Ada beberapa nama yang langsung terlintas di pikiran ketika membicarakan maestro novel pembunuhan. Agatha Christie adalah legenda yang tak terbantahkan—bayangkan, karyanya terjual lebih dari 2 miliar kopi! 'And Then There Were None' dan serial Hercule Poirot-nya seperti 'Murder on the Orient Express' adalah contoh sempurna bagaimana dia membangun teka-teki rumit dengan karakter yang memorable. Tapi jangan lupakan Arthur Conan Doyle dengan Sherlock Holmes-nya, yang menciptakan pola deduksi forensik sebelum ilmu forensik modern benar-benar ada.
Di era modern, Stephen King juga sering menyelipkan elemen pembunuhan dalam karya horornya, meskipun lebih ke arah psikologis. Tapi kalau mau yang benar-benar fokus pada kejahatan terencana, Gillian Flynn lewat 'Gone Girl' atau Tana French dengan Dublin Murder Squad-nya layak disebut. Mereka membawa nuansa kontemporer yang gelap dan realistis. Yang menarik, setiap penulis ini punya 'signature style': Christie dengan twist-nya yang tak terduga, Doyle dengan logika brutal, Flynn dengan narasi unreliable narrator-nya.