Memar Termanis
Memar-memar besar memenuhi punggung dan lengan Rean—beberapa berwarna ungu tua, yang lain kehijauan, tanda luka yang mulai sembuh.
“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Nak?” bisik dokter itu pelan, hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia mengusap lengan Rean dengan lembut, perasaan iba memenuhi hatinya.
Rean masih tidak sadarkan diri. Napasnya tetap pelan, namun dia terlihat gelisah, seperti melawan sesuatu dalam mimpinya.
Hot Chapters