Surat Perceraian Sebagai Hadiah Pernikahan
Di hari perayaan ulang tahun pernikahan ketiga mereka, hadiah yang disiapkan Debora untuk suaminya adalah selembar surat perjanjian cerai.
Dia melirik kursi kosong di seberangnya, lalu menelepon pengacaranya. "Pak, surat perjanjian ceraiku sudah selesai dibuat?"
Debora duduk sendirian di meja makan. Cahaya lilin yang berkelip di atas meja memantul di wajahnya, membuat ekspresinya sulit ditebak.
"Sudah selesai, Bu. Saya sudah pesan kurir untuk antarkan." Suara pengacara terhenti sejenak, lalu dia bertanya ragu-ragu, "Hari ini ulang tahun pernikahan ketiga Anda dan Pak Bravy. Anda yakin ingin mengajukan perceraian di hari yang begitu bermakna?"
Bermakna? Tatapan Debora tertuju pada hidangan yang sudah dingin sejak lama. Kilatan ejekan untuk diri sendiri melintas di matanya.
Hari peringatan hanya berarti jika diingat oleh kedua pasangan. Jelas, dalam hubungan antara dirinya dan Bravy, hanya dia yang mengingatnya.
Baru saja telepon ditutup, terdengar suara pintu dibuka dari arah depan. Bravy masuk dengan wajah lelah, tetapi kegembiraan dalam nada suaranya tak bisa disembunyikan.
"Kasus perceraian Amanda akhirnya selesai. Dia akhirnya bisa benar-benar lepas dari pria yang suka KDRT itu."
Setelah sebulan tak bertemu, kalimat pertama yang diucapkan Bravy padanya justru tentang cinta pertamanya yang akhirnya bercerai.