Bulan di Darah Awan
salah satu mahasiswa senior itu segera meminta maaf.
“Kalian beruntung aku yang lewat. Jika kakakku atau asisten itu, aku jamin praktikum kalian nol semester ini,” tegur perempuan yang mereka sebut Smile itu. Perempuan itu lalu menyapaku.
“Zihan kan?” tanya perempuan itu. Aku tampak terkejut.
“Benar kak,” jawabku sedikit terkejut. Kak Smile tersenyum.
“Saat aku mendengarnya, aku tidak percaya. Tetapi, aku percaya asisten itu bukan tipe orang yang memilih sembarang orang,” komentarnya yang membuatku penasaran.
Hot Chapters