Cinta Habis Tanpa Bekas
Ibu tiba-tiba sakit parah. Sebelum operasi, dia menggenggam tanganku erat, memintaku untuk segera memanggil Yohan Lukmana, karena ada hal yang ingin dia sampaikan.
Aku terus-menerus menelepon Yohan di luar ruang operasi, tapi tak satu pun yang diangkat.
Hingga akhirnya dokter keluar, menggeleng pelan ke arahku dengan wajah penuh penyesalan.
Semua ketegangan yang kutahan selama ini akhirnya hancur berkeping-keping.
Tiba-tiba, panggilan itu tersambung, tetapi yang menjawab justru Sierra Suwandi.
"Kak Inge, Guru minum kebanyakan gara-gara bantu aku ngadepin orang tua yang maksa nikah."
"Kalau ada perlu, bilang ke aku aja."
Aku menatap jenazah ibuku, suaraku terdengar dingin.
"Tolong bilang ke Yohan, ibuku sudah meninggal. Kalau dia masih mau peralatan eksperimen itu, suruh dia datang ke rumah sakit."
Tapi sampai ibuku dimakamkan, Yohan tak kunjung muncul.