Mag-log in"Pernikahan ini tak pernah kuinginkan, tapi apakah hatiku juga akan berubah?" Rila tak pernah membayangkan hidupnya berubah drastis setelah perjodohan mendadaknya dengan Arga, saingan terberatnya di sekolah sekaligus ketua OSIS yang dingin dan arogan. Di balik wajah tampannya, Arga menyimpan kebencian yang Rila tak pernah mengerti. Bagaimana mungkin ia harus menjadi istri pria yang selalu ingin mengalahkannya? Di tengah pertarungan akademik, cinta segitiga, dan rahasia masa lalu, Rila harus mencari cara untuk bertahan. Namun, apa jadinya jika kebencian perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih manis? Apakah cinta bisa tumbuh di tengah persaingan?
view moreJason’s POV
You can do this. Just remember, she’s somebody else’s wife now. She belongs to someone else. I repeated the words like a mantra, trying to quiet the storm brewing in my chest as I drove through the familiar streets of the town I once called home. My hands gripped the wheel tightly, knuckles pale. I should’ve said no. I should’ve stayed in a hotel or skipped this visit altogether. But the truth? I wanted to see her. Alina. My first love. My greatest regret. The reason I spent so many nights lying awake, staring at the ceiling, wondering what if. What if I dared to confess my feelings to her then? Will we still be together now? What if I wasn't such a pissy then? It’s been seven years since I left this town. Seven years since I walked away because I couldn’t stand to watch the woman I loved become someone else’s bride, my best friend’s bride. Daniel had always known I had feelings for her. We were all friends back in college me, him, and Alina. He knew. And still, he asked her out. And she said yes. They got married right after graduation, while I packed my bags and left for the city, needing distance, needing distraction. I built a life there—good job, success, respect. But not a day passed without the thought of her slipping through the cracks. Now here I am, back in town for a weekend visit. Daniel insisted I stay with him and Alina instead of booking a hotel. And like a fool, I agreed. Maybe a part of me hoped to see anything to give me closure. Maybe if I can see how happy she is with Daniel, my heart can finally let her go. I pulled up to the house. Daniel’s childhood home. It looked older than I remembered, faded paint, cracked porch steps, the weight of time pressing down on the walls. Fitting, really. Some things change. Some things just wear down. Daniel stepped out onto the porch to greet me. He looked older and tired in a way that life shouldn’t make a man look at our age. We exchanged the usual greetings, the kind between men who used to be close but now speak more out of obligation than bond. He showed me to the guest room, said I should freshen up, and mentioned lunch was ready. My heart tightened. Lunch meant I’d see her. As we walked into the dining room, Daniel turned his head toward the kitchen and called out for Alina to bring the food. The way he said it, cold, like a command, sat wrong with me. There was no warmth in his voice, no affection. Then I smelled her before I saw her. Lavender. Fresh linen. Warm bread. God, she still smelled like home. She walked in carrying a tray of food, and for a second, I forgot how to breathe. Her hair was longer now, pulled back in a messy bun. She still moved with the same quiet grace that made my heart stutter years ago. But her eyes, her eyes told a different story. They used to shine. Now, they looked tired, haunted as if life had chipped away at her light. “Jason,” she said with a soft smile. “It’s so good to see you after all these years.” I stood up quickly and stepped forward, pulling her into a hug before I could stop myself. She was warm. Real. Her scent clung to me, and I had to close my eyes just to stop myself from doing something stupid. Get a grip, Jason. I forced myself to let her go and pulled out a chair for her. She blushed faintly as she sat, and I swear, my heart flipped. Lunch passed in a blur of awkward conversation and old memories. I told them about my job—how I’d climbed my way up to CFO at a major tech firm. Daniel made some snide comment, something about city boys and padded salaries, but I let it slide. I wasn’t here for him. Alina laughed at some of my stories. The sound was soft, but it didn’t reach her eyes. That darkness lingered there, like a bruise that never healed. After the meal, Daniel stayed glued to his phone, scrolling and muttering to himself. Alina stood and began clearing the table alone. That didn’t sit right with me. “I’ll help,” I said, already rising to my feet. She glanced at me, surprised. “Oh, you don’t have to—” “I want to.” Daniel didn’t even look up. I followed her into the kitchen, grabbing plates from the table as my chest ached with a mix of guilt, longing, and something dangerously close to hope. She was still the same Alina. But everything else had changed.Suara napas Elang yang memburu dan bau menyengat dari cairan kimia itu memenuhi ruang lab yang pengap. Aku bisa merasakan tubuh Elang yang bergetar hebat di pelukanku. Dia meringis, giginya gemeletuk menahan perih yang pasti luar biasa di punggungnya."Elang... kamu bodoh! Kenapa harus ngelakuin ini?!" tangisku pecah. Aku mencoba melihat punggungnya, tapi dia malah semakin mengeratkan pelukannya, seolah-olah jika dia lepas sedikit saja, Ericka akan kembali menyerangku.Ericka berdiri mematung. Botol kosong di tangannya jatuh ke lantai, menimbulkan bunyi dentang nyaring yang memecah keheningan. Wajah angkuhnya luntur, berganti dengan ekspresi pucat pasi. Dia tidak menyangka Elang akan senekat itu."Elang... aku... aku nggak maksud nyiram kamu! Harusnya dia! Harusnya cewek kegatelan ini!" teriak Ericka histeris, menunjukku dengan telunjuk yang gemetar."Pergi, Ericka," desis Elang. Suaranya rendah, penuh tekanan, dan sangat dingin. "Sebelum gue lupa kalau lo itu perempuan, pergi dari si
Aku duduk sendiri di taman belakang sekolah, membiarkan angin sore yang dingin menampar wajahku. Hati ini terasa berat, bahkan napas pun terasa sesak. Sejak perkelahian Arga dan Elang tadi, pikiranku makin kacau. Bukan hanya tentang mereka berdua, tapi juga tentang Viona. "Apakah Arga sudah tahu?" Aku meremas rok seragamku erat-erat. "Tentang aborsi itu. Tentang rahasia besar Viona yang mungkin bisa menghancurkan perasaanya." Aku menggigit bibirku. Seandainya saja aku tidak membuka map dari Ericka... Seandainya saja aku tidak tahu aib itu, mungkin aku bisa hidup sedikit lebih tenang. Tapi sekarang? Aku merasa seperti duduk di atas bom waktu. Kalau Arga tahu, apa yang akan dia lakukan? Marah? Kecewa? Merasa bersalah karena pernah menyayangi Viona? Atau justru membenciku karena merahasiakan fakta ini. Apakah Viona sengaja menutupi semuanya? Dan itu sebabnya dulu dia tiba-tiba menghilang, memutuskan semua hubungan dengan Arga tanpa alasan jelas? Aku menggenggam ponselku, tergoda
Semua konsep sudah ditempel di mading, peserta sudah terdaftar, bahkan pembagian tugas panitia pun rampung. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, aku dan Arga bisa kembali fokus ke pelajaran. Hari ini, suasana sekolah lebih tenang. Hanya derap kaki siswa dan suara lonceng yang sesekali memecah kesunyian. Saat aku baru saja meletakkan bukuku di meja, seseorang menarik kursiku dari belakang dengan heboh. "Heyy... akhirnya aku bisa ngobrol sama kamu juga!" seru Silvia, sahabatku, sambil menjatuhkan dirinya ke kursi di sampingku. Aku tertawa kecil, merasa hangat melihatnya. "Kayaknya kamu sibuk banget ya akhir-akhir ini. Pentas lah, rapat lah... pacaran lah." Silvia menyenggolku dengan sikunya, menggoda. Aku memutar mataku pura-pura malas. "Pacaran apaan, Sil? Capek tau urusan sama bocah itu." Sambil menunjuk Arga yang asyik membaca di pojok kelas, tampak sangat... serius. Atau setidaknya pura-pura serius. Silvia tertawa geli. "Tapi kalian lucu tau, kayak kucing s
Malam itu, aku duduk di ruang tamu rumah kami, mengutak-atik ponsel tanpa fokus. Arga keluar dari ruang belajarnya, menguap sambil menyeret langkah mendekat. "Kenapa lemes gitu?" tanyanya curiga, duduk di sampingku. Aku menoleh sebentar, lalu mengembuskan napas. "Arga... ada masalah," gumamku. Arga mengernyit. "Masalah apa? Jangan bilang berantem sama Viona lagi?" Aku menggigit bibir bawahku, ragu-ragu. "Ada rekaman," kataku akhirnya. "Ericka punya rekaman... tentang aku dan Viona." Arga langsung duduk tegak, matanya membulat. "Rekaman apa?" Aku menunduk. "Dia tahu soal... soal kita," bisikku nyaris tak terdengar. Suasana langsung membeku. Arga mengusap wajahnya kasar. "Sialan." "Aku harus cari cara supaya Ericka hapus rekaman itu," lanjutku, mulai panik. "Kalau nggak... semua orang bakal tahu." Arga berpikir keras, ekspresi wajahnya serius. "Kamu mau aku yang urus?" Aku menggeleng cepat. "Kalau kamu ikut campur, malah makin mencurigakan," kataku. "Aku yang harus beres
Kami terbangun di pagi hari dengan suasana yang lebih ceria dan hangat dari biasanya. Aku merasa seakan semua yang terjadi kemarin malam menghapus kebekuan yang selama ini ada di antara kami.Arga bangun lebih dulu, tampak sedikit bingung sejenak, sebelum akhirnya matanya bertemu denganku. Ada seny
Makan malam keluarga pun tiba, rumah yang biasanya sepi karena hanya ada aku dan Arga yang berjauhan, kini lebih ramai. Keluarga besar kami berkumpul, meski hanya orang tuaku yang duduk di meja makan, suasananya tetap terasa lebih hidup. Suasana canggung ini terasa semakin nyata saat Ibu mulai mem
Aku sedang asyik membaca buku di bangkuku, mencoba mengabaikan dunia luar yang terus-menerus mengacaukan pikiranku. Tiba-tiba, suara langkah kaki mendekat. Aku mendongak, dan di sana berdiri Arga, dengan ekspresi yang sulit kuartikan."Rilla," panggilnya, suaranya terdengar serius.Aku mengerutkan
Berita tentang aku dan Arga yang menjalin hubungan menjadi topik hangat di sekolah. Setiap lorong yang kulewati, bisik-bisik itu tak pernah berhenti. Ada yang tertawa geli, ada yang penasaran, dan ada pula yang terlihat iri.Aku mencoba mengabaikannya, meski rasanya sulit untuk tidak memikirkan bag












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu