Hati Yang Terpilih
Kata Ibu seraya membawa tasnya dan melangkah menuju kamar yang biasa ditempatinya saat ia menginap di sini.
Renata tertawa kecil melihat sikap ibu yang begitu keras kepala membuktikan bahwa beliau masih mampu mengerjakan semua hal. Terlintas di kepalanya, apakah kelak jika ia mempunyai anak, sikapnya juga akan sperti itu. Cepat ia menepis pikiran yang terlintas tadi dan tersenyum kecut. Bagaimana bisa ia mempunyai anak, jika ia dan Rafi tidak pernah menyatukan hasrat mereka berdua. “Re, pikiranmu itu loh, jangan ngawur!” bisiknya lirih pada dirinya sendiri.