting of our final year. You might think that after tormenting me for continuous two years these people would finally get bored, find a new target and move on.
While I wasn't supportive of bullying , I didn't want to be alone in this shit .The black sheep in the hoarde of white ones . Suppressing the shudder that was running through my body with the prospect of taking my book outta that lube covered locker , I simply thrust in my hand and ughh...
Just disgusting .
Thankfully; with my last fiasco of finding my locker in used condom ,atleast I learned my lesson to cover my books with something before leaving my school . You can never be sure of what people were goinf to slip in your locker when you are on their hit list you know .
I squashed my urge to puke that was building in and thrusted my book in my bag ; with an audible bang to let whoever pushed that lube in my locker ; that I wasn't happy with this 'prank' of his/her and they successfully pissed me off , I turned around to walk down the corridor .
People parted ; some even turned around to run in the opposite direction when they saw me approach , oh they weren't afraid of me not at all. They were only afraid to be seen together with me , to be associated with me in any fucking way , Like everything that was happening to me was my fault.
It wasn't , I did nothing to deserve this , it was them who should be avoiding my eyes, to walk away the opposite direction when I approach them but they weren't instead it was me who was turned into a complete outcast . If you want to ask me what was going on , I have to explain from the beginning .
You see my mum divorced my dad or more like it was my dad who had an affair with my mum's best friend and had a daughter with her . With that it was impossible for my parents to stay together , or maybe it was since my mother was all set to keep their marriage together ; only if my father sent his mistress away .
He didn't though ; who in their right mind would keep a woman who had long losr her youth in taking care of you , having three kids for your sake instead of the woman who still looked well kinda maintained ,no one, okay?
My dad didn't either instead he divorced my mum the fastest way possible and moved here in Austin . However; my mom never forgave my dad for it and thus after years of saving money ; we moved from Wimberley to Austin .
Major stalker alert , I know .
But my mum wasn't the clingy ex , oh no . She was a typical woman who wanted to show my dad that he made the wrong decision , that the children she gave birth to were better in every sense than his lover's daughter , In short she was simply obsessed with making my dad green with regret.
It wasn't easy if you ask me if not for my nanna having a home here, we would still be in a tough spot .I wanted nothing more then to go back to where we were instead of living here in a place full of strangers.
While my dad moved here when my half sister was still young ; I came here just two years ago ; meaning I was the outsider , the one people keep at bay . No matter how hard I try I will always be the stranger that they want no association with ; something my mum simply doesn't understand. Maybe things might have gone okay, if not for me being the stuck bitch people think I am .
In my defence; after seeing my parents marriage falling apart , I took refuge in those romantic stories ; which screamed about true love. With those books as my only companion and my regular visits to church, I became your neighbourhood's goody two shoes .
All I ever wanted was to find myself a good ; responsible man who will fall for me just the way I'm , let me feel the amazing feeling that we all call love before I walk down the aisle sharing our first kiss together and ending my walk through the virgin road .
However, things went out of control when Jacob Knight pulled me in his strong muscular arm and kissed me right in front of the entire student body in the school grounds
. I should have been blessed , I should have thanked the Lord for letting Jacob knight kiss those awful lips of mine but instead I slapped him .
Yes, I slapped the QB of the Longhorn team and boy , they weren't much happy about it . Well ofcourse who cares that the said asshole forcefully kissed me in front of the entire school? Jacob Knight with his Gorgeous stormy gray eyes and black tousled hair was given a free chit while I was turned into the school infamous 'Bella ; the Wadding' ton' .
I wasn't waddington , My name is Bella , Bella Hamilton and I don't weigh tons not at all ,I was simply curvy with a shorter and stockier body but no where curvy. But these assholes weren't the brightest bulb in the box , one will set the tone around and the others will simply follow along .
Stupid jerks.
Turning around the corner , I made my towards English class but my body reacted faster before my mind could as it stopped right before entering .
With gorgeous smiles, handsome face and a lot more money to burn , the four kings all together were sitting in the middle of the room .
The four and I
Author's note : I do not support bullying or any form of bullies .
Wajah Nilam pucat pasi. Pemuda yang ia kenal sopan, bagaimana bisa berubah bagai singa yang siap menerkam? Gigi Kusdi saling beradu ketat, mata merah tak lepas memandangnya dengan rona amarah sengit. Belum lagi dari tubuh pemuda itu menggeliat, menerjang siapa pun yang mengganggu. Walau sia-sia saja, karena puluhan santri dengan kekuatan cengkaraman juga dzikir mampu mengendalikan geraknya. Tubuh pemuda itu tertawan, hingga akhirnya tergolek lemah kehabisan tenanga. Sekarang ia sudah dibawa ke ruang kesehatan milik pondok ini. Nilam bersyukur kejadian barusan saat ia di pondok, sehingga ada banyak yang membantunya. Andai Kusdi menyerangnya di rumah, maka ia tak tahu apa yang akan terjadi dengan diri dan keluarganya. Ternyata semua masih berkaitan dengan kalimat yang menjadi momok untuknya dulu ‘Tumbal Kesembilan’. Kata-kata dari mulut Kusdi itu tadi mengingatkannya pada kejadian sepulang dari Dukuh Gelap. Sungguh tak disangka dirinya masih dijadikan target tumbal. “Mau minum lagi
Semuanya jadi menatap ke pintu.“Eh, Pak Malvin?” gumam Nilam dengan mata sedikit membesar. Ia kaget melihat di sana ada lelaki yang pernah mampir ke laundrynya bersama Hwa beberapa bulan lalu.“Assalamu’alaikum…”“Wa’alaikummussalam ….”“Oom Apiin!” Ali menghampiri lelaki itu. Ali dan Malvin memang akrab sejak bertemu pertama di acara pernikahan Hwa, saat itu Nilam memang datang membawanya.“Sama siapa, Pak?” Nilam bertanya setelah persilakan tamunya duduk. Sebenarnya ia menahan tanya, dari mana lelaki itu tahu alamat rumahnya, sebab Hwa saja tak tahu.“Sendiri, Nilam, saya mampir sebentar cuma mau kasih ini buat Ali.” Sekotak besar biru yang dibawa Malvin tadi disodorkan pada Ali, dan langsung mendapat ucapan terima kasih dari anak itu. “Ini hadiah ulang tahun Ali minggu lalu. Tak apa ‘kan om terlambat kasih, kebetulan saya baru ingat.”Ali yang tadi kurang segar mendadak tersenyum lebar, berterima kasih lagi setelah melihat isi kado itu. Ia dan Mischa yang bantu membukakan hadiahny
Mata gelap pekat dari pemuda bertubuh kurus yang terus menatap satu titik itu menggambarkan sebuah ambisi. Flashback on. Mundur pada kejadian setahun sebelumnya …. Sebuah kampung yang bertetanggaan dengan Dukuh Gelap, tengah terjadi keriuhan di salah satu rumah warga. Mereka berkumpul dengan wajah-wajah emosi meneriakkan serapah, wujud kemarahan pada satu orang warga mereka. Telah 30-an orang berkumpul hingga datang seseorang yang mengaku melihat kejadian tadi, ia pun mengarahkan puluhan orang memegang obor itu menuju sudut kampung. Mengarah pada satu rumah tua kosong. Mereka percepat langkah melihat ada titik cahaya dari dalam menandakan benar ada orang di sana. Sementara itu … di dalam bilik rumah kayu tersebut tampak lelaki muda berkulit gelap tengah siap menggagahi seorang gadis yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Gadis berkulit putih mulus yang dikenal sebagai kembang desa telah ia bebaskan dari pakaian penutup. Menatap semua yang tampak di depan mata seperti singa kelaparan
“Aneh …,” gumam Nilam sambil menoleh pada Ali dalam gendongan.“Ali nggak apa-apa, Nak?” Makin merasa aneh ia melihat Ali yang biasa ceria tiba-tiba pendiam. Tanpa disadarinya itu terjadi sejak tadi, saat ia bicara dengan Kusdi.Anak itu berkedip sayu membuat Nilam mengira Ali sedang mengantuk.“Nanti tidurnya, jam segini tanggung. Ali belum makan ‘kan?”Nilam bicara sambil menyeret langkah ke belakang. Ia yang dalam keadaan agak linglung memanggil mama mertuanya.Namun, tidak ada jawaban. Ali yang semakin berat membuat tangan Nilam pegal, ia pun mendudukkan anak itu di kursi makan.“Ali makan dulu. Maafin mama ya sampe lengah gini.” Diusapnya wajah Ali dengan tangan basah. Namun tetap saja wajah itu tampak loyo.Masuk makanan tiga suap setelahnya Ali menolak.“Baik kalau sudah nggak mau. Minum dulu.”Usai itu ia menggamit Ali akan ke kamar. Saat ka
Pagi keesokan hari Nilam memaksa ingin keluar rumah sakit. Nilam mengatakan dirinya mulai membaik, mengabaikan rasa berat di kepala dan panas dalam dada. Selama kuat berjalan, Nilam ingin di akhir waktu ini berada di sisi wanita yang melahirkannya itu. “Itu berbahaya, Nilam, kamu ak
“Sorry baru bilang, gue juga syok,” kata Hanif pada Juju yang memerah mukanya begitu sampai di rumah sakit. Ia kecewa baru dikabari keadaan Nilam pagi ini. Sebagai orang terdekat Nilam, Juju merasa bersalah tak bisa menjaga gadis itu lebih baik. Hanif sejak selesai Subuh tadi mengisi henin
Mentari sudah mengintip di ufuk Timur, bersiap keluar membagi hangatnya pagi. Di kamar bernuansa pink, perempuan bermata kecil mengerjap. Matanya terbuka menerima terang yang masuk dari celah ventilasi. Beberapa saat ia mencoba mengembalikan kesadaran, mengingat apa yang terjadi semalam.
Hari hampir siang, setengan sebelas Juju sudah berangkat dari rumah. Sebelum bekerja ia akan ke kos Nilam dulu, gadis itu memang sudah mendapat izin tak masuk hari ini, oleh Hwa. Juju hanya ingin memastikan kondisinya saja.Ponsel Nilam dihubungi tidak aktif sedari pagi, itu membuatnya khaw






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore