Here are 72 novels related to shī for you to read online. Generally, shī or similar novel stories can be found in various book genres such as Romansa, Fantasi and Rumah Tangga. Start your reading from SHANIA at GoodNovel!
ucap Shania tertawa senewen.
"Aku hanya memberimu nasihat ringan sebagai tanda cintaku untukmu, Sayang," Ceci berkata sembari beranjak dari tempat duduknya. "Kapanpun kamu merasa hatimu mulai condong pada seseorang, lebih baik jangan mengelak dari perasaan itu. Aku pergi dulu! Cepatlah pulang ke rumah!" Cecilia mengecup pipi sahabatnya dan berlalu meninggalkannya. Suara langkah sepatunya terdengar semakin menjauh, dan Shania diam tercenung memikirkan bekas-bekas ucapan Ceci di hati dan pikirannya.
***
"Ssttt–"
Oh, sial.
Pasti ada sesuatu.
"K, kenapa?"
Hidung Calum mengendus sekitar, matanya makin menyipit. Kemudian bisa didengar jelas suara umpatan halus si alpha. Tak henti lontarkan kata kasar sebagai bentuk pengutaraan.
"Cal–"
Happy reading
BRAKK!!!!!!
Sheila menutup pintu kamarnya kencang, pertikaian antara dirinya dengan Kesya benar-benar mengusik jiwanya. Kehadiran Kesya sungguh ancaman besar untuknya, dia tidak rela Sean jatuh ke pelukan wanita itu. Membayangkan saja darahnya sudah mendidih, Kesya memang bukan wanita sembarangan, dia jauh lebih licin dari ular. Wanita itu punya lidah lembut sekaligus tajam, setiap perkataan yang keluar dari mulut Keysa berhasil membungkamnya.
Sharon segera menyodorkan air mineral botol yang ia beli sebelum bel masuk.
“LO INGET BU SARAH?” Teriak Gideon spontan.
Sharon reflek menutup mulut Gideon karena sungguh suara Gideon hampir menyaingi bunyi microphon bapak kepala sekolah.
Sharon tak kalah kaget sebenarnya. “Lo… kok bisa ingat sama Bu Sarah???”
“Gak tau… sumpah gue kira gue doang yang inget bu Sarah.” Jawab Sharon.
November pada bulan di mana aku menduduki kelas 3 SMP.
Namaku Olin Arda Efrosin. Bisa dipanggil Olin, Arda, atau bahkan biasanya orang rumah menyebutku dengan panggilan sinchan. Padahal aku tidak memiliki alis hitam setebal ulat bulu seperti milik karakter kartun sinchan itu. Mungkin karena tubuh pendek dan sangat menyukai warna merah, orang rumah menyamakan aku dengan karakter film kartun sinchan. Tidak apa lah, setidaknya mereka tidak menyebutku dengan sesuatu yang lebih buruk dan menyakitkan dari pada itu.
tanyanya tanpa menoleh dari berkas di tangannya.
“Shalat,” jawabnya singkat.
“Di mana?” tanyanya lagi.
“Di atas, kenapa, sih?” kesal dengan sahabatnya Zayn pun balik bertanya.
“Ga apa,” cetus Varo masih serius dengan berkas di tangannya.
“Ga jelas, lo!” kesal Zayn, ia pun langsung keluar ruangan tersebut.