Dialog yang kaku dan tidak alami sering jadi masalah utama. Karakter yang terlalu formal atau berbicara seperti membaca naskah akademis langsung merusak imersi. Misalnya, dalam novel fantasi, penyihir tua yang seharusnya berbicara dengan kearifan lokal malah terdengar seperti profesor fisika. Solusinya? Rekam percakapan nyata, amati bagaimana orang saling memotong, menggunakan filler words 'anu', 'eh', atau jeda alami.
Masalah lain adalah over-explanation. Dialog bukan tempat untuk info-dumping! Ketika seorang karakter menjelaskan backstory panjang lebar kepada karakter lain yang seharusnya sudah mengetahuinya ('Seperti yang kamu tahu, adikku...'), itu terasa dipaksakan. Show, don't tell. Biarkan informasi mengalir melalui argumen spontan atau obrolan sarat konflik. Percayalah pada pembaca untuk menyambung titik-titik yang tersirat.