Pesugihan Kandang Bubrah
Udara di sekitar Lila menjadi dingin, seperti diselimuti kabut yang membawa aroma kematian.
“Bu…” Jatinegara membuka matanya perlahan, suaranya terdengar lemah namun cukup jelas. “Aku… aku bermimpi… ada seseorang memanggilku, dari tempat yang gelap.”
Lila menahan napas, mencoba menyembunyikan rasa takutnya. Ia mengusap keringat di dahi Jatinegara, matanya menatap penuh kasih sayang meski hatinya dipenuhi kecemasan. “Itu hanya mimpi buruk, Nak. Jangan pikirkan.”