Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya

Tunangan yang Termakan Tipu Daya Asistennya

Perang dingin memasuki hari ketiga, tunanganku sengaja menyetujui usulan asistennya untuk melakukan perjalanan keliling dengan mobil. Dia mengira aku akan cemburu dan berebut seperti biasanya. Namun siapa sangka, sebulan kemudian saat dia kembali, dia mendapati aku sudah berubah. Dia membantu asistennya merebut proyekku. Aku tidak lagi ngambek lalu mengundurkan diri, malah mondar-mandir sibuk membantu, lalu menuliskan proposal untuknya dengan rajin. Demi asisten itu mendapatkan bonus akhir tahun, dia menghancurkan desain yang sudah susah payah kuselesaikan. Aku pun tidak lagi berusaha membuktikan diri, melainkan malah menanggung semua kesalahan dan membiarkan dia menghukumku sesuka hati. Bahkan ketika dia hendak menaikkan jabatan asisten itu menjadi direktur utama perusahaan, aku tidak marah. Aku malah secara sukarela menyerahkan seluruh saham yang ada di tanganku, membiarkan tunanganku membaginya dengan bebas. Asisten itu merasa sangat puas. "Lihat, benar 'kan yang kubilang? Kak Penny itu tipe yang nggak bisa dilawan secara keras. Harus diperlakukan dengan sikap dingin, baru ada efeknya. Pasti karena beberapa hari kamu pergi, hasilnya langsung kelihatan. Dia takut kehilangan kamu, makanya sekarang jadi patuh begitu." Tunanganku percaya pada ucapan asisten itu sepenuhnya, bahkan memuji kepintaran asisten itu. Setelah itu, dia sengaja mencariku untuk menaikkan jabatan dan gajiku, bahkan untuk pertama kalinya berjanji akan memberiku sebuah pernikahan yang tak terlupakan. Namun, dia tampaknya lupa. Selama masa liburan itu, dia sudah menandatangani surat pengunduran diriku. Dan aku juga sudah putus dengannya. Sejak saat itu, kami memutuskan hubungan sepenuhnya, tanpa ada lagi keterkaitan apa pun.
7.2K viewsCompletedAdded to Library 258 Times as quote liburan
Read
+Library
Sang Putri: Sahabat Dari Surga

Sang Putri: Sahabat Dari Surga

Aiko Arawati
Novel Sang Putri Sahabat Dari Surga merupakan kisah semasa sekolah dasar si penulis. Terlebih penulis dedikasikan untuk semua sahabat dan guru yang sudah membimbing hingga menjadi sekarang. Tepatnya, setelah pindah dari sekolah lama ke sekolah baru yang di dekat rumah. Saat itu, baru kelas 4, penulis mengenal sosok sahabat cowok bernama Wanto yang memiliki kesan tersendiri. Namun, menginjak kelas 5, Wanto meninggalkan tanah Jawa dan menetap di Sulawesi Tenggara. Wanto merupakan sahabat yang sangat perhatian. Mungkin satu-satunya teman cowok yang baik. Setelah kepergian Wanto, penulis memiliki dua sahabat perempuan yang bernama Ayu dan Halimah. Ayu merupakan anak yang sabar dan menyukai make up, sekaligus seorang non muslim yang taat juga menyukai bahasa Inggris. Sedangkan Halimah seorang muslim yang sedikit tomboy dengan potongan rambut pendek. Dalam perjalanan belajar di kelas 5, sosok pengajar yang hangat akan selamanya terkenang. Beliau bernama Pak Kasim yang tiba-tiba memilih pindah tempat mengajar. Kami sekelas merasa kehilangan. Hingga akhirnya memberikan nyanyian terakhir diiringi tangisan histeris. Menjelang pulang sekolah, beliau mengucapkan kata perpisahan. Hal itu membuat salah satu teman bernama Efi memberikan sepucuk surat kepada Pak Kasim. Sepanjang mengayuh sepeda menuju rumah masing-masing, kami masih saja menangis. Suatu ketika, menjelang kenaikan kelas. Sekolah mengadakan liburan ke beberapa obyek wisata Yogyakarta. Di sana, penulis mengalami beberapa hal aneh yang tidak masuk akal. Seperti di situs Candi Borobudur, Museum Kyai Langgeng, dan terakhir Museum Ronggowarsito. Bab selanjutnya, Ayu, Halimah, dan penulis bertenngkar saling menendang satu sama lain di belakang sekolah. Teman-teman yang lain tentu saja bersorak sorai menyemangati kami untuk beradu kekuatan. Hingga, sebuah kalimat meluncur dari mulut Halimah cukup mencengangkan,
103.0K viewsOngoingAdded to Library 99 Times as quote liburan
Read
+Library
Rasa Lelah yang Mencapai Puncah, Aku Tak Ingin Lagi Menikah

Rasa Lelah yang Mencapai Puncah, Aku Tak Ingin Lagi Menikah

Pacar mafiaku, Fendy, selalu bertengkar dengan sahabat masa kecilnya, Amanda. Di hari ulang tahunku, Amanda memberiku sebuah bullet vibrator. "Nih. Buat ronde kedua, kalau-kalau perlu. Aku lebih tahu stamina dia daripada siapa pun." Fendy melemparkan sebotol foundation berwarna pucat ke arahnya. "Pakai yang lebih banyak lagi. Siapa tahu akhirnya ada yang mau sentuh kamu." Mereka saling mendorong saat keluar, lalu membanting pintu di belakang mereka. Lilin di atas kue ulang tahunku habis meleleh hingga padam, sementara aku duduk sendirian di meja makan. Saat kedua keluarga kami pertama kali mengadakan makan malam resmi bersama, Amanda tersenyum dan menyelipkan sebotol kecil pelumas ke tangan Fendy. "Ambil. Biar kamu nggak bikin gadis malang itu menderita." Ekspresi Fendy langsung menjadi muram. "Masih lebih baik daripada kamu yang menangis malam-malam sambil memeluk guling." Kali ini, Fendy mengatur liburan ke sebuah pulau pribadi. Seorang teman kami diam-diam memberitahuku bahwa dia berencana melamarku di atas tebing saat matahari terbenam. Setelah tujuh tahun menjalin hubungan, aku berkata pada diri sendiri bahwa inilah akhirnya. Garis akhir yang selama ini kutunggu akhirnya sudah di depan mata. Aku berdandan dengan sangat teliti, mengenakan gaun termahal yang kumiliki, lalu berjalan menuju helipad. Aku membuka pintu helikopter. Amanda sudah duduk di kursi kopilot. Dia mengangkat alis saat melihatku. "Chloe, kamu datang? Aku agak klaustrofobia, jadi kamu nggak keberatan kalau aku duduk di depan, 'kan?" Fendy yang sedang memegang kendali helikopter menoleh dan mengamatiku. "Chloe, kamu duduk di belakang saja. Aku khawatir dia tiba-tiba mengamuk, lalu mulai mencakar dan menggigit. Nanti suasananya jadi rusak." Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, Amanda sudah lebih dulu membalas, "Apa maksudmu? Aku ini beban buatmu?" "Bukan baru hari ini aku mikir begitu. Kenapa kamu drama sekali hari ini?" Perdebatan mereka berlangsung begitu alami, seolah-olah mereka telah mengulang naskah yang sama ribuan kali. Pada saat itu, kelelahan yang telah menumpuk selama tujuh tahun terakhir tiba-tiba menghantamku. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa aku tidak lagi ingin menerima lamarannya.
3.1K viewsCompletedAdded to Library 79 Times as quote liburan
Read
+Library
PREV
123456
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status