Ibu, Jangan Tinggalkan Kami
"Jangan pernah kembali."
"Iya, kami akan pergi," sahut Randu.
"Kami permisi, Pak Atma ...." Aku berpamitan, lalu menggamit lengan Randu. Berjalan bersisian menuju motor.
"Aku pikir majikanmu masih muda, Mbak. Ternyata sudah sepuh, kasihan kalau aku tinju," celetuk Randu.
"Huss, yang menuduh ... ah, sudahlah. Kita pulang." Aku segera membonceng motor Randu. Berpegangan pada pundaknya. "Kamu tuh, belum punya SIM, berani naik motor."