Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Pertemuan Kedua : Dia yang Kembali

Pertemuan Kedua : Dia yang Kembali

Ayumi dan Arkan adalah teman sekelas, mereka menjalin hubungan ketika duduk di bangku SMA. Perpisahan keduanya tak berjalan baik hari itu, Ayumi hanya meninggalkan secarik kertas tanpa penjelasan. Hal itu membuat Arkan membencinya. Dibalik sikapnya yang tak acuh, ternyata Ayumi menyimpan banyak kekecewaan. Bibi yang selama ini merawatnya jatuh sakit. Ayumi tidak memiliki uang, dengan terpaksa biaya kuliah yang selama ini ia kumpulkan digunakan untuk membayar tagihan rumah sakit. Setahun berlalu, Ayumi masih mendambakan kehidupan layaknya teman-teman sebaya. Dengan segala upaya ia bekerja lebih keras, merantau ke pusat kota untuk menghasilkan uang. Ia mengantarkan berbagai hidangan ke meja-meja di cafe dan terkadang menjadi penjaga perpustakaan kecil di sekitar bangunan yang menjulang tinggi. Seolah mendapatkan kembali kesempatan, Ayumi berhasil memasuki universitas impiannya. Dengan penuh kebahagiaan ia mencari Arkan yang sudah menjadi mahasiswa tahun kedua. Saat itu mentari bersinar sangat terang, seolah semesta menunjukkan betapa jauh perbedaan antara dirinya dan Arkan. Pria itu sangat pintar, punya banyak teman dan hidup berkecukupan. Lambat laun ia semakin merasa rendah diri. Kenangan tentang perpisahan hari itu kembali menghantui Ayumi, diam-diam dia kembali menjauh. 5 tahun kemudian mereka di pertemukan lagi. Arkan sudah menjadi komikus dan Ayumi bekerja di perusahaan webkomik. Saat itu ide Ayumi dicuri secara paksa oleh atasannya, karena tak ingin mengakui kekalahan Ayumi bertekad untuk mendapatkan ide baru. Tak disangka komikus yang selama ini ia incar ternyata adalah mantan kekasihnya.
1.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 40 kali sebagai perpustakaan uns
Baca
+Pustaka
Romantic Purple

Romantic Purple

Rian menjalani tahun terakhir SMA seperti kebanyakan hari-hari sebelumnya: tenang, teratur, dan tanpa keinginan untuk menonjol. Ia dikenal sebagai siswa yang bisa diandalkan, cukup pintar, dan jarang membuat masalah. Di antara hiruk-pikuk sekolah, pertemanan, tugas akhir, dan obrolan tentang masa depan, Rian selalu merasa aman berada di jarak yang tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Sampai suatu sore, di depan warung langganan tempat ia biasa singgah, ia melihat seorang siswi berjalan sendirian. Tidak ada yang istimewa. Hanya langkah yang tenang, wajah yang biasa saja, dan sikap yang seolah tidak peduli pada dunia di sekitarnya. Namun sejak saat itu, ritme hidup Rian mulai berubah oleh hal-hal kecil yang tak bisa ia jelaskan. Namanya Lidya. Lidya bukan tipe gadis yang mudah didekati. Ia pendiam, menjaga jarak, dan tampak hidup di dunianya sendiri. Semakin sering Rian melihatnya di lorong sekolah, perpustakaan, atau jalan pulang, semakin ia sadar bahwa perasaan yang tumbuh bukan sekadar rasa penasaran. Di tengah candaan teman-teman, kesibukan buku kenangan kelulusan, sore-sore di Warzam, dan hari-hari terakhir masa sekolah, Rian perlahan dipaksa menghadapi sesuatu yang selama ini selalu ia hindari: membuka diri. Namun mendekat pada seseorang tak pernah sesederhana berjalan ke arahnya. Tentang gengsi, keberanian, jarak yang tak terlihat, dan cinta pertama yang tumbuh pelan-pelan, Romantic Purple adalah kisah manis dan hangat tentang masa SMA-tentang seseorang yang datang tanpa rencana, lalu mengubah hari-hari biasa menjadi sulit dilupakan.
90 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2 kali sebagai perpustakaan uns
Baca
+Pustaka
Kesandung Cinta Si Ulat Buku

Kesandung Cinta Si Ulat Buku

mereka sering mengira Kota itu ramai. Tapi pada kenyataannya Kota itu tak pernah benar-benar ramai, bagi Vania rumah Vania selalu terasa lebih sunyi daripada jalanan di luar sana. Rumah dua lantai dengan pagar hitam tinggi itu berdiri megah, tetapi tak pernah terasa hangat. Dindingnya kokoh, lampunya terang, namun percakapan di dalamnya selalu singkat dan seperlunya. Vania tumbuh di antara jadwal rapat dan dering telepon papahnya yang tak pernah berhenti. Pria itu selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang ketika malam hampir habis. Jas kerjanya rapi, wajahnya tegas, tetapi waktunya tak pernah cukup untuk duduk sebentar dan mendengarkan cerita putrinya. Di meja makan yang panjang, kursi papah sering kali kosong atau jika terisi, hanya ada keheningan yang menggantung canggung. Bagi Vania. rumah bukan tempat berbagi cerita, melainkan tempat menyimpan luka. Di sekolah, ia dikenal sebagai siswi pendiam. Senyumnya manis tapi siapa yang tahu sorot matanya menyimpan lelah yang tak dimengerti teman-temannya. Ia pernah menemukan tempat bersandar seseorang yang membuatnya merasa didengar, dihargai, dan tidak sendirian. Seseorang yang menjadi dunianya ketika rumah tak lagi terasa utuh. Namun sandaran itu runtuh. Orang yang paling ia percaya justru meninggalkannya dan menghianatinya. Sejak saat itu, Vania belajar menjadi wanita yang lebih tegar. Ia yakin bahwa ia mampu melewati semuanya sendiri. Lorong sekolah, bangku taman, dan sudut perpustakaan menjadi saksi bisu tangis yang ia sembunyikan. Hari-harinya berjalan datar hingga suatu pagi, di tengah riuh langkah siswa dan bel yang menggema, takdir mempertemukan ia dengan seseorang. Seseorang yang mampu mengerti yang terdalam yang tersembunyi di balik dirinya. Dan seseorang yang mempunyai luka yang sama. Dan di sanalah cerita Vania benar-benar dimulai di antara luka yang tak kunjung sembuh, dan harapan yang diam-diam tumbuh kembali.
238 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 9 kali sebagai perpustakaan uns
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status