Antara Janji dan Pengkhianatan
Sahabatku yang patah hati, mabuk-mabukan di bar. Dia lalu meneleponku untuk menjemputnya pulang.
Begitu sampai di area sofa di bar, aku justru melihat sahabatku merangkul leher tunanganku sambil bermanja-manja.
"Ivan, aku sudah menunggumu selama tujuh tahun. Apa kamu belum bosan juga main-main sama Dinda?"
Pria yang dahulu bersumpah akan memberiku pernikahan termegah abad ini, saat ini justru memeluk sahabat terdekatku dengan tersenyum penuh kasih sayang.
Kemudian, Ivan menghabiskan banyak uang untuk membeli berita utama media di seluruh kota, demi melamarku di depan publik.
Di depan kamera siaran langsung, aku tersenyum tenang sambil mengangkat tangan kananku yang dihiasi cincin berlian sepuluh karat.
"Maaf Pak Ivan, aku sudah bosan bermain-main denganmu. Aku sudah menikah dengan orang lain."